
***
"oh yah? Lalu kenapa wajah nona merah merona tersipu malu? Haha"
"oh? Wajah siapa yang merah merona dan tersipu malu?? " tanya Alden yang baru datang.
"kau?? Apa yang kau lakukan di sini?! " celetuk Reva menatap sinis Alden.
"nyonya muda, sepertinya anda lupa. Dia adalah suami anda dan pemilik rumah ini. Apa yang aneh jika dia di sini" sambung Ferry.
"Aih... Nyonya ini. Kemarin masih sibuk menunggu pangeran Alden, saat orang nya datang malah di usir. Memang cinta kalian ini sulit di mengerti " tambah bibi Ayana. Senyuman tipis terlihat di wajah Alden, mendengar pernyataan bibi Ayana itu.
"Benarkah bu? Kakak ipar merindukan kak Alden?? " tanya Devan.
"eh... Orang ini, adalah putra bibi? " tanya Seira yang baru datang membawa beberapa makanan Ringan.
"iyah, tentu saja. Kami sangat mirip kan" tambah Devan berharap reaksi mereka semua terkejut.
"oh?"
"hmm"
"yah"
Jawaban beruntun itu datang dari Tiga gadis ini. Tentu saja itu sangat mengecewakan Devan.
Satu lagi, pagi yang hangat dan menyenangkan. Di tepi Danau Teratai. Suara gelak tawa obrolan terdengar begitu nyaring. Sambil sesekali Reva curi pandang menatap Alden, beberapa kali kepeergok Alden sendiri membuat Reva salting dan gagu sendiri.
"pangeran ada utusan dari kerajaan" ucap Seorang pengawal dengan seseorang yang di sebut utusan Kerajaan.
"oh? Ada apa?? " tanya Alden.
"lapor pangeran. Istana akan mengadakan jamuan dan ingin mengangkat anak angkat Ratu sebagai Pangeran ke lima. Mohon, pangeran dan permaisuri hadir " ucap pengawal itu, menunduk hormat.
"oh? Baiklah, kami akan datang besok. Pergilah dan sampaikan salam ku pada Ayahanda"
"perintah pangeran di terima" kata pangawal itu pergi meninggalkan kediaman Pangeran ke empat.
"Anak angkat Ratu? Siapa dia? Bukan kah itu artinya dia tidak memiliki hubungan darah dengan keluarga kerajaan" tanya Reva yang memang tidak tahu apapun.
__ADS_1
"Anak angkat Ratu, dia adalah Riekai Kertlan. Ratu di takdirkan tidak bisa memiliki anak kandung, sehingga dia mengangkat seorang anak yang di temukan nya. Awalnya Raja menolak memberikan nya gelar pangeran. Namun, pada akhirnya dia di jadikan pangeran juga" jelas Ferry.
"Riekai Kertlan?? " gumam Reva, nama ini mengingatkan nya akan seseorang. Riekai Atmaja. Bodyguard paling setia di zaman modern dulu.
"Rie... Kai.. Kai... Kai.. " gumam Aila, terasa sedikit nyeri di bagian kepala nya.
"ada apa Aila?? " tanya Seira yang khawatir.
Reva hanya mengernyitkan dahinya, seakan akan mengerti satu hal.
"kalian, pergilah.. Ada hal yang aku ingin bicarakan dengan permaisuri ku" perintah Alden. Segera mereka semua pergi.
"besok kita akan ke istana...pilih lah baju manapun yang kau suka" ucap Alden. "oh yah, ngomong - ngomong soal Istana, kenapa pelayan di kediaman ini menjadi sangat sedikit" tanya nya.
"bukan kah pelayan kediaman ini memang segini?
aku bukan orang idiot~ siapa yang tidak menyadari saat pelayan di sini bertambah tiga kali lipat"
"baiklah, ingin mengusir siapa usir saja. Ingin menambah siapa, tambah saja. Lakukan sesuka mu, kediaman ini sepenuh nya milik mu" ujar Alden, membaringkan kepala nya di paha Reva. Reva terkejut, namun ia tak kuasa untuk mengusir Alden. ada rasa tenang dan senang saat Alden mengucap kan hal itu.
"ku mohon... Jangan bergerak, biarkan aku di sini sebentar saja... "
Pagi itu, mereka menikmati harum nya teratai, merasakan sejuk nya angin.
