Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua puluh Tiga


__ADS_3

***


"Lapor pimpinan muda,  seperti yang anda dan tetua pemimpin katakan,  bahwa pangeran Alden tidak cacat itu benar" kata seorang pria berjubah merah dengan lima orang berjubah hitam di belakang nya.  Mereka semua tunduk hormat. 


"tcih... Kurang ajar!  Beraninya dia menipu adik ku!" makian Pedas Ryuza itu pun terlontar.


"Diam Yuza. Derry, apa kalian ada yang terluka?? " tanya Reyza.


"itu benar pimpinan muda,  kami di lukai oleh pangeran Alden" sahut pendekar itu,  Derry namanya.  Satu dari tiga ketua besar bangsa Netcher.  Yang memang jumlahnya saat ini sangat sedikit.  Setelah mengalami pembantaian dua  puluh tahun yang lalu, bagi bangsa Netcher, tidak punah adalah hal yang luar biasa.


"Baiklah,  kalian obati luka itu lalu kembali lah ke markas dan laporkan ini semua kepada kakek ku"


"perintah tetua pemimpin pada pimpinan muda Reyza dan pada ketua utama Ryuza. Kalian berdua di minta untuk datang sendiri lusa,  ada hal yang penting yang harus di bicarakan"


"Baiklah kalian istirahat saja dulu,  dan sembuhkan luka kalian.  Karna setelah ini kalian harus lebih melindungi putri Reva"


"perintah Pimpinan muda Reyza di terima" sahut mereka seraya mengundurkan diri.


"Rey... Apa yang ingin di bicarakan kakek?? " tanya Ryuza menatap serius Reyza.


"tentunya tentang cucu kesayangan nya,  siapa lagi kalau bukan TyaReva Wisbrith!"


***


"emm... Uhhh" erangan Reva di pagi hari,  dengan sedikit gerakan mengulet.  Wajah nya kuning bercahaya,  tentu saja karna terpancar sinar matahari dari lubang bangunan yang memperindah bangunan itu sendiri.


"Jangan bergerak,  nanti Dafa bangun" gumam Alden yang sudah melingkarkan lengan nya di perut Reva.


"Posisikan tangan mu jika kau tidak ingin kehilangan nya nanti! "


"posisi?  Ini sudah pada posisi yang sangat sempurna sayang! "


"Sempurna palamu!  Lepasin gak?! "


"Gak mau~" kata Alden santai. Kini pelukan nya semakin erat.  Membuat Reva semakin merona dan gagu. Reva terdiam,  tak ingin menggubris Alden yang penyakit manja nya lagi kumat.


"kok diam?  Apa permaisuri tercintaku sedang memikirkan bagaimana cara melakukan tugas seorang istri yang sebenarnya untuk nanti malam,  begitu kah? " kata Alden lagi.


Plakkk!!  Timpukan Reva kali ini sukses mengenai wajah tampan Alden yang sudah meninggalkan topeng nya. Wajah dengan tatapan seperti itu,  siapa yang tak terpanah oleh Alden?!


Wajah dan tatapan nya ini?! Seumur hidup aku baru melihat nya.  Memang lelaki dengan wajah seperti ini sangat sayang di abaikan begitu saja. Bahkan jika dia ada di zaman ku,  dapat di pastikan dia menjadi aktor nomor satu.  Wajah nya benar - benar top markotop! Tapi perilakunya??  Hanya Tuhan yang tahu...


Batin Reva menatap lekat mata Alden dengan sangat jelas,  yang bahkan jarak nya tak lebih dari lima cm. Timpukan Reva barusan membuatnya melepaskan pelukan nya pada Dafa,  dan malah mengalihkan wajah nya tepat di wajah Alden. Kedua pasang mata ini cukup lama saling berpandangan.

__ADS_1


"Ada apa?  Apa mataku begitu indah?  Wajah ku begitu tampan?  Sudah jatuh cinta? " ucap Alden lirih,  bahkan meskipun itu lirih,  tapi Reva amat sangat tersentak dengan ucapan pd Alden barusan.


"Wajah mu itu pasaran. Jenis wajah dan tatapan seperti itu,  aku sudah muak melihat nya"


"oh tapi wajah dan matamu mengatakan hal sebaliknya"


"lakukan sesuka mu!"


"Benarkah?? " tanya Alden dengan tatapan penuh maksud.


"Yah... " sahut Reva santai,  yah memang ia pikir ini tidak mengakibatkan apapun.


"mppphhh... Hah... Huh... "


Desis kedua insan ini beberapa saat kemudian.  Apalagi? Tentu saja ini karna Alden yang tak tahan melihat bibir Tipis Reva,  yang baru bangun tidur.


"Kau gila?!  Apa yang kau lakukan?! "pekik Reva emosi.


"mencium mu... apa yang salah dengan itu? . Bukan kah kau yang mengizinkan ku tadi untuk melakukan hal sesuka ku?!" sahut Alden santai,  yah memang Reva yang bilang 'terserah' tadi.  Tapi kata terserah yang di maksud bukan lah hal seperti ini.  Apa yang salah dengan terserah?  Bukan kah cewek memang identik dengan kata terserah?


"bukan begini defenisi dari terserah yang kumaksud!!  Kau gila! "


"apa Kau malu?  Bahkan nanti malam kita akan melakukan yang lebih dari pada ini" senyuman Alden terlihat nenyeramkan.  Memhuat irang begidik ngeri.


Alden tersentak halus,  namun masih tetap tenang. Bagaimana pun juga hari itu akan tiba. Cepat atau lambat.


