Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Tujuh Puluh Delapan


__ADS_3

***


Reyza segera menghampiri adik kesayangan nya yang sudah terlihat sangat lemah. Begitu juga dengan Ferry,  yang langsung menghampiri Alden yang terbaring lemah.


"Pangeran Alden... Sudah tiada


..." lirih Ferry,  saat ia tak menemukan lagi,  adanya denyut nadi di tubuh Alden.


"Reva... " lirih Reyza. Air matanya mentes. Reyza tak menemukan,  adanya tanda - tanda kehidupan dari Tubuh Reva.


Langit yang mendung tiba - tiba cerah. Namun apala arti cerah nya itu. Jika, Alden dan Reva sudah tidak bernapas lagi.


"Reva... Reva... Revaaa!!!! " Teriak Reyza. Ia memeluk erat adik nya. Akh, maksudnya tubuh tanpa nyawa milik adik nya itu.


Reyza gila, dia frustasi. Semuanya pergi, termasuk adik kesayangan nya itu.


Tes Tes


Kai tak kuasa mengatakan apapun. Hanya matanya yang terus mengalirkan air itu. Kai yang hebat, tak kuasa menahan jatuh nya air mata itu.


Bukhhh

__ADS_1


Aila terduduk lesu. Pandangan nya hampa. Melihat tubuh Nona nya yang sudah terbujur kaku. Ia tak memiliki kekuatan lagi.


Kenangan - kenangan bersama Reva berbondong bondong mampir ke kepala Aila. Menyisahkan hati yang terluka sangat dalam.


Begitu juga Ferry dan Devan. Kesedihan membara hati mereka. Yang dapat mereka lakukan kini adalah diam, diam dan tetap diam.


Tik Tik Tik


Mungkin Tuhan Tau, mereka tengah berduka saat ini. Langit yang awal nya begitu cerah mendadak gelap. Rintik hujan mulai menyapa kering nya tanah bumi. Perlahan menjadi deras.


"Reyza... Jangan menangis, Reva akan baik - baik saja. " seru seseorang, memeluk Reyza dari belakang. Ada rasa yang aneh di hati pria itu. Reyza tiba - tiba merasa sangat tenang mendengar suara itu. Tubuh nya kembali hangat karna pelukan wanita itu.


Reyza tak perduli siapa wanita itu. Pria itu hanya menikmati rasa tenang nya. Sudah entah berapa lama Reyza tak lagi merasakan ketenangan.


"Bunda Arriva... " lirih Reyza, menatap nanar perempuan bercahaya biru yang berdiri paling kanan.


"Tetap di tempat Reyza. Ini tugas ibu, untuk mendampingi Dewi Tariva, Dewi kelautan kita. " sahut perempuan itu. Yah dialah Arriva Arthaft. Ibu kandung Reva.


"Selir Nay--la? Anda juga disini?! " Tanya Ferry terbata. Ferry mengenali nya, bibi baik hati yang selalu ramah padanya. Dan dengan senang hati memungut nya dari pasar perbudakan itu. Bagaimana mungkin Ferry melupakan nya?


Ia ingat jelas wanita yang kini berdiri di paling kiri, dengan cahaya merah nya. Yah, dialah Selir Nayla ibu kandung Alden.

__ADS_1


"Dewi Tarriva, boleh kah saya melihat putra saya. " Nayla menunduk sopan, berbicara dengan nada lemah kepada Wanita cantik yang berada di tengah itu. Wanita yang bercahaya putih. Ia sangat cantik dan juga elegan.


"Bukan hanya Melihat, Kau Aku izinkan kembali menghidupkan nya dengan Kristal Merah yang kau jaga. Berdoalah semoga Tuhan merestui niat mu. " sahut Dewi Tarriva Anggun.


"Terima kasih. Terima kasih Dewi. "


Nayla segera menghampiri putra kesayangan nya itu. Ia membelai wajah anak kecil yang dulu ia tinggalkan.


Nayla perlahan mengeluarkan Kristal merah itu dari hati nya. Perlahan tapi pasti, kristal itu akhirnya masuk ke dalam tubuh Alden.


Tampak reaksi aneh dari tubuh Alden. Namun, hasil nya bagus. Alden perlahan membuka matanya. Wajah pertama yang di tangkap nya adalah, wajah yang selalu ada dalam benak nya. Ibu nya tersayang. Ingin Alden berbicara, namun tidak bisa. Ia tak kuasa untuk berbicara.


"Jangan bicara. Biarkan ibu saja yang berbicara. Satu hal yang ingin kau tanyakan pada ibu adalah. Kenapa Ibu pergi dulu, yah kan? Kenapa ibu begitu tega meninggalkan mu sendirian di sana? " seru Nayla, Air mata sudah mengalir begitu deras dari matanya. Tangan nya masih setia menggenggam erat tangan anak nya.


"Alden, Dulu kau bertanya pada ibu. Kemana ibu pergi, kali ini ibu akan menjawab nya. Ibu pergi, melayani Dewi Tarriva. Ibu bersemedi, di Gunung Terlarang. Menjaga Kristal Merah selama bertahun - tahun. Maaf kan ibu meninggal kan mu. Ini tanggung jawab ibu. " lanjut nya lagi, mencoba menyeka air matanya beberapa kali. Bagai keran yang pecah, Air mata itu terus mengalir begitu saja.


"Sekarang ibu sangat bahagia. Ibu tidak menyesal mengabdikan hidup ibu untuk menjaga kristal merah ini. Setidak nya karna kristal ini, Kau bisa kembali hidup Alden. Hiks... Ibu bahagia"


"Dewi Tarriva, Apakah Kristal biru di tubuh ku bia kembali menghidupkan anak ku, Reva? " tanya Arriva. Menatap penuh harap ke Arah Dewi Lautan itu.


"Tidak bisa. Kristal biru tak kan mempan bagi tubuh Reva. Tapi, Kristal biru mu bisa kau gunakan untuk membangkitkan Anak mu Ryuza"

__ADS_1


***


__ADS_2