Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Tiga puluh lima


__ADS_3

***


Pikiran Reva yang sudah berbelit memikirkan seluruh masalah nya buyar begitu saja karna pria di sebelah nya ini. Reva melotot tajam pada Alden.  Bukan marah,  Alden malah membalas nya dengan ciuman hangat di pelipis Reva.


Deg.


Deguban di hati kedua insan ini sudah tak beraturan lagi.


Alden mmemundurkan wajah nya,  rasa ada yang hilang bagi Reva. Alden menatap bibir tipis Reva,  ia pun juga mendarat kan ciuman nya di sana. Dengan Angin malam yang menerpa, dan bintang bercahaya di langit yang menemani malam mereka,  saat itu Waktu bagai terhenti bagi kedua nya.


"Apa kau membenci bangsa Netcher? " pertanyaan Frontal itu mengagetkan Alden.  Ia langsung memberi respon yang aneh.


"Apa maksud mu? " tanya Alden balik. Ia merasa bingung dengan permaisuri nya yang tiba - tiba menanyakan hal aneh ini.


"Aku hanya bertanya,  Apa kau membenci bangsa Netcher?  Kenapa bangsa Rambell dan ksatria ingin memusnahkan bangsa Netcher? "


Alden menghembuskan napas nya kasar.  Sebenarnya ia sangat membenci,  saat suasana sudah begitu mendukung.  Tiba - tiba rusak karna pertanyaan Reva.


"Bangsa Ksatria dan Bangsa Rambell ingin menghabisi bangsa Netcher,  karna bangsa Netcher kuat.  Mereka takut jika bangsa Netcher nantinya akan menguasai dunia.  Untuk itu lah mereka memusnah kan nya. hanya untuk mengantisipasi "


hanya untuk mengantisipasi katanya? mereka memusnahkan banyak nyawa yang tak bersalah? kejam!


Batin Reva, yah cukup membatin. Jika dia melontarkan nya maka akan menyulut kecurigaan Alden. Bisa - bisa Reva mati sebelum semuanya tuntas.


"Apa mereka sudah musnah? "


"Mereka belum musnah sayang. Aku tak kan menyembunyikan apapun dari mu.  Dengar,  ada satu malam di mana aku di serang oleh bangsa Netcher"


"Apa?!  Di serang?!  Apa kau terluka?! " tanya Reva yang sudah di selimuti rasa panik. Alden menarik sudut bibir nya.  Merasa ada kesempatan di saat ini.

__ADS_1


"Yah,  aku terluka,  lihat lah garis tipis di kening ku.  Itu bekas luka yang bangsa Netcher tinggal kan"


Alden menunjuk garis tipis di kening nya setelah ia melepas topeng nya,  Reva juga ikut fokus melihat nya,  ia perlu mendongak untuk melihat kening Alden.


Tanpa aba - aba lagi.  Alden langsung mendarat kan ciuman hangat nya lagi.  Yang kali ini tak dapat Reva tolak.


"Kau!  Kurang ajar!  Beraninya kau memanfaat kan ku! " pekik Reva menyentuh bibir nya.


"Memanfaat kan apa?  Kita berdua menikmatinya" sahut nya santai.


"Tutup mulut mu!  Kau tidak sadar betapa menjijikan nya cara bicara mu itu! "


"yah aku memang menjijikan,  katakan hal sesuka mu. Asal kau yang mengatakan nya, aku tak keberatan "


"Sudah lah,  aku tak suka membahas hal yang tak berguna. Sekarang katakan padaku,  dimana bangsa Netcher berada? "


"Kalian ini lemah sekali!  Memusnahkan suatu bangsa karna mereka di anggap sebagai ancaman!  Dasar!  Humph! " pekik Reva medorong tubuh kekar Alden menjauh dari nya.


"Sudah lah.  Jangan di bahas, aku lebih suka membahas hal ini dengan Devan dan Ferry. Aku tak suka membahas ini dengan mu,  aku lebih suka kita membahas,  berapa banyak anak yang akan kita miliki"


Reva hanya memanyun kan mulut nya. Menoleh ke arah berlwanan dari wajah Alden,  layak nya anak kecil yang sedang marah. Menandakan ia sedang kesal dengan perbuatan Alden.


"Marah padaku? " tanya Alden menarik dagu Reva lembut,  memaksa Reva untuk bertatap wajah dengan Alden.


Reva diam,  ia tak ingin menggubris sedikit pun perkataan Alden kali ini. Melihat sikap permaisuri tercinta nya,  yang tak lebih dari anak berusia lima tahun ini, membuat nya tertawa geli sendiri.


"Sayang.. Ahhh baiklah aku menyerah.  Bisa kita berbaikan?  Aku bisa mati jika tidak tidur seranjang dengan mu" rayu Alden.  Reva masih tak ingin menggubris nya.


Tingkat kesabaran seorang Alden itu hanya sedikit.  Tanpa Membuang waktu lagi,  Alden sudah menggendong Reva ala bridal style untuk masuk ke tenda mereka.  Reva diam,  ia tak meronta.  Dia benar - benar kesal akan Alden.

__ADS_1


Tak tahu kenapa, Reva merasakan sakit hati saat Alden bilang akan membantai habis bangsa Netcher. padahal dia sendiri tak memiliki hubungan apapun dengan bangsa Netcher, kan?


"masih marah sayang? " tanya Alden memeluk Reva dari belakang.  Kali ini,  topeng nya sudah ia buka sepenuh nya.


Reva masih diam,  ia masih memunggungi suami nya yang sedari tadi memainkan rambut nya.


"Ya ampun.  Kenapa kau marah nya lama sekali" keluh Alden lagi yang sudah melingkarkan lengan kekar nya di perut Reva. Reva diam tak menggubris, lebih baik ia memejam kan mata nya.


***


Mentari sudah naik,  memancarkan cahaya kuning nya,  menandakan keceriaan hari yang akan di mulai.


Sama di pagi sebelum nya.  Reva harus berjuang keras mengangkat lengan kekar suami nya yang melilit perut nya dengan sempurna.


Alden yang merasa terganggu tidur nya akibat ulah Reva semakin memeluk erat tubuh mungil Reva,  wajah nya ia selipkan di sela - sela gerai Rambut wangi Reva.


"Diam,  dan kembali tidur lagi! " lirih Alden,  semakin mendekap erat Reva.


"Kau ini seorang pangeran!  Bagaimana mungkin bersikap sesuka hati seperti ini! Ini sudah pagi! Ayo bangun" bentak Reva masih sama kuat berusaha melepas lilitan Alden.


"Karna aku adalah pangeran lah,  makanya bersikap sesuka hati. Dan karna pangeran pula lah,  bangun nya itu kapan saja"


Reva mendengus napas kasar.  Menurut nya berbicara dan mendengarkan orang yang setengah sadar adalah hal yang bodoh. Ia akhirnya menyerah, memilih untuk mengikuti Alden,  tidur sampai siang hari.


***


Ayooo tinggalkan jejak yah.. Jangan lupa,  like,  komen,  and vote yah...


Story by Rini Ir

__ADS_1


__ADS_2