Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Enam Puluh


__ADS_3

***


Nona Muda.  Bahaya!  Aku tidak menemukan Perdana Mentri Regata di Kediaman. Beliau tidak ada.  Dan tidak ada yang tau di mana Dia.  Nona Reva,  Bagaimana ini? Tapi yang jelas.  Aku mendapat sebuah petunjuk aneh.  Anda segera datang,  Aku menunggu anda di Hutan Amon. Segeralah,  sebelum semuanya terlambat.


Aila~


"Kurang ajar! Siapa yang berani menculik ayah ku?! " maki Ryuza terlihat sangat emosi. Tangan nya gemetar menahan amarah nya.


"Tuan Ryuza, ada apa? " tanya Seira ikut gemetar.


"Seira dengar... Aku akan kembali ke kediaman perdana Menteri. Kau rahasiakan ini. Mengerti? Jangan sampai ada yang tau. " peringat Ryuza menekan lengan Seira kuat.


"Baik lah tuan Muda. Saya akan merahasiakan nya, tidak akan mengatakan nya pada siapapun" sahut Seira mengerti.


"Bagus. Tetap rahasiakan dan jaga Dafa. Aku harus segera pergi" peringat Ryuza langsung melesat pergi begitu saja.


***


"Apa ini Akrein? Ini hanya hamparan Lautan biasa. Tak ada yang menarik di sini" keluh Reva mengedarkan pandangan nya. Mencari sesuatu yang menarik yang Akrein sebutkan. Sesaat setelah mereka sampai di peisisir Lautan Timur.


Kau tak melihat nya? Jika kau cerdas. Coba tebak. Dimana hal yang menarik. Kau ini adalah Dewi Lautan, dan di hadapan mu adalah Lautan.


Reva diam, ia tersenyum menyeringai. "Ingin main tebak - tebakan dengan ku? Menarik" sahut Reva santai. Ia kembali mengedarkan pandangan nya ke sekeliling nya. Lebih cermat dalam mengamati setiap detail nya. Beberapa kali ia memijak atau mengetuk batu yang ada di sana, berharap ada pintu rahasia di sana. Namun, hasilnya nihil. Reva tak menemukan apapun.


Menyerah? Dewi Lautan?


Cibir Akrein. Seperti nya Reva dan Akrein sendiri sudah semakin akrab.


Aku adalah Dewi Lautan. Dan di hadapan ku adalah Lautan. Mmmm..


Batin Reva menatap intens lautan itu. Yah Lautan yang tampak biasa - biasa saja.

__ADS_1


"Akh!! Aku menemukan nya! " Desis Reva tertawa. Ia berjalan menuju tengah Lautan itu. Air lautan itu sudah menenggelamkan sampai bagian Lutut, kemudian pinggang. Tak lama lagi Bahu. Dan Bahkan hingga pucuk kepala nya.


"haha! Aku adalah Dewi Lautan, penguasa Lautan. Tak kan mungkin aku tak bisa bernapas di dalam Lautan" pekik Reva merasa bangga. Ia tersenyum puas atas tebakan nya.


Menarik... Kau memang layak di sebut pemilik Phoenix Legenda.


"Yah aku memang layak, hanya saja kau yang tak layak menjadi makhluk milik ku" cibir Reva santai.


Lidah mu itu semakin lama semakin tajam. Benar - benar membuat ku tak sabar untuk memotong nya


"Sudah lah, kemana kita akan pergi? " tanya Reva saat kaki nya sudah memijak Dasar Lautan itu.


Tutup mata mu. Ikuti arah aura biru yang terbentang panjang itu.


Reva mengikuti permintaan Akrein, Gadis manis itu menutup mata nya. Benar saja, tampak Aura biru terbentang panjang di sana. Secara Refleks Reva mengayunkan kaki nya begitu saja mengikuti arah Aura Biru itu.


***


"Nona? Anda datang? " tanya Aila menoleh.


"Aku Ryuza. Reva tidak bisa datang karna ada sesuatu urusan. Dia meminta ku agar aku saja yang datang."


"ah, begitu rupanya? Baiklah"


"Ada apa sebenarnya Aila? Siapa yang menculik ayah ku? " tanua Ryuza terburu - buru.


"Maafkan aku tidak bisa menyelamatkan perdana menteri. Aku terlambat datang ke sini. Saat aku datang, perdana Mentri sudah hilang selama Dua hari. Dan dari petunjuk yang aku dapatkan. Ciri nya menuju Bangsa Ksatria" pekik Aila mulai menceritakan nya.


"Bangsa Ksatria?! Apakah ini ulah Kerajaan Flawyard?!!?" Teriak Ryuza sudah tersulut emosi.


***

__ADS_1


"Sebuah Pintu Khsus untuk masuk ke ruang rahasia? Benar - benar seperti di Film" celetuk Reva menatap bongkahan batu besar yang tertutup lumut di sana.


Film? Apa itu? Dan dari mana kau tau bahwa ini adalah pintu rahasia.


"Sudah lah, kau tak perlu tau.. Yang jelas aku ini cerdas. Baiklah, mari kita cari di mana tombol rahasia nya" kata Reva celingak celinguk mencari di mana tombol rahasia nya.


Clekkkk


Pintu itu terbuka. Padahal Reva sendiri belum menemukan tombol nya dengan tangan nya,


"Ahhh, jadi begitu. Tombol rahasianya bukan di batu. Melainkan baru saja ku pijak. Haha, benar - benar menarik" kata Reva seraya memasuki ruangan gelap itu dengan santai.


Swosssshhhhh!!


Tampak Angin yang menggumpal berwarna hijau, membentuk bayangan seperti monsters yang menyeram kan.


Teka - teki kematian.


Celetuk Akrein saar gumpalam itu sudah membentuk bentuk yang sempurna.


"Apa maksud mu dengan Teka - teki kematian? " tanya Reva bingung.


Bayangan di hadapan mu ini adalah Gerix. Sang monster penjaga. Dia akan memberi mu teka - teki. Jika kau berhasil menjawab nya. Maka kau akan di izinkan masuk. Jika gagal kau akan mati


Jelas Akrein.


***


Next?


Lanjut?

__ADS_1


__ADS_2