Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Tujuh Puluh Tujuh


__ADS_3

***


Akrein dan Afisen perlahan menyatu secara fisik. Tampak makhluk Naga bersayal Phoenix, berbadan dua warna. Sayap kanan nya berapi merah menyala,  dan sayap kirinya berapi biru.


Begitu juga dengan Reva dan Alden. Mereka mulai memejamkan matanya,  mencoba menyelaraskan hati mereka. Agar mereka mampu menguasai dan mengendelikan fisik gabungan Akrein dan Afisen.


Kedua insan ini duduk saling berhadapan,  di atas kepala makhluk itu. Kedua nya mengangkat tangan,  kemudian di satukan. Perlahan mata mereka terpejam.


Gelap.


Itulah yang Reva lihat. Namun,  kegelapan itu perlahan sirna. Ada cahaya yang datang.


Sepertinya? Ini perasaan Alden?


Batin Reva,  ia bisa menduga hal itu. Karna Reva serasa berada di dalam ingatan Alden.


"Bunda,  Kenapa bunda pergi? Kenapa harus pura - pura mati? Dan kenapa Alden harus berpura - pura cacat? " tanya bocah itu lugu, wajah nya agak hitam, karna kepulan asap,  meski hitam. Reva dapat mengenali nya. Bahwa itu adalah Alden kecil. Reva seperti nya juga mengenali perempuan di sana. Yah,  dia adalah selir Nayla,  ibu kandung pangeran Alden.


Kini mereka berada di tengah Kobaran api. Tapi,  sangat aneh nya. Api itu tak dapat melukai tubuh mereka.


"Alden,  dengarkan kata - kata ibu. Berlatih lah dengan kakek mu. Tumbulah hebat dan kuat. Dunia ini menunggu anak seperti mu. Bangkitkan lah Naga Merah. Ciptakan perdamaian antara tiga bangsa. Mengerti? " pesan Ibunya,  Nayla. Nayla menggendong Alden hingga keluar dari kobaran api.


"Ibu,  jangan pergi ." lirih bocah itu,  perlahan Nayla menghilang dari pandang an Alden,  Alden kecil juga pingsan di tempat.


Tiba - tiba kembali Gelap. Reva lagi - lagi tidak bisa melihat apapun. Sampai akhirnya cahaya itu datang,  dan membentuk satu kejadian lagi.


"Jangan!!  Jangan lakukan itu!! " teriak Reva spontan,  tanpa adanya kesadaran.


Kalimat Itu terlontar begitu saja saat Reva melihat Alden kecil ingin melompat ke dalam sungai.


"Heyy,  Awas. Kau akan jatuh!! " teriak bocah  perempuan berusia Tujuh Tahun itu.


Reva terkesiap,  ia mengenali anak perempuan itu. Yah,  dia...


Dia adalah Aku?!!


Kepala Reva terasa sangat sakit,  bagai tertusuk oleh banyak anak panah. Kepala nya juga terasa bergetar,  bagai di kerubungi jutaan semut. Kilatan ingatan itu berlalu lalang di kepala nya,  Sedikit demi sedikit Reva ingat.


Aku memang berasal dari Zaman ini?! Dan anak itu benar adalah aku.

__ADS_1


Byurrrr!!!


"Tidakkkk!!!! " teriak Alden kecil frustasi. Ketika melihat Perempuan kecil yang menolong nya jatuh ke sungai itu.


Jlebbbb.


Keadaan di sekitar Reva kembali gelap. Beberapa saat kemudian kegelapan itu sirna, terganti dengan kejadian baru lagi.


"Aku mencintaimu Reva. Selamanya. Akan aku korbankan apapun untuk mu. "


Seru Alden,  mengelus Lembut rambut Reva.


Tes!  Tes!


Reva menangis, 


Alden,  aku mencintaimu. Jika kita masih tetap hidup. Aku berjanji akan tetap di sisimu.


***


Gelap.


Benda apa itu? Kenapa meledak? Sebenarnya dari mana Reva berasal? Bukan kah ia selalu ada di Mansion Perdana Menteri?  Tempat apa itu ? Lalu kenapa Reva kembali hidup?


Gelap.


Seketika suasana menjadi gelap lagi. Hanya itu,  hanya itu yang bisa Alden lihat.


***


Reva dan Alden perlahan membuka mata mereka bersama.


"Alden...  Aku mencintaimu... " lirih Reva,  ia langsung memeluk Erat Suami nya.


Alden meletakkan tangan nya di kepala Reva,  mengecup lembut kepala permaisuri kesayangan nya.


"Aku lebih mencintai mu... "


"Aku tau itu. Kau mencintai ku"

__ADS_1


Kedua nya saling memeluk. Seketika ada cahaya kuning yang terpancar dari sayap Malhluk Gabungan itu.


"Alden,  Jika Kau mati. Aku tak keberatan untuk ikut dengan mu. "


"Aku juga tak kan menolak permaisuri kesayangan ku ini. Yah aku memang egois. Aku tidak suka kau dekat dengan pria manapun saat aku mati. "


Mereka memeluk sangat erat. Seakan berpisah sangat lama. Entah lah,  Reva juga tidak tau. Perasaan kacau dan tidak tenang,  yang kini menggebu di hatinya.


Keduanya melepas pelukan nya. Fokus mereka sekarang sudah teralih ke lubang hitam itu.


Reva dan Alden terus menyerang. Mereka mempersiapkan suatu serangan luar biasa. Sebuah bola bersinar Bagai kekuatan yang bercampur. Terasa energi bumi ditarik oleh bola itu.


Bukan hanya energi bumi. Energi Akrein dan Afisen saja juga sudah di tarik,  bahkan sampai habis. Itu terlihat dari Tubuh Makhluk gabungan yang semakin mengecil. Sayap mereka yany semakin pendek.


Begitu juga Energi Reva dan Alden, yang hampir sepenuh nya di serap oleh bola kekuatan mereka. Bahkan Orang - orang di bawah sana,  Energi nya juga tertarik.


Bola itu semakin lama semakin membesar. Alden dan Reva,  dengan sisa - sisa kekuatan terakhir mereka. Mereka melesatkan bola itu. Dan...


Bhoaammmm!!!


Ledakan besar terjadi,  ledakan yang bahkan mengguncang dunia.


"Kita Berhasil... " lirih Alden dan Reva yang keduanya terlihat sangat lemah. Penampilan nya kacau. Begitu juga Akrein dan Afisen yang kembali terpisah. Namun.


Bukhhh..


Bukhhh


Kedua mahkluk itu jatuh ke tanah, yah mereka juga sangat lemah. Sampai tak kuasa untuk tetap terbang.


Reyza segera menghampiri adik kesayangan nya yang sudah terlihat sangat lemah. Begitu juga dengan Ferry,  yang langsung menghampiri Alden yang terbaring lemah.


"Pangeran Alden... Sudah tiada


..." lirih Ferry,  saat ia tak menemukan lagi,  adanya denyut nadi di tubuh Alden.


"Reva... " lirih Reyza. Air matanya mentes. Reyza tak menemukan,  adanya tanda - tanda kehidupan dari Tubuh Reva.


***

__ADS_1


Nexttt??


__ADS_2