
***
"aih.... Akhirnya aku bisa lepas dari kerumunan itu" ucap Reva dengan suara ringan nya. Helaan napasnya panjang, seakan - akan melambangkan begitu banyak masalah.
"oh... Seperti nya kita memang berjodoh. Iyah kan, putri Reva? " suara itu berasal dari pria yang paling di benci nya.
Reva melirik ke kanan, terlihat pria tampan berjalan menghampirinya.
"hormat adik pada kakak kedua" tunduk Reva melambangkan tanda hormatnya.
"kenapa begini?? Kenapa harus seperti ini? Reva, kau harusnya memanggilku dengan sebutan suami ku. Bukan kakak kedua!! Kenapa begini??!! "
"tolong pangeran menjaga sikap, saat ini aku adalah istri pangeran ke empat. Dan adik ipar mu! "
"tidak! Kau adalah permaisuri ku! Gadis yang kucintai!!"
"pangeran saat ini sedang lelah, saya pamit lebih dulu" ucap Reva melenggang pergi.
Rambut Reva terkibas lembut karna angin. Pangeran Zefan terkejut. Matanya terbelalak tak percaya, dengan apa yang baru saja di lihat nya. Sebuah tanda merah di leher tepat berada di bawah telinga.
"Apa hubungan mu dan dia memang sudah sejauh itu??!! " teriak pangeran Zefan, seketika langkah Reva terhenti.
"apa maksud pangeran?? "
"tanda merah di leher mu itu, yang kau tutupi dengan rambut mu. Apa kau tidak jijik dengan orang seperti dia, orang lumpuh yang tubuhnya di penuhi dengan luka bakar!! "
"aishh... Angin sialan!! Ha... Kalau sudah ketahuan, untuk apa di tutupi. Langsung bakar saja!!"
"Akh... Padahal aku sudah mencoba menutupi nya. Mata pangeran Zefan memang tajam yah~ apa yang salah? kami suami istri kan?? " Reva meninggalkan pangeran Zefan begitu saja.
Zefan, matanya masih melekat akurat ke arah punggung Reva, merutuki nasib nya. Namun, banyak juga cacian, makian, dan sejenisnya ia lontarkan pada Reva dalam hatinya.
"akh... Ada pangeran Zefan ternyata.. Hormat saya, putri tiri perdana mentri Riana" tiba-tiba seorang perempuan datang dengan tatapan penuh maksud.
"yah~ pergilah" balasnya dengan enggan, bahkan menoleh dan menatap Riana dia juga tak mau.
__ADS_1
"maafkan kelancangan hamba pangeran. Tapi apakah pangeran masih mencintai saudari tiri saya, Reva?? "
Perkataan Riana kali ini, sukses mendapat respon berupa tatapan dari Zefan. Meski, hanya tatapan sinis dan meremehkan.
"apa maksudmu?? "
"ini caranya.. "
Beberapa saat kemudian, Riana selesai berbisik dengan Zefan. Seketika, wajah sayu nya terganti dengan senyuman menyeringai jahat. Tentunya dengan niat dan rencana jahat, di hati dan otak nya.
***
BRUKKK!!
seorang anak kecil menabrak Reva, bocah laki - laki itu terlihat imut dan menggemaskan. Namun, sayangnya itu semua tertutupi dengan ekspresi datar dan sayunya. Aura suram dan kegelapan terpancar jelas dari anak itu. Hawa dan aroma kegelapan sangat lekat pada dirinya. Saat ia menabrak Reva, kata maaf pun tak terucap dari bibirnya. Bahkan, bocah itu malah menatap sinis Reva.
"kau jatuh, apa terluka? Sakit kah? " tanya Reva beruntun, dengan mengulum senyuman manisnya. Hawa yang begitu hangat terpancar dari nya. Emosi yang disebabkan Zefan sirna begitu Reva melihat bocah ini. Tangan Reva diayunkan lembut, ingin dia membantu anak itu. Namun, malah di tepis kasar olehnya.
"Minggir!! Jangan halangi jalan ku!! " tepisnya dengan nada kasar yang tinggi.
"cukup. Seira dia hanya anak kecil, jangan berlebihan" tukas Reva membungkam bibir tipis Seira. "kau tak apa kan, sayang? " Seraya memegang kepala anak itu, awalnya bocah itu ingin menepis. namun, tak tahu kenapa niat nya di urungkan nya. Di biarkan nya tepukan lembut Reva di kepala nya, sambil sesekali Reva mengusaknya mengakibatkan rambutnya acak. Ada rasa senang terlihat di wajah bocah itu. Sudut bibirnya tertarik, sekilas senyuman tipis terlintas di sana.
"Kurang ajar!! Bocah sialan!! Berani nya kau melanggar perintah ku dan kabur!! " teriak seorang pelayan yang berlarian.
Refleks, Bocah itu tersentak dan ingin lari, namun Reva menahan nya. Reva tersenyum hangat pada nya.
"Kau!! Berikan bocah itu pada ku!! Tak akan ku ampuni dia!! " bentak pelayan itu sangat kasar.
