Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Empat Puluh Tiga


__ADS_3

***


"Alden cukup! Kenapa kau terus memainkan rambut ku! Aku ingin tidur! Tidak kah kau memiliki Pekerjaan lain?! " pekik Reva kesal, bagaimana tidak kesal jika suaminya ini sedari tadi mengganggu nya. Terkadang memainkan rambutny, juga mendaratkan beberapa kali ciuman di pipi Reva, dan menggigit telinga nya. Belum lagi bisikan - bisikan gila Alden yang diterima nya.


"Aku Memang tidak ada kerjaan lain.. makanya mengganggu mu" sahut Alden santai yang masih setia memainkan rambut Reva.


"Kenapa kau suka sekali mengganggu ku?! "


"Karna mengganggu mu itu menyenangkan. Aku akan berhenti mengganggu mu, jika kau setuju untuk memberikan Dafa adik"


PLAKKK


Reva memutar badan nya yang tadi membelakangi suami nya, menampar pelan pipi kiri suaminya itu.


"Diam dan Tidur lah. Jika tidak bisa Tidur, pergilah ke tempat Ferry atau Devan. Pikirkan apa maksud dari kepulan Asap hitam itu! " sentak Reva yang memang sudah jengah dengan perilaku Suami nya yang seperti Anak kecil ini.


"Ahhh, itu tidak menyenangkan. Aku lebih suka berdiskusi dengan mu. Oh yah. Aku sudah bertanya pada Dafa, dan kami sudah memikirkan nya. Dafa ingin memiliki tiga orang adik bagaimana? "


"Apa Aku perlu merobek mulut mu itu? "


"Tak masalah, asal kita sudah memiliki anak"


Reva menghela napas panjang, ia tak ingin lagi menggubris celotehan Alden yang menurut nya tidak berguna.

__ADS_1


Apa aku harus memberi tahu Alden soal tanda Rambell palsu itu?


Batin Reva bingung. Dirinya selalu terbiasa menyelesaikan masalah sendirian. Meski pun ada orang yang akan membantu nya itu adalah Guru nya. Bukan orang lain.


"Tanda Rambell di lengan pria itu palsu. Letak nya salah, dan warna hitam nya juga terlalu pekat" ucap Alden mulai serius, kini kegundahan Reva telah sirna.


"Apa maksud sebenarnya? " tamya Reva, menatap intens Alden.


"Bersabar lah, perlahan ini semua akan terungkap" sahut Alden mencium pelipis Reva, berharap ciuman nya memberikan Reva ketenangan.


"Mungkinkah ini ada hubungannya dengan semua Desa yang hancur? Desa yang hancur parah malah Desa yang di dekat perbatasan, yang seharus Nya di lindungi oleh prajurit perbatasan. Dan Desa yang kelihatan tak parah adalah Desa pertama, yang malah berjauhan dari Perbatasan. Mungkinkah di Perbatasan ini--?!! " pekik Reva, ia ingin melanjutkan ucapan nya, namun mulut nya di tutup oleh telapak tangan milik Alden.


"Shhttt.. Sayang, diam lah. Mari kita berpura - pura bodoh beberapa hari ini. Sampai pemeran utama antagonis nya muncul" sahut Alden menyeringai menyeram kan.


Batin Reva, dirinya termenung bingung akan banyak hal. Kini dia melihat sisi lain suaminya.


"Apa kau akan membunuh setiap orang dari Bangsa Netcher jika melihat nya" tanya Reva tiba - tiba. Entah lah apa yang merasuki Reva, dirinya sendiri bingung kenapa menanyakan pertanyaan ini.


"Aku juga tidak tau, yang jelas aku tau bahwa Bangsa Netcher harus di musnahkan karna kekuatan mereka. Dan bangsa Rambell harus di ratakan dengan tanah, agar bangsa Ksatria tetap memegang kendali kerajaan Flawyard" sahut Alden.


"Kenapa tiba - tiba menanyakan hal ini?" tanya Alden lagi, mengernyitkan dahi nya heran. Bagaimana tidak heran, jika permaisuri nya beralih topik secepat ini.


"Aku memiliki teman masa kecil berbangsa Netcher. Akan kah kau membunuh nya juga?"

__ADS_1


"Tidak akan terjadi! Aku tak kan membunuh siapapun yang kau sayangi. Aku berjanji, Oh yah dengan Syarat orang itu harus bersedia melepaskan kekuatan nya, dan bersumpah di pedang Awan legenda kerajaan Flawyard. Bahwa dia akan tunduk selamanya dengan bangsa Ksatria"


"Jadi, Setelah kita kembali ke istana Flawyard. Maka Aruna juga harus berjanji seperti itu? "


"Benar sayang. Mereka yang harus hidup dari bangsa lain, harus tunduk dengan bangsa kita. Bangsa Ksatria" sahut Alden lembut, mendaratkan sebuah kecupan hangat di kepala Reva.


Reva diam, entah lah rasanya hati nya benar - benar sakit. Tiba - tiba dia ingin menangis saat mendengr penuturan Alden ini.


"Pangeran Alden! Maaf mengganggu, bisakah kita berdiskusi sebentar. Saya ingin melaporkan suatu hal" Seru Ferry dari luar jendela kamar Alden dan Reva.


"Ya ampun, pengacau. Baiklah sayang, Aku pergi dulu. Tetap di sini dan jangan kemanapun. Aku akan segera kembali, tidur lah dengan manis" pesan Alden, yang bergegas mengenakan jubah nya dan pergi melesat begitu saja.


Reva diam membeku, rasa sakit di hati nya terus menambah. Sesak di dada nya terus berlangsung. Hingga Akhir nya bulir hangat itu jatuh dari mata indah nya.


"Apa aku menangis? Kenapa aku menangis? Kenapa sangat sakit rasanya saat Alden bilang ingin memusnahkan Bangsa Netcher? Apa karna Kai, Dafa dan Aila dari bangsa Netcher? Tapi, Aku bukan tipe orang yang mudah menangis! Bukan kah, Aku tak memiliki hubungan apapun dengan Dunia ini? Apalagi bangsa Netcher? Aku hanya terdampar di sini!"


Gumam nya, melihat tetesan air mata yang ada di jari jemari manis nya. Semakin lama semakin sakit sesak di dada nya. Hati nya bagai tertusuk jutaan jarum kecil.


***


Kenapa Like dan Komen sepi yah?


Ahhh semangat berkurang...

__ADS_1


Dan Vote juga sepi


__ADS_2