"baiklah.. Jika bukan malam ini,  masih ada malam - malam selanjutnya.  Hehe.. "


"Kau in--" ucapan Reva terputus saat Dafa bergumam memanggilnya bunda,  Reva mengalihkan fokusnya dan hanya menatap mendelik pada Alden.  Yang di pendeliki malah dengan santai nya mempererat pelukan nya pada Reva.  Reva yang menyadari kehadiran Dafa,  tidak bisa memaki atau memukul Alden,  itu bukan lah contoh yang baik untuk di tiru anak kecil.


***


Dua hari kemudian, dua pendekar berjubah hitam yang berpadu merah membawa kudanya dengan sangat cepat melintasi hutan dan sungai menuju keluar dari area kerajaan Flawyard. Cukup lama mereka menunggangi kuda,  hingga akhirnya sampai di sebuah gunung yang di kelilingi hutan.


Reyza melakukan gerakan rahasia,  beberapa saat kemudian, sesuatu yang terlihat seperti kumpulan tanaman menjalar terbuka layaknya pintu rahasia.


"Hormat Ghani pada pimpinan muda Reyza dan ketua umum Ryuza.  Tetua pemimpin sudah menunggu kalian sejak tadi,  silahkan masuk" ucap pelayan itu sopan,  menuntun dua pria ini ke arah seseorang yang di sebut ' Tetua pemimpin' ini.


"keluar " perintah seorang kakek yang sudah berumur, meskipun begitu aura kebijaksanaan masih jelas terpancar dari dirinya. kakek tua yang sedang duduk saat semuanya berdiri,  tentu saja dia adalah orang yang mereka sebut Tetua pemimpin .


Hanya dengan satu kata dan gerakan halus tanganya.  Belasan pelayan sudah menghilang dari tempat itu.  Kini,  hanya ada Reyza dan Ryuza yang tertunduk sopan dihadapan Raja.


"hormat kami pada kakek" ucap kedua saudara ini bersamaan.

__ADS_1


"lama tidak bertemu membuat kami sangat merindukan kakek.  Kakek terlihat lebih tua sekarang" ledek Ryuza halus.


"oh mulut mu ini... Lidah nya ingin ku potong.  Hah?! " pekik kakek menatap Ryuza dengan penuh amarah.


"Sudah lah kakek,  tidak perlu marah.  Apa kakek sudah mendengar berita nya?? " sambung Reyza yang menghentikan


Pertengkaran receh ini.


"Sudah.. Alden ini benar - benar licik! Beraninya dia mendesak cucuk kesayangan ku! Sudah delapan tahun aku tidak melihatnya, aku benar - benar sangat merindukan gadis kecil yang selalu manja dengan ku ini. Oh yah cucu kesayangan ku itu, Apa Reva merasa sedih dan tertekan?! Sial!! Jika memang begitu, ayo kita percepat saja misi pembalasan dendam nya!! " seru kakek tersulut emosi.


"apa yang kakek maksud?! kenapa kakek begitu gegabah, kakek adalah orang yang paling bijak dan sabar! Kakek, ingat kita harus menyerang di waktu yang tepat untuk mendapatkan kemenangan yang mutlak" Celoteh Ryuza.


"dapat dimaklumi, kakek memang selalu begini jika itu menyangkut sang gadis kecil Reva " sambar Reyza.


"kalian ini... Kakek hanya mengkhawatirkan nya. Kakek gusar karna sudah terlalu tua. Kelak, Bangsa Netcher ini, akan aku serahkan padamu. Kau sebagai pemilik dari mawar merah dan keturunan murni. Inilah tanggung jawab mu!"


"jangan berkata seperti itu. Kakek berumur panjang. Masih ingin menyaksikan Reva menggendong anak kan? "


"benar kata Reyza kek ... Oh yah, Lalu kakek, bagaimana dengan mawar biru murni milik Reva? Apa sudah tahu kenapa itu berwarna biru? Kenapa lain? Harusnya warna mawar keturunan pemimpin adalah merah kan?! " sambung Ryuza terlihat agak khawatir.


"itulah yang ku takutkan. Dulu, putri sulung ku juga memiliki tanda mawar biru. Tapi, Ia selalu merasa sakit saat mengeluarkan kekuatan nya? Dan sekarang, saat ini juga putri nya mengalami hal yang sama... Aku sangat menyesal tidak bisa melakukan apapun!! "


"Kakek tidak perlu khawatir... Kami akan selalu menjaga Reva, apapun yang terjadi!! " sahut mereka berdua serentak.


"dan apa kalian juga sudah mencari adik sepupu kalian?? "


"maksud kakek, anak laki - laki bibi Naraya???"


"tentu saja. Aku hanya memiliki dua orang putri. Satunya Arriva Arthaft dan Naraya Arthaft"


"maafkan kami kakek, kami belum menemukan nya. Tetapi Kami pasti akan mencarinya. Dan kita akan kembali menjadi keluarga Arthaft yang lengkap. Seperti yang kakek inginkan! "


"benar. Aku Ardian Arthaft sudah memimpin bangsa Netcher selama empat puluh tahun. Aku pasti bisa mengembalikan kelengkapan keluarga Arthaft tanpa kehilangan apapun dan siapapun lagi" kata kakek dengan tatapan tekad yang kuat.


"ini baru kakek tua ku... Hehe" ledek Reyza dan Ryuza bersamaan memeluk kakek Arthaft.


***


Akh.... Tolong kasih saran yah hehe.. Terutama di bagian penulisan, aku yakin ada bahkan banyak yang kurang.. Mohon bimbingannya para senior ku...


Btw. Thanks yang udah like and komen. Aku tau kalian ini para pembaca yang cerdas, pasti tau lah yah kan apa yang di inginkan penulis.


And... Like dan komen kalian menentukan kelanjutan Novel ini. Dadah

__ADS_1


__ADS_2