
***
"nona, bagaimana mungkin anda memiliki kekuatan sehebat tadi??" tanya Aila membaringkan dirinya di rumput di bawah pohon, tepat di samping Reva yang tengah terbaring menutup matanya. Terlihat raut wajah lelah pada Reva.
"benar, Seira heran bagaimana mungkin nona bisa menguasai jurus sehebat tadi. Bahkan beberapa jurus baru mampu nona kuasai dalam waktu satu hari" tanya Seira masih sama penasaran nya dengan Aila.
"jawaban nya Rahasia. Oh yah Seira, kau juga. Bagaimana mungkin kau bisa memguasai jurus hebat itu??" tanya balik Reva.
"nona lupa?? Seira adalah mantan murid perguruan 'Kither' "
"oh iyah, haha aku lupa"
"benar juga, mantan murid dari perguruan Kither tidak boleh di ragukan. Lagi pula Seira ini sebenarnya adalah sepupu jauh ku. Namun, sejak kecil sudah mengikuti ku. Makanya menjadi pelayan pribadiku, agar bisa terus bersamaku. Perguruan Kither yah?? Haha lumayan!!"
Batin Reva, cukup senang di sisinya ada orang yang lumayan berbakat.
"lalu kau?? Aila, dengan kemapuan mu yang tadi, seharusnya kau tidak perlu diperjual belikan sebagai budak kan??"
"nona anda lupa, saya waktu itu di bius, saya merasa tubuh saya sangat lemah. Namun, saat saya bersama nona. Lama kelamaan saya merasa kekuatan saya semakin kuat. Dan kecerdasan otak,.ketajaman lidah. Saya banyak belajar dari nona"
"hah.. Kalian berdua menarik..oh yah saat aku pindah ke kediaman pangeran ke empat nanti aku mau kalian bersama ku"
"tentu saja, kami akan mengikuti nona kemanapun nona pergi"
***
Sangat cepat, Dua hari lagi adalah pernikahan putri Reva dan pangeran ke empat Alden. Persiapan pernikahan besar - besaran di lakukan. Sangat megah dan mewah. Sebuah 'bar' sudah Reva bangun secara diam - diam tanpa diketahui siapapun. Hanya Aila dan Seira yang tahu, tentu saja karna Aila lah pengelola nya.
"kau tahu kan Aila, mengapa aku membangun tempat ini??" tanya Reva yang duduk anggun disana.
"nona, aku sudah banyak belajar darimu. Selain uang, tempat ini kita butuhkan untuk informasi terbaru" jelas Aila.
Disana hanya ada Aila dan Reva, mereka tidak begitu ingin mengikutsertakan Seira yang polos.
"bagus! Jagalah tempat ini, sebentar lagi ada pernikahan yang akan dilaksanakan, intrik dan konflik adalah ketertarikan tersendiri di keluarga kerajaan. Cari tahu informasinya. aku masih ada urusan lain" ujar Reva melenggang pergi.
"siap mematuhi perintah nona" balas Aila tertunduk sopan.
***
Reva berjalan sendiri memutari kota, mencari tempat paling strategis untuk membangun 'Bar' lain nya. Mengumpulkan uang untuk membangun panti Asuhan.
__ADS_1
"ahaa ctakkk!! Tempat ini sangat strategis untuk menjadi panti asuhan, dekat hutan, sungai dan jauh dari perdesaan!! Perfect!!" gumam Reva melihat area istimewa itu.
"Bagaimana yah kira - kira, keadaan Aila zaman modern dan Kai. Bagaimana dengan anak panti?? Ku harap mereka baik - baik saja. Aku sangat merindukan mereka" gumam Reva berbicara sendiri. "tidak perduli apapun itu!! Aku harus kembali pulang!!! Karna aku sangat merindukan nya!!!" teriak Reva sangat keras, suara nya menggema di hutan saat ini dia tengah duduk bersantai di atas pohon.
"oh, pulang?? Siapa yang kau rindukan??" tanya Pangeran Alden yang tiba tiba sudah ada di bawah pohon entah sejak kapan.
"kau?!! Alden??!!"
"yah aku Alden Kertlan calon suamimu. Tiga hari lagi kita akan menikah. Jadi katakan siapa yang kau rindukan?!!"
"humphh!! Bukan urusan mu" Reva memalingkan wajah nya kembali menatap langit.
Bruakkkk!!!
