Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Dua puluh


__ADS_3

***


"apa orang itu gila?!  Satu malaman memelukku begitu erat. Badan ku jadi pegal semua" Gerutu Reva sedari tadi.  Ia dia sudah mengumpat si suaminya sejak dia berangkat dari kediaman nya.


Hari ini Reva datang mengunjungi 'Bar' nya. Sekalian berkeliling kota.  Mengumpulkan anak - anak tanpa orang tua. Namun, sedari tadi tak Reva temukan anak yang terlantar.


"aish... Nyonya ini.. Tahukah anda sudah berapa lama mengoceh tentang pangeran?? " tanya Aila menatap nyonya nya dengan satu alis terangkat.


Eh... Benar juga!!  Kenapa sepanjang jalan aku jadi hanya memikirkan nya!!  Gila!!


"nah.. Setelah mengoceh tentangnya,  pasti anda sedang mengumpat tentang nya di dalam hati. Iyah kan?? "


Mata Reva melotot tajam,  bagaimana mungkin Aila mengetahuinya. Lalu ia menyadarinya, bahwa sekarang otak nya tengah di penuhi oleh orang itu,  yah pria tampan dan kuat yang berpura - pura lumpuh itu. Ia menghela napas panjang,  manandakan sedikit lelah.


"Aila,  kau pergi ke sana sendiri saja.  Aku ingin mencari tempat yang tenang untuk istirahat "


"ehh?  Tiba - tiba??  Fyuh... Nyonya pergilah... Ini pekerjaan harian ku,  tak perlu khawatir"


***


Angin yang menderu,  mengibaskan rambut nya pelan,  memberikan kesejukan untuk Reva. Ia duduk di bawah pohon bersandar di batang pohon yang besar itu. Wajah mungil nya dilindungi dedauan dari sinar matahari. Aroma tanaman ntah itu bunga atau tanaman aneh di dunia itu,  melegakan hidung Reva.


Perlahan ia membuka matanya. Sejauh mata memandang ia melihat hamparan warna hijau,  warna yang di sukainya. Di mana baginya warna hijau melambangkan harapan yang tinggi.  Sudut bibirnya terangkat saat melihat sepasang burung sedang menari - nari di atas sana..


SRKKK!! SSKKK!!


Suara kasak kusuk itu terdengar mengerikan,  hawa menjadi dingin,  was - was itulah yang Reva tengah lakukan. Meski matanya belum terbuka. tapi dia tau jelas ada yang tengah mengawasinya.


Ssshhhh!!!


Orang itu mulai bergerak,  dia mulai menyerang Reva,  mengayunkan pedang nya dengan begitu cekatan. Dengan cepat, Reva menghindar. Hanya trik murahan, tak cukup untuk mengalahkan seorang Reva.


Akhirnya kau muncul juga... Pendekar hitam!!  Haha!! Kemampuanya lumayan..


Batin Reva, masih dalam posisi melawan orang itu. Yah,  orang serba hitam.


Tunggu... Gerakan ini?!!  Aku mengenalinya..


Sesaat kemudian gerakan Reva sudah mengakibatkan sang pendekar hitam kehilangan penutup wajah nya,  di saat yang bersamaan Reva juga berseru "Riekai!! "


Kai jatuh tertunduk,  ia tak bangkit. Reva masih tetap dalam keadaan waspada.


"pangeran ke lima?  Apa yang kau lakukan di sini?  Kenapa menyerangku dan ingin membunuh ku??! "


Benar dia bukan lah Riekai si bodoh ku.  Melainkan,  dia adalah pangeran ke lima.

__ADS_1


Tambahnya di dalam hati.  Yah.. Hanya cukup dalam hati,  rahasia dunia nya dan dunia modern harus dirahasiakan rapat - rapat.


"pffttt... Hahah..."


Dia tertawa,  beberapa detik kemudian terdiam.  Wajah bahagianya berubah dengan tatapan sedih beserta aura kelam yang pekat.


"Nona tega sekali... Aku ini Kai!  Riekai!  Riekai Atmaja,  bodyguard paling setia nya Nona muda presdir Atmaja group!  Humph!!  Jahat sekali melupakan ku!!" katanya.


Reva terkejut,  namun rasa bahagia nya tak dapat di tutupi lagi,  saat alasan nya untuk kembali ke indonesia adalah Kai dan Aila. Lalu,  untuk apa Reba kembali pulang??


Ctakkk!! 


Jitakan khas Reva untuk anggota terdekat nya. Yang saat ini di berikan nya pada Kai.


"humph!  Berani bermain dengan ku.  Membuat ku gusar saat upacara pernikahan ku?!  Wah nyalimu besar juga yah Kai.. Bagaimana aku harus menghukum mu?? "


"oh?  Nona ingin memberikan hukuman pada pengeran Kelima?"


