
**Assalamualaikum
Hai hai Kakak - Kakak Readers^^
Apa kabar? Semoga baik dan sehat selalu yah. ^^
Amiin...
Cerita nya makin rumit dan sulit yah? Ruwet kah?
Okeh maaf. Tapi hanya ini yang bisa aku kasih. Maaf kalau mengecewakan.
Dan bagi kakak - kakak yang kecewa, mohon maaf. Kalau mau berhenti baca juga boleh. Aku gak maksa kok.
Yang aku mau cuma satu. Berhubung Aku ini masih muda dan labil, cuma bocah SMA yang ingin menyalurkan hobi menulisnya, jadi kurang pengalaman, dan yang paling aneh. Aku ini orang nya baperan. Jadi di mohon kan untuk yang gak suka, boleh gak lanjut baca. Jangan komen negatif yah. Soalnya itu menurun kan semangat Author nulis. Karna aku orang nya baperan.
~Mohon Maaf lahir dan Batin**
***
"Alden. Ceraikan lah Reva. Menjadi istrimu adalah hal yang buruk untuknya. Aku, aku juga ingin melepas Shina Dulu, Shina Dan Naysil. Aku ingin melepas mereka berdua. " Kata Raja lirih, memeluk erat putranya.
"Aku paham perasaan mu. Aku mengerti, itu sangat berat. " lanjut nya menepuk pundak Alden, layaknya Ayah yang memang benar - benar mengerti Alden.
Bercerai dari Reva?! Haha! Dunia bahkan tak bisa mengaturku! Aku Alden Kertlan, Tak kan pernah berpisah dari Reva! Apapun yang terjadi!
Batin Alden. Tak ada rasa takut di hatinya.
"Lalu, kenapa Ratu Naysil dan Shina masih tetap ingin di sisi Ayah? " Pekik Alden.
"Karna mereka bilang mereka mencintai Ayah. Naysil, mengorbankan hidupnya, agar aku memiliki putri tanda cinta kami. Sedangkan, Shina. Dia mengorbankan perasaan nya sebagai seorang ibu, hanya demi manusia hina seperti ku. Ayah sangat merasa bersalah pada mereka Alden. Harusnya Ayah melepas mereka, dan tidak mendengarkan rengekan mereka. "
__ADS_1
"Lalu? " Sahut Alden masih enteng.
"shh.. Anak ini benar - benar! Lepas kan Reva! Biarkan dia menjalani hidup Normal!"
"Haha! Ayah bercanda kan? Aku? Alden akan melepas Reva? Haha itu tak kan mungkin! Aku Akan semakin mengikat Reva erat. Tak kan kubiarkan dia pergi selangkah pun. Apapun yang terjadi." Kekeuh Alden masih yakin akan rencananya.
"Alden! Kau egois! Kau merusak hidup Reva! Lepaskan dia! Biarkan dia bersama orang lain! Menjalani hidup Normal layaknya manusia biasa!"
"Aku merusak hidup Reva? Haha! Ayah salah. Aku pelengkap hidup Reva. Dan biarkan Reva bersama orang lain? Haha, Ayah bercanda kan? Aku bahkan tak ragu menghabisi seluruh pria di kerajaan ini. Agar hanya aku yang Reva cintai. Mengerti? " Alden memainkan alisnya. Layaknya kutukan ini bukan masalah besar baginya.
"Alden! Reva sangat menyukai Anak - anak! Biarkan dia memiliki anak dengan orang lain! Jangan sampai kau menyesal karna mengikatnya! "
"Ayah sudah tua. Hingga Ayah lupa. Alden dan Reva sudah memiliki Anak. Yah, dia adalah Dafa, kan? Dia juga cucu ayah. Baiklah Ayah, Silahkan istirahat. Aku ingin menemui permaisuri tercinta ku. " Alden melambaikan tangan nya, berbalik arah untuk keluar.
"Hati - hati Alden. Mungkin saja Reva yang ingin pergi darimu. Karna, Ratu Shina telah menceritakan soal Kutukan ini padanya. "
"Jangan khawatir. Dia tak kan pernah pergi dariku~" Alden melenggang pergi tanpa beban.
***
"Bunda Ratu bilang, Saat ini Raja tengah memberitahu Alden soal kutukan itu. Dan masalahnya adalah? Apakah Alden akan memaksa ku untuk bercerai dengan nya karna kutukan menjengkelkan ini? Jika dia mengatakan itu, aku akan menjitak kepalanya! Berani - beraninya dia menceraikan ku karna masalah ini! " Gumam Reva, ia sudah berbaring manis di ranjang istimewanya.
Alden! Kau tak boleh menceraikan ku! Atau aku akan memenggal kepalamu!!
Tak Tak
Suara langkah kaki. Seketika Reva memejamkan matanya, yah itu suara langkah kaki Alden yang kian lama kian dekat. Bahkan Reva sudah menyadari bahwa Alden sudah duduk di Ranjang.
Apa aku benar - benar akan melepaskan Reva?
Batin Alden. Melihat wajah Reva membuatnya keyakinan nya goyah.
__ADS_1
"Alden... " Lirih Reva, bangun dari tidurnya. Alden sendiri langsung menyambutnya dengan sebuah ciuman singkat.
"Ada apa sayang? " tanya nya lembut.
"Aku sudah mendengar kutukan itu dari ibu Ratu. Aku ingin mengatakan, akh bukan. Aku ingin menitahkan mu untuk tidak pernah berpikir bercerai dengan ku. Atau aku akan memenggal kepala mu itu! Dan aku juga tidak setuju kau memiliki selir. Aku egois? Oke. Aku mengakui itu. " Celetuk Reva. Ia sudah tak bisa menahan diri lagi.
Deg.
Alden tertegun. Ia bahkan tak pernah mengira bahwa Reva istrinya akan mengatakan hal ini.
Reva! Aku mencintai mu! Hanya kau! Hanya kau di Dunia ini!
Alden tersenyum puas. Sangat bahagia atas keputusan Reva.
"Kau rela tidak menjadi seorang ibu? "
"Aku sudah menjadi seorang ibu. Dafa, kan anak kita? "
"Kau benar. Kita sudah memiliki Dafa. Tak ada yang kurang kan? "
"Tapi Alden, bukan kah kau yang setiap malamnya membisikkan padaku untuk memiliki anak? "
"Tidak juga. Tujuan utama ku adalah tidur dengan mu. Karna kamu, segalanya untuk ku. Jadi, bisakah tidur agak larut? " Alden mengedipkan sebelah matanya.
"Alden!! " Reva memukul pelan bahu Alden. Wajah nya merona. Ia tau maksud kalimat Alden terakhir.
"Reva, Aku mencintai mu. Tak peduli apapun yang terjadi. Aku akan mencintaimu... " Alden menarik dagu Reva. Mendaratkan satu kecupan di sana. Alden sudah menindih Tubuh mungil Reva.
"Jangan terlalu di pikirkan. Kita punya Dafa yang akan menemani kita. Tunggu beberapa tahun lagi. Kita akan membawa Dafa. Oke? "
***
__ADS_1