
***
"Pangeran pertama?! Maksud mu dia yang menyebabkan kekacauan ini?! " pekik Alden, ia sangat terkejut. ia tahu pangeran pertama memang bukan orang yang baik. Tapi dia juga tak menyangka pangeran pertama adalah pangeran bangsa Rambell juga.
"Saya tidak tahu kepastian nya pangeran. Tapi, dari cerita Ayahku pangeran Faras juga adalah pangeran Rambell. Dan saya juga pernah melihat pangeran pertama mengenakan kalung hitam iblis itu" jelas Aruna lagi. Ia berkata sejujur nya, berharap semoga Reva memaafkan nya.
"kurang ajar! Berani nya mereka menipu Ayahanda! Tunggu saat Ayahanda memenggal kepala mereka!" pekik Alden yang kali ini kalut dalam emosi nya.
"maaf membuat kalian kecewa. Raja tak kan memenggal kepala mereka, pangeran" sahut nya.
"Apa maksdu mu Aruna?! Katakan padaku, soal apa yang kau ketahui tentang bangsa Rambell. Dan aku tak suka ada sedikit kebohongan pun!" sidik Reva. Kini, ia merasa mendapat secercah Jalan untuk memecahkan teka - teki dirinya sendiri.
Bangsa Rambell dan itu adalah Aruna?! Haha kebetulan yang menarik! Permainan ini semakin membuat jiwa Bar - bar ku meronta - ronta.
Batin Reva, ia merasa sangat bersemangat untuk memecahkan teka - teki tentang dirinya sendiri.
"Aku tak kan berani berbohong pada Anda putri. Yang saya ketahui adalah Raja sudah mengetahui segala nya. Bahkan ini inisiatif Raja Sezhan, Raja kita yang sekarang untuk menikahi putri sulung Bangsawan Reyland dari bangsa Rambell" ia menarik napas panjang, untuk melanjut kan cerita nya. Ia tak ingin menggunakan kata yang salah untuk menceritakan rahasia ini.
"lanjutkan, ceritakan segalanya!" titah Reva singkat.
__ADS_1
"Raja bangsa Rambell bernama Titan Reyland. Dia memiliki dua orang putri. Putri pertama nya, Anggrei Reyland yang saat ini adalah selir utama di kerajaan Flawyard. Dan putri keduanya Feriya Reyland, dia meninggal sesaat setelah melahirkan pangeran Diaz. Apa kalian ingat, rencana pemusnahan untuk bangsa Netcher?"
Mereka semua mengangguk pasti. Berbeda dengan Aila, tubuh nya gemetar, menahan luapan emosi yang berkobar di hati nya. Bagaimanapun juga itu adalah bangsa nya, pembantai an bangsa nya tentu mendidihkan darah nya.
"Saat itu Raja Titan dan Raja Sezhan membuat kesepakatan. Entah apa isi kesepakatan itu sebenarnya, tapi yang jelas setelah bangsa Netcher musnah. Raja menikahi selir Anggrei dan melahirkan Pangeran Faras. Namun beberapa tahun kemudian Ratu pertama meninggal karna sakit, dan saat itu Selir utama Anggrei lah yang ingin di angkat. Namun, Raja Sezhan menghalau nya. Ia langsung menikahi Ratu kita yang sekarang " lanjut nya.
Semakin lama luapan emosi di hati Aila semakin besar, ia ingin menghajar semua orang yang ada di sini. Belum sempat Aila bergerak, mata tajam Reva telah menatap nya. Membuat Aila diam membatu. Dia mencoba sekuat tenaga menahan emosi nya.
"Bagaimana mungkin, kau mengetahui banyak hal? Sedangkan aku yang seorang pangeran tidak mengetahui apapun? " tanya Alden, dia sedikit ragu akan cerita Aruna.
"Ayah ku, dulunya dia adalah satu dari banyak nya kaki tangan nya Raja Titan. Saat itu, Ayah ku di minta untuk membunuh seseorang, tapi aku tak tahu siapa. Ayah ku menolak, dan dia dibunuh beserta seluruh keluarga ku. Kakak dan adik ku juga termasuk. hanya aku yang berhasil melarikan diri. dan itu pun berkat putri Reva yang menolong ku" kali ini cerita Aruna menghadirkan kesedihan nya. Ia kehilangan seluruh anggota keluarga nya di usia nya semuda ini.
Aila diam, ia tak menjawab apapun. Reva menghembuskan Napas kasar.
"Seira, kau yang lakukan" titah Reva.
Reva tentu mengerti, dalam kalut nya emosi dendam yang membara di hati Aila. Bukan menyembuhkan Aruna, mungkin saja Aila malah membunuh nya. Reva tak ingin mengambil resiko gila itu.
***
__ADS_1
"kenapa masih belum tertidur? Apa yang kau tulis tengah malam seperti ini bahkan di luar tenda. Permaisuri ku, ini sangat dingin ayo masuk" pinta Alden, ia memberikan jubah nya untuk menutup tubuh mungil Reva, yang tengah duduk menatap indah nya langit di luar tenda.
Reva menoleh, tampak pria dengan senyuman manis dan hangat nya ada di hadapan nya. Topeng di wajah nya masih setia melekat disana, membuat Reva kecewa tak dapat melihat wajah tampan suami nya.
"tidak menulis, hanya mencoret" sahut nya memperlihat kan kertas yang di pegang nya. penuh akan coretan aneh yang tak berarah dan tak beraturan.
Alden mengulum senyum manis, ia geli sendiri mendengar jawaban permaisuri nya ini.
"Kau ini, jika mencoret. Bukan kah bisa di dalam. Kenapa harus di luar? "
"Ingin aja di luar. Kelihatan lebih segar, dan ada kumpulan bintang yang bersinar di atas langit" sahut nya menatap langit. Sepontan saja Alden ikut mengikuti pandangan Reva.
"Yah itu indah, Tapi tubuh mu lebih indah dan sangat berharga. Ini harus di jaga, ingat kelak kau harus melahirkan banyak adik untuk Dafa"
Pikiran Reva yang sudah berbelit memikirkan seluruh masalah nya buyar begitu saja karna pria di sebelah nya ini. Reva melotot tajam pada Alden. Bukan marah, Alden malah membalas nya dengan ciuman hangat di pelipis Reva.
***
Aihhh... Kurang greget? Iyah wkwk..
__ADS_1
Yoo tinggal kan jejak yah, untuk semangat Author. Mungkin kalo lagi kesambet, mau crazy up lagi. Hehe