
***
"Dafa, sayang nak. Dengarkan kata Bunda yah. Jangan pernah biarkan siapapun lihat tanda mawar hitam ini, mengerti? " peringat Reva lembut. Dengan hangat memeluk Dafa yang sudah ada di pangkuan nya.
"Kenapa Bunda? Kenapa gak boleh? " tanya Dafa dengan polosnya.
"Karna ini rahasia kita.. Rahasia tidak ada yang boleh mengetahuinya yah kan? , termasuk Ayah Alden" sahut Reva masih setia membelai lembut Dafa kecil yang manis.
"Tapi, kenapa Ayah Alden tidak boleh tau. Dia kan Ayah Dafa bunda? "
"Apa Dafa ingin melanggar kata - kata Bunda?"
Dafa menggeleng pelan mendengar ucapan Bunda nya ini.
"Kalau begitu rahasian ini ya" pinta Reva yang tak pernah kehabisan kesabaran jika itu tentang anak kecil.
"Baiklah Bunda, Dafa tidak akan memberitahu siapapun. Termasuk Ayah Alden"
"Anak bunda yang pintar, Bunda sangat suka. Baiklah pergi main dulu ke tempat bibi Aila, Bunda ingin berbicara dengan Bibi Seira"
"Baiklah Bunda" sahut Dafa manis mencium pipi Kanan kiri Reva secara bergantian.
"Nyonya, maksud anda apa? " tanya Seira yang sedari tadi ada di hadapan Reva.
"Kau mendengarnya kan? Berusaha lah menyembunyikan tanda Bangsa Netcher milik Dafa terutama dari Alden" peringat Reva.
"Baik lah Putri. Saya akan terus menjaga rahasia nya, Apapun taruhan nya" sahut Seira ikut serius.
"Dan berhati - hati lah. Aku selalu merasa ada yang aneh dengan kediaman ini"
"Baik Putri. Saya akan lebih berhati - hati"
Alden tidak boleh tau tentang Dafa. Jika dia tau, Dafa pasti akan di minta bersumpah, dan aku juga tidak tau apa dampak dari Sumpah itu.
Batin Reva. Kini dirinya sedang dalam resah gundah.
__ADS_1
"Putri? Apakah ada masalah? " tanya Seira menyadari perubahan wajah Reva. Tentu saja, Reva yang biasa nya begitu tenang, saat ini tengah Gusar pasti masalah nya besar.
"Alden akan membantai habis Bangsa Rambell dan Netcher yang di temuinya. Semuanya Demi makmur dan sejahtera nya bangsa Ksatria. Untuk itu lah--"
"Tunggu... Maksud Anda, Jika pangeran Alden mengetahuinya, mengetahui Tanda di bahu Dafa, maka dia--"
"Kau benar Seira, Maka orang itu akan di habisi oleh Alden"
Wajah Reva dan Seira sama - sama Sedih, entah lah. Yang jelas itu merusak mood keduanya.
***
"Wah, Kemarin malam ada yang tidak datang. Kemana?! Aih... Aku lupa, tentu menghabiskan waktu bersamaa Suaminya, iyah kan Nona? " Sindir halus Aila yang sudah duduk manis di atas cabang pohon di sebelah Reva.
Reva menghela napas kasar, ia melirik ke arah Aila sebentar. Yah memang, ini adalah Resiko Reva memiliki bawahan yang berlidah tajam.
"Diam lah, Tak perlu di bahas" sahut Reva enggan.
"Cek.. Apa Dafa akan memiliki Adik? Aku punya ponakan baru? " celetuk Aila begitu santai.
Kalimat santai nya ini sukses membuat nya jatuh dari dahan itu. Tentu karna Timpukan Reva.
"Nona! Kejam nya Anda" protes Aila membersihkan jubah nya.
"Jika kau masih berisik dapat di pastikan kita ketahuan"
Aila melirik ke arah barat, tampak ada beberapa penjaga yang beru keluar, tidak melakukan apapun hanya menjaga gerbang Depan.
"Ikuti aku! " titah Reva yang langsung melompat dari pohon ke pohon di ikuti oleh Aila di belakang nya.
"Nona, Ada apa? " tanya Aila ikut berhenti saat Nona nya berhenti.
"Hei... Gimana kalau sekarang kita main uji otak? "
"Maksud Nona? "
__ADS_1
"Aishh.. Kenapa sekarang kau semakin bodoh. Apa aku bisa mengandal kan mu lagi?" cibir Reva yang merasa gadis lidah tajam nya semakin bodoh.
"Apa apaan ini? Jika aku bodoh, tak kan mungkin aku menyadari bahwa itu tanda palsu"
"Terserah lah. Heiii, Aila. Coba kau pikirkan kenapa Desa yang paling dekat dengan Perbatasan malah yang paling hancur. Dan Desa yang paling jauh malah tidak ada kerusakan. Bukan kah harus nya Desa yang paling jauh itu yang tidak bisa di lindungi oleh Pengawal Perbatasan, dan harus nya Desa itu lah yang kacau balau--"
"Tapi ini, Tunggu-- Jangan - Jangan Maksud nya?!"
"Benar. Sumber masalah itu sendiri ada di Benteng Perbatasan"
"Mereka?! Apa yang sebenarnya terjadi?! "
"Apakah kau lupa? Bangsa Rambell yang menyamar menjadi pengawal yang kita habisi kemarin malam?"
"Tunggu! Apa maksud nya Nona ini--"
"Terus berhati - hati. Khsus nya kau yang adalah bangsa Netcher. Bangsa yang selalu di incar, baik bangsa Rambell maupum Ksatria"
"Tenang saja Nona. Oh yah, Aku mendapat surat dari Kai. Dia bilang sedang perjalanan ke sini"
"hemmm bocah itu" gumam Feva tersenyum tipis, tampak nya Reva memang membutuhkan sosok Riekai di samping nya.
"Sebenarnya apa Tujuan Nona mengajak aku keluar malam ini" tanya Aila yang masih belum mengerti.
"Astaga... Aila dengar, Dua Desa yang letak nya agak jauh dari perbatasan tidak banyak kerusakan. Yang artinya warga Desa nya Pasti selamat, dan sedang berada di suatu tempat"
"Akhhh!! Jadi maksud nya kita harus mencari Warga Desa itu?! "
Reva mengangguk pasti.
"Akh kyaaaaa!! To... Long!! " Suara perempuan itu entah dari mana Asal nya.
Reva dan Aila saling memandang, sebelum kedua nya bergerak mencari asal suara itu.
***
__ADS_1
Udah nggak mau sampaikan apa - apa. '-'