"Seira, tampar dia!! " perintah Reva yang sifatnya mutlak. Tanpa Ba-bi-bu lagi, satu tamparan keras Seira sukses membuat pelayan itu jatuh tersungkur.
"Siapa kau?! Aku ini pelayan tingkat dua. Ber--"
"nyonya ku adalah istri pangeran ke empat. Apa masih bisa dibandingkan dengan mu??!!" senggak Seira.
Apalagi? Pelayan itu tentu saja terkejut dan langsung bersujud memohon ampun.
__ADS_1
"Berlutut di sini, hingga malam tiba. Kau boleh bangkit" tukas Reva menatap tajam wanita itu.
"Nyonya sangat baik, hanya memberi hukuman ringan untuk pelayan. Tapi, nyonya tahukah anda siapa bocah ini? Dia adalah anak haram putri tunggal raja yang bunuh diri"
Mata Seira terbelalak tak percaya. Jika memang bocah yang di temui nya kali ini adalah 'anak haram' itu. Maka, mereka akan tertimpa masalah besar.
"Nona, ini--"
"ayoo, ikut bibi" ajak Reva menggendong bocah berusia 4 tahun ini.
"nona, ingin kah anda mendengar cerita? "
"hmm.. Katakan lah"
"Dulu, saat Seira berusi 10 tahun. Seira mendengar cerita Raja Kerajaan Flawyard masa ini hanya memiliki satu orang putri. Putri Nadya Kertlan, Karna dia satu-satunya, Raja sangat memanjakan nya. Hingga suatu hari sang putri ingin di jodohkan dengan bangsawan setempat, lebih tepatnya putra sulung Jendral Aghart. Namun, Nadya menolaknya mentah - mentah, dengan dalih dia sudah mencintai orang lain. Raja terus memaksanya sampai satu hari di temukan fakta dirinya tengah mengandung, dan itu anak kekasihnya yang tidak lain hanyalah seorang kapten pasukan khusus. Raja amat sangat murka, ia ingin mengguggurkan anak itu. Beruntung nya Putri Nadya dan kekasihnya sudah lari lebih dulu. Namun beberapa bulan kemudian, Dia dan kekasihnya tertangkap. Satu hari setelah melahirkan anak ini, dia dan kekasihnya bunuh diri sebagai penebusan dosa. Dan hukuman nya akan di tanggung anaknya, 'anak haram' ini seumur hidupnya. Maka dari itu, dia tidak di sebutkan sebagai keluarga kerajaan, dan malah diasingkan di istana yang bekas terbakar ini. Karna saking murkanya sang Raja, dia bahkan melarang seluruh anggota istana untuk menemui 'anak haram' ini. Dia, harus menanggung semua dosa ayah dan ibunya"
Cerita Seira panjang lebar, jangan kan respon. Reva bahkan tidak melirik sedikit pun ke arah Seira, gadis itu hanya terus bermain dengan bocah nya di sepanjang jalan.
"Sayang, dimana kau tinggal. Katakan pada bibi??" pinta Reva tersenyum hangat, mengabaikan segala peringatan yang Seira katakan.
"bibi, tidak takut akan kena hukuman karna aku?? "tanya nya tertegun akan sikap Reva barusan. Reva sangat acuh akan cerita mengerikan pelayan nya. Dulu, saat orang lain mendengar cerita ini, bukan hanya menhindar mereka bahkan menghujat dan mencaci maki, seorang bocah yang di sebut 'anak haram' .
"tidak masalah, bibi akan menerima hukuman nya. Oh yah, boleh kah bibi bertanya satu hal. Apa kau sudah tau semua cerita ini?? "
"bahkan aku lah yang paling tau dengan jelas bi, bagaimana mereka begitu membenciku dan jijik padaku. Jika memang seperti itu, kenapa waktu itu tidak membiarkan aku mati saja. Kenapa harus menolong ku?? Oh yah.. Aku lupa, mereka membiarkan aku hidup untuk menanggung dosa dua orang menjijikan itu--"
"shhh.. Jangan berbicara seperti itu. Anak yang manis jangan berbicara kasar yah, nanti imut nya hilang" ucap Reva menjulurkan jari telunjuk nya untuk menutup mulut bocah ini. Seketika Reva risau, melihat bocah yang di gendongan nya ini memiliki mata yang penuh kebencian dan kesedihan yang mendalam. Di usianya yang semuda ini, harus menanggung beban seberat ini?? Tanpa Reva sadari, dia yang begitu tenang dan bisa mengendalikan emosinya, menjatuhkan bulir hangat dari mata indah nya. Menatap bocah ini, seakan menyayat hatinya.
"anak haram!! Apa yang kau katakan pada nyonya ku?!! "
PLAKK!! tamparan keras dari Reva membuat sedikit lebam di wajah Seira. Bukan pipinya yang sakit, namun hatinya yang hancur.
***
Ayoo like, komen, and vote yah. Jangan lupa follow me juga. Hehe....
__ADS_1