Perjuangan Seorang Dokter

Perjuangan Seorang Dokter
Sadar


__ADS_3

Aku tak harus marah , melihat apa yang ada di hadapanku , aku malahan sangat sadar , mestinya aku ini tak harus menerima pernikahan mendadak ini , aku menyalahkan hatiku , menyalahkan kenapa harus menerima nya saat itu .Bertumpuknya rindu dan cinta , membuatku menerimanya , cinta menghalangi logika . Aku merasa menjadi manusia yang bodoh , aku sadar , aku ini siapa .


Dina hanya diam di hadapan Aisyah .Tanpa ada air mata , hanya bengong , mengusap - usap perut Aisyah .


" Syah....nanti kalau baby mu lahir , aku jadi emak angkat nya ya...." ujar Dina setelah datang diam dan bengong , sedangkan Dewa sibuk me Wa Aisyah dengan kejadian beberapa waktu yang lalu tentang Aldi .


" Kamu lagi sedih Din ..? mau curhat...? aku bersedia mendengarkanmu "


Dina tersenyum .


" Gak Syahhhh...aku kangen naik motor scoppy Syah....".


Aisyah tersenyum membelai rambut Dina .


" Syah...punya kenalan gak tempat pangkas rambut , ku mau nyalon ".


Aisyah memberikan kartu nama sebuah salon .


" Syah...aku kapan - kapan datang lagi ya ..., maaf tadi gak bawa apa - apa ".


" iya...iya...hati - hati ya Din."


Dewa pun mengantar Dina ke salon tersebut .


" Wa...aku kayaknya lama nih , maklum emak - emak ....makasih tumpangannya ya...."


" Siiipppp..kalau mau ku jemput nanti , info aja ya Din...maklum jomblo , " ujar Dewa tersenyum .


" Ku gak nanya status Wa...hehehehe...Dina tertawa ."


Dina memasuki salon .


Menatap rambut nya yang lumayan panjang .


" Tolong pangkas rambut saya , menjadi model seperti ini tunjuk Dina di sebuah gambar yang ada di sana , Dina menunjukkan tatanan pangkas pendek seperti tatanan pangkas cowok ".


" Anda yakin...tanya sang pemilik salon."


" Yakin..., ujar Dina."


Selesai sudah , rambut Dina habis , terasa rjngan , ujar Dina dalam hatinya .


Dina mengambil treatment perawatan wajah dan tubuh , namun Dina tidak mau bagian perutnya di urut . Dina sangat rileks , berserah dengan apapun yang akan dia alami , dia sudah pasrah .


Dina seperti biasa membalas Wa Aldi .


Tidak mematikan handphone nya , tidak menangis . Rasanya menerima keadaan dan tau diri sudah cukup bagi nya .


Dina ke mall , memakan steak , membeli beberapa buku, membeli topi .Dina pun pulang dengan menggunakan taxi .

__ADS_1


Udara yang dingin membuatnya kedinginan , lupa memakai jaket dan syalnya .


Dina tepatnya sampai pukul 10 malam di mansion , Dina tadi selepas dari salon juga duduk pengen ngopi - ngopi sendirian , hanya main game menghibur dirinya sendiri .


Sebuah email berbunyi dan dia membaca nya .


Hmmmm...seminar di Bali.....


Seminar spesialis bedah .


Dina membuka pintu mandion . Dina dan Aldi sama - sama mempunyai kunci masing - masing .


Dina meletakkan sepatunya di rak sepatu , beberapa sepatunya sudah kotor , Dina membatalkan niatnya meletakkan sepatunya . Dina mengambil 3 pasang sepatunya yang sudah kotor , menuju ke tempat pencucian .Dina menyikat perlahan sepatunya .Dina tersenyum melihat kotornya sepatunya .Kebiasaan menyukai sepatu putih sudah berlangsung sejak dia SMP , terikuti hingga sekarang . Dina memfoto sebuah sepatu , yang lumayan kumal , sepatu pemberian Pakdos Derren , ketika pertama kali dia bertugas di Rusia , memfoto sebuah sepatu yang berbeda , hadiah dari Bian .


Sepatu nya ke 3 , pemberian papa nya, mengirim ketiga gambar ke Wa pemberi sepatu , Dina juga memposting ketiga sepatu dengan Caption sepatu kumalku .


Dina perlahan menyikat telapak sepatu nya dan sangat senang ketika melihat sepatunya kini bersih . Dina sibuk mengucak sepatunya di sebuah ember .


Semua sudah bersih .Dina mengambil ember , kemudian perlahan pergi ke ruang pengeringan , Dina menyusun ke 3 sepatu tersebut disana . Dina duduk di sebuah kursi sambil memandang di kejauhan malam .


Sebuah sosok yang sejak tadi melihat nya pun menghampirinya , sebelum menghampiri Dina .


Dina tiba - tiba membuka topi nya , sosok itu sangat terkejut melihat ke arah Dina .


Dina juga sangat terkejut , karena larut dalam dunianya . Tidak menyadari kehadiran sosok suaminya .


" Mas....ngagetin...," ujar Dina .


" Kenapa di potong ? " tanya Aldi masih terkejut .


" Gerah....pingin lebih praktis , " ujar Dina .


Dina berdiri dan perlahan menaiki tangga , kemudian memasuki kamar dan masuk ke dalam kamar mandi . Dina hanya menunduk menatapi dirinya . Sejak di vonis akan sulit mempunyai anak , Dina menjadi sadar Diri , dan dia tidak harus menangisi dirinya lagi , sudah cukup air matanya menyalahkan Tuhan , namun ketika dia melihat perjuangan Sky , dia merasa malu , Sky jauh lebih kuat dari padanya .Dan sadar semua pasti ada himahnya .


Dina keluar dan memakai hoodie nya , udara terasa sangat dingin , Dina membaringkan tubuhnya di ranjang .


" Din....kamu marah pada mas ? " ujar Aldi .


" Tidak....".


" Kenapa potong rambut ?"


" Pengen aja , praktis dan fresh ."


Dina kelupaan , bahwa besok Dia akan terbang ke Bali , mengikuti seminar bersama dokter spesialis bedah dari berbagai negara .


Dina pun bangkit , menuju ke walk in closet .Mengambil koper sedangnya , membukanya , kemudian memilih beberapa pakaian dres , atasan dan bawahan , kemeja , jaket , topi