***
"Aruna, ini adalah tempat mu bekerja hari ini dan seterusnya" ucap Reva masuk ke dalam sebuah bangunan, dengan tulisan di atasnya ' Toko Obat AK' .
"aku yang akan mengelola ini nyonya?? " tanya Aruna.
"iyah.. Bekerjalah dengan baik. Aku pergi dulu " Reva pun melenggang pergi bersama Aila.
***
"nyonya, bolehkah aku bertanya. Entah kenapa saat malam, aku selalu bermimpi berada di tempat antah berantah, selalu mengikuti seorang perempuan" tanya Aila di kamar Reva, Reva menutup buku yang di bacanya, menaikkan alisnya menatap Aila yang tengah dalam kebingungan.
"TyaReva Atmaja" ujar Reva singkat. Namun, ucapan singkat ini sukses membuat Aila tengah kesakitan luar biasa, mau pecah rasa kepalanya, dengan erat Aila memegang kepalanya, berharap kesakitan ini segera berhenti.
"Sakit... Sa.. Kitt" desisnya beberapa kali. Namun Reva, hanya diam menyaksikan hal itu. Berharap, Aila mengingat segala nya. Sayang sekali, Reva tidak tahan menatap Aila yang kesakitan ini. Reva meletakkan tangan nya di kepala Aila, tiba - tiba sinar cahaya hijau terpancar dari sana. Spontan Aila jatuh pingsan. Apakah itu kekuatan Reva?? Apakah Reva memiliki kekuatan khusus??!
__ADS_1
"Akh.... Selalu seperti ini" desis Reva menyentuh bahu nya, sudah bercucuran darah dari sana, tepat di gambar Bunga Mawar biru yang terlukis indah di bahunya.
"harus bertahan... Aku harus menemukan adik ku dulu... "
"aneh... Saat di Indonesia dulu, aku tak pernah merasa sakit seperti ini. Bahkan, aku merasa gambar ini tidak mempengaruhi ku. Lalu kenapa, sejak aku tiba di sini? Selalu saja terasa sakit, amat menyakitkan.. Saat aku mengeluarkan kekuatan khusus milik ku ini?? Tapi tak dapat di pungkiri, Sejak aku kesini, kekuatan ku ini juga bertambah berkali - kali lipat"
Batin nya masih dalam kebingungan. "sebenarnya... Ada hubungan apa antara aku dan dunia ini?? "
***
Jamuan di kerajaan pun tiba, Reva menuntun Alden masuk, tentu saja di iringi oleh pengawal dan pelayan setia mereka. Banyak sekali, mata yang menatap tajam ke arah mereka. Sekedar hanya ingin mencaci, atau pun merendah kan sepasang ini.
"hum... Kita lihat..siapa Riekai Kertlan ini?? " batin Reva.
Reva dan Alden duduk di tempat yang telah di sediakan, tempat khusus untuk pangeran dan putri ke empat.
"apa ada yang kurang nyaman?? " tanya Reva merasa, bahwa Alden sedang di hina oleh sekumpulan bangsawan menyedihkan ini. "humph!! Lihat saja nanti, saat suamiku membongkar rahasianya. Kita lihat, bagaimana kalian akan menjilat nya!!"
"kau mengkhawatirkan aku?? "
"iyah.. Jika kau memang benar cacat dan lumpuh"
"Ini memotivasi ku untuk menbakar wajahku, dan memotong kaki ku sendiri"
"jika kau melakukan itu, akan kupastikan kau akan menyesalinya!! "
"ppffttt... Kau ini lucu sekali.. Ekspresi marah mu ini terlihat menggemaskan. Teruslah seperti ini, tetap di sisiku dan terus mengkhawatirkan aku" ucap Alden lembut menarik Reva, mencium lembut kening perempuan cantik ini. Tentu saja ini membuat hampir seluruh tamu yang hadir terkejut melongo.
Apakah Reva tidak jijik?? Apa putri perdana mentri ini gila?!!. Mungkin ini lah yang tengah ada di otak mereka semua, saat Alden melakukan gerakan mendadak ini.
"woah.. Beberapa hari tidak bertemu, pangeran ke empat dan putri ke empat semakin mesra saja yah... " sambung Raja, yang datang bersama Ratu dan yang di sebut pangeran ke lima.
Pandangan Reva jatuh pada pangeran itu. "Riekai si bodoh.. " gumamnya.
***
Ayoo like komen and vote yah.
Jangan luoa follow me too.
__ADS_1