Tiba tiba Reva terjatuh entah karena apa. Sangat membingungkan.
"ukhhh saa..kit...." Desis Reva memegang bokong nya.
"ppfffftttt Hahaha!!! Apakah sakit??!!" tawa Alden yang begitu keras. Membuat Reva melotot tajam pada pria itu.
"Diamm!!! Ini semua karena mu kan?!!"
"haha, jadi siapa yang kau rindukan permaisuri ku??"
Tiba tiba ada rumput yang melilit Reva. Sangat kuat, membuat Reva meringis kesakitan.
"katakan!! Siapa?!! Siapa Kai itu?!!"
"Kai dia hanya teman ku sejak kecil!!"
"teman?? Haha!!"
"bisa lepaskan aku?? Ini sangat sakit??"
"baiklah, sebagai permintaan maaf ku. Aku akan membawa mu ke suatu tempat"
"aku menolak. Siapa yang tau aku masih hidup atau tidak setelah aku ikut dengan mu!!"
"kau tak punya pilihan. Ikut dengan ku atau rumput itu akan melilit mu lagi. Bagaimana??"
"dasar Sialan!! Psikopat rendah!!"
__ADS_1
"Masih bernyali untuk menolak??"
"sial...haruskah aku ikut dengan nya?!!" batin Reva masih dengan tingkat keraguan dan kewaspadaan yang sama.
"baiklah aku ikut dengan mu. Aku akan menuntun mu. Tapu bisakah kau melakukan satu hal, untuk calon permaisuri mu ini??" tanya Reva dengan raut wajah imut memelas. Menunduk kan badan nya menaatap sejajar Alden, pangeran lumpuh yang tengah duduk di kursi kayu khusus itu.
"apapun yang kau inginkan akan ku berikan! Mintalah apapun, ku pastikan kau akan mendapatkan apapun juga!" jelas Alden serius menatap wajah Reva.
Mata Reva berbinar tertegun saat mendengar ucapan Alden. Pasalnya ini kali pertama nya dia mendengar perkataan ini. Janji orang yang akan memberikan dia apapun.
Kedua pasang mata saling memandang. Tak berkedip, tiupan angin membuat daun berguguran. Tatapan itu tak teralihkan. Ada banyak makna tersembunyi dari tatapan itu.
Detak jantung Reva berdegub kencang, bahkan Alden juga bisa mendengarnya. Bahkan Reva sendiri bingung, bagaimana mungkin dia yang tak pernah jatuh cinta itu. Kini, jantungnya berdegub kencang karna pria di hadapan nya ini.
"ini pasti deguban karna takut!! Iyah deguban karna takut!!" batiN Reva meyakinkan dirinya sendiri.
"ada apa?? Udah selesai natap nya? Atau aku perlu buka topeng biar makin puas liatnya?!!" Goda pengeran Alden.
Reva terdiam membeku. Melihat Reva seperti itu, Tiba - tiba Alden mengingat nya.
"tchh... Aku lupa, bagaimana mungkin aku bisa mengatakan hal ini, disaat dia tahu bahwa wajah ku hancur terbakar?!! Sial!! Bodoh nya aku!! Pasti dia merasa jijik dengan ku!!" batin pangeran Alden gagu.
"eh?! Boleh kah?? Melihat wajah mu??" tanya Reva mencoba membuka topeng Alden.
Seketika Alden tertegun. Bagaimana mungkin ada orang yang tak takut untuk melihat wajah nya.
"menarik..." batin Alden menatap serius Reva.
"Wah sayang sekali bukan saat nya, suatu saat nanti, kau akan melihatnya" ucap Alden menepis tangan Reva.
"Humphhh!! Tadi boleh!! Sekarang di pukul!! Gila!!" bentak Reva kesal.
"haha!! Soal kita pergi ke suatu tempat. Aku akan mengajak mu lain kali. Aku ada urusan, aku pergi dulu" pamit Alden pergi begitu saja.
Segera Reva pergi dengan sisa kekuatan nya. Ternyata Reva mampu menguasai ilmu peringan diri. Gerakan indah lompatan Reva dari satu pohon ke pohon lain nya sangat indah.
"Haha!! Sangat menarik, calon permaisuri ku ini. Aku semakin menyukai nya!!"
***
Ayoo like, komen and vote
__ADS_1
Jangan lupa follow juga. Kalian adalah penyemangat ku