"aishh.. Lidah mu semakin tajam yah,  tapi tak kan pernah menyamai Aila"


"oh yah nona,  berbicara tentang Aila.  Dia,  satu hari setelah anda meledak di helikopter,  ia ikut dengan anda. Dia mengalami kecelakaan saat ingin menyelamatkan anak - anak. Setelah itu,  dia menghilang"


"Hum... Sudah ku duga... Mungkinkah Aila yang sekarang adalah Aila di zaman modern?? "


"mungkin.. 98 persen nona.. Haha"


"Akhhhh..." Desis Reva spontan memegang bahunya yang terasa sakit,  tepat di bagian tato bunga mawar biru itu. Rasanya seperti tertusuk jutaan jarum kecil.


"Ada apa nona?? " tanpa sengaja Kai menyentuh lengan Reva.


"tidak apa - apa. Ini hanya--" ucapan Reva terputus.  Ia tercengang melihat cincin merah yang dikenakan nya bersinar seketika,  hawa kelam yang begitu pekat sangat terasa.


"Nona,  apa ini? "


"ini,..  bukan apa - apa" sanggahnya.


"oh yah nona,  anda tau,  ketika anda mencaci maki hina Zefan saat penjamuan kemarin,  seperti nya ia dan Saudara tiri anda sepertnya merencanakan sesuatu"


"apa yang mereka rencanakan?? "


"aku tidak begitu mendengar nya, yang aku tahu sesaat setelah anda pergi meninggalkan Zefan,  Riana datang dan membisikkan sesuatu yang membuat Zefan tertawa mengerikan.  Aku yakin, tidak aneh kan nona,  jika aku berpikir mereka pasti memiliki rencana jahat??" tukas Kai,  dengan penuh aura membunuh.


"simpan auramu.. Akan lebih aneh,  jika mereka merencanakan sesuatu yang baik. Humph!! "


Mereka berdua sepakat untuk tak terlalu mempertontonkan keakraban mereka di depan publik.

__ADS_1


***


"apa yang kau katakan Alden?!  Kau ingin mengadopsi anak itu sebagai putramu??! " teriak Raja di ruang bacanya,  berhadapan dengan putranya yang duduk di kursi khusua itu.  Ia tak tahan jika tidak berteriak saat putra nya itu meminta hak asuh atas anak itu.


" iyah.  Ayahanda,  Aku mohon izinkan aku dan Reva merawatnya"


Raja mengernyit kan dahinya,  seakan - akan mengerti satu hal.


"oh jadi berita itu benar?  Menantu ke empat ku menemui anak itu saat penjamuan berlangsung?? "


"itu benar ayahanda"


"oh,  jadi  karna itu dia meminta mu untuk mengadopsi anak itu?? "


"tidak sepenuh nya benar Ayahanda. Di balik itu semua saya memiliki maksud,  mungkin saat kami mengadopsi anak kami mungkin akan memiliki anak sendiri nantinya"


"oh,  begitu...panggil menantu ke empat ku kesini!! "


"perintah anda di terima" sahut pengawal pribadinya.


"Ayah ini bukan salah Reva.  Ayah --"


***


"Nyonya...  Ada utusan dari pengwal kerajaan datang menjemput anda,  ia bilang ini semua atas perintah Raja kerajaan Flawyard" lapor Seira pada nyonya nya yang duduk bersilah memakan buah anggurnya.


"oh?  Ayo kita kesana" sahut Reva tanpa ragu.


"nyonya~ mungkin kah yang mulia Raja tau kita bertemu dengan Dafa?? "


"akan lebih baik jika dia memang tau,  dan alasan ku di panggil adalah karna hal ini"


"aishh... Nyonya ini,  ingin kena hukuman tapi,  malah bersemangat seperti itu"


"Hukuman atau berkah?  Kita belum tau,  karna kita belum sampai di sana"


Hehe... Seperti nya kau gagal Alden.. Humph!!  Kau mengecewakan ku!!  Eh... Kenapa aku harus merasa kecewa? Tidak,  ini semua bukan karna 'hal itu' . Aku kecewa karna Dafa iyah karna Dafa!! Hanya Dafa!!


Batin nya sendiri untuk sekedar menenangkan hatinya dari deguban kencang saat ia mengingat satu nama.  Alden Kertlan.  Yah nama itu.


"nyonya anda sakit?  Mengapa sedari tadi menggelengkan kepala?  Apa aku harus memanggil Aruna?? " tanya Seira menatap nyonya nya ini dengan sebelah alis terangkat.


"aku baik - baik saja,  ayo jalan "


***

__ADS_1


Aku butuh dukungan kalian semua... Entah kenapa jiwa malas nulis ku kembali lagi... Please help me guys.....


Semakin banyak komenan kalian semakin aku bersemangat.


__ADS_2