Perjalanan Reva

Perjalanan Reva
Empat Belas


__ADS_3

***


"Aila,  carikan sebuah rumah sakit,  atau toko obat dan semacam nya.  Carikan satu bangunan.  Aku ingin membuat sebuah rumah sakit" pinta Reva duduk di taman bunga,  tengah malam itu.


"oh?  Sudah dapat pengelola nya?  Seira yang bodoh itu kah??  Jika anda bilang aku,  makan aku dengan berat hati akan menyerah.  Mengelola bar saja,  aku sudah sangat kerepotan" sanggah Aila.


"semakin lama kau semakin berani"


"lidah ku juga semakin tajam kan?  Huh..  Tentu saja,  aku belajar dari nyonya"


"bicaralah sesuka mu~" segera Reva kembali ke kamar nya.


Tubuh mungil nya ia baringkan di tempat tidur itu.  Pandangan nya jatuh pada ruangan itu,  motif dan gaya kuno yang unik. Menarik pikirnya. Sudah semalaman ia tidur di kamar ini.  Baru di sadarinya,  dekorasi kamar ini berdominan warna hijau muda.


Kembali ia memejam kan mata nya. Sekilas,  ia mengingat Alden,  pangeran lumpuh yang menyedih kan itu melintas di pikiran nya.


"ukh.. Aku merasa bersalah.  Aku harus minta maaf padanya saat dia kembali nanti" gumam Reva yang beberapa saat kemudian telah tertidur.


***


rembulan yang bergeser oleh matahari, menandakan bahwa aktivitas akan di mulai.


"Dia masih belum kembali ya??  Kemana dia sebenarnya pergi?  Apa dia benar-benar marah padaku?? Humph!! " gumam Reva yang duduk di kamarnya.


"nyonya~ ayolah kita kehalaman belakang,  aku ingin segera melakukan penelitian" teriak Aruna yang baru masuk bersama Seira.


"oh kau?  Sudah sembuh?? " tanya Reva.


"sebenarnya dia belum sembuh total nyonya.  Tapi,  dia memaksa ingin pergi meracik obat dengan anda" sambung Seira.


"humph!!  Kak seira jangan begitu~" rengek Aruna.  Yah usia Aruna satu tahun lebih muda dari Seira.


"sudah lah,  ayo ke halaman belakang"


Mereka bertiga pergi ke halaman belakang,  untuk meracik beberapa obat.  Beberapa kali juga Reva sedikit takjub akan kemampuan medis nya Aruna.


***

__ADS_1


"bibi Ayana?  Kapan Alden kembali??  Kenapa dia lama sekali pulang nya?? Apa dia sering bepergian seperti ini?? " tanya Reva yang tengah makan malam di halaman belakang,  di temani hampir seluruh pelayan wanita nya.


Pertanyaan beruntun Reva itu membuat tertawa mereka semua.  Saat ini,  Reva benar - benar seperti seorang istri yang kesepian tanpa suami nya.  Padahal,  waktu itu dirinya sendiri lah yang ingin  tidur sendiri.


"pufttt,  baru beberapa hari tapi nyonya sudah sangat merindukan tuan muda" ledek bibi Ayana.


"bagaimanapun juga,  nyonya muda adalah pengantin baru" sambung para pelayan lain nya.


"oh sudah berani meledek ku yah?? "


"haha ampun nyonya,  kami mana berani"


"humphh!!!  Kalian ini!! "


"nyonya yang marah ini terlihat imut sekali"


"aishhh kalian ini benar - benar deh"


Hanya dalam waktu tiga hari,  Reva sudah kelihatan begitu akrab dengan para pelayan kediaman pangeran ke empat.


***


Suara berisik ini membangun kan Reva,  dia yang sedari dulu selalu berada dalam bahaya,  tentu saja memiliki kepekaan terhadap suara seperti ini.


Terasa sebuah tangan ingin menyergap nya.


"siapa kau?!  Beraninya masuk kedalam kediaman pangeran! Apalagi mencoba membunuh aku,  permaisuri tercinta nya!! " peringat Reva pada orang itu,  wajah nya tidak terlalu jelas karna keadaan yang redup. Di tangan Reva sudah tersedia sebilah pisau yang lumayan tajam.  Di todongkan nya pada orang itu,  sebagai bentuk perlindungan diri.


"ini aku...  Tidak  kah kau mengenali suami mu sendiri??  'Permaisuri tercinta ku' ??" suara ini milik pangeran Alden. Tentu saja ini sangat mengejutkan Reva.


"eh kau??  Maafkan aku.. Di sini terlalu gelap,  aku tak bisa melihat kalau itu kau" jelas Reva yang salting. "aishh... Habislah aku...tadi dengan lantang nya,  aku bilang aku adalah permaisuri tercintanya!  Apa dia marah?? " tambah nya di dalam hati.


"baru beberapa hari saja tidak bertemu,  aku sangat merindukan 'permaisuri tercintaku'"


"emm...  Apa kau baik - baik saja?? "


"akan lebih baik jika aku tidur di ranjang,  duduk di kursi ini seharian membuat punggung ku sakit. Bisakah "permaisuri tercintaku' ini membantu memapah ku??"

__ADS_1


"ehh baiklah"


"sedari tadi mengatakan 'permaisuri tercinta ku' !! Permaisuri tercinta ku!! sengaja ingin mengejek ku yah! Humph!!  Dasar pria!!" batin Reva, kini gadis itu tengah menahan emosi nya.


Reva memapah Alden dengan perlahan.


"ukhhh... " desis Alden.


"apa kau baik - baik saja??  Apa ada luka?  Sakit kah?? " tanya Reva sangat khawatir.


Alden menaikkan sebelah alisnya,  tersenyum tipis menatap permaisuri nya ini.


"tidak ada. Selama 'permaisuri tercintaku' ada di sini, tak akam pernah ada yang namanya rasa sakit"


"humph!!  Kenapa jadi posisi tidur begini??!! " batin Reva,  ia tertidur dalam pelukan Alden.  Tepat di belakangnya Ada alden yang rapat dengan tubuhnya. Satu  tangan kekar Alden,  melingkar di perut Reva.  Deruan napas Alden dapat terdengar jelas di telinga Reva.  Pipi merah merona karna malu,  sudah menghiasi wajah cantik Reva.


"sudah lah jangan bergerak.. 'permaisuri tercintaku' " gumam Alden merasakan gerakan Reva.  "entah kenapa,  aku sangat senang mengulangi kata ini,  'permaisuri tercinta ku' hehe.. Jangan salahkan aku,  kau sendiri yang mengatakan,  kau adalah permaisuri tercinta ku" sambung nya di dalam hati.


"cukup!!  Dari tadi kau mengatakan permaisuri tercintaku!  Apa tidak bosan?!! " bentak Reva kesal,  menoleh ke arah Alden,  tanpa di sadari itu memangkas jarak diantara mereka berdua.  Bahkan sudah tidak ada jarak lagi.


"a.. A.. Akuuu.. Akuu" ucapan Reva gagu terbata.  Dirinya salting.


Alden yang melihat istrinya yang tengah gugup,  seperti bocah lima tahun yang melakukan kesalahan.  Merasa istrinya terlihat seperti kelinci yang sangat lucu.


"aku apa??  Sudah lah...  Tidak perlu di permasalahkan.. Kau memang adalah permaisuri tercinta milik ku" balas Alden memeluk tubuh mungil milik Reva,  mendekap nya di dada bidang milik nya.


Reva hanya bisa terdiam mebeku,  tersipu malu.  Ini tidak seperti Reva yang biasanya,  yang selalu tenang dan santai.  Pria yang tengah memeluknya sangat erat ini,  mampu meluluhkan benteng ke tenangan Reva.


"apa ini?? Kenapa??  Kenapa hanya karna pria ini,  aku kehilngan ketenangan ku?!!  Batin Reva.


Perlahan, mereka berdua tertidur saling mengahangatkan.


***


Ayooo like,  komen,  and vote


Jangan lupa follow yah

__ADS_1


Salam manis Author


oh yah, akan ada pergantian foto sampul. hehe


__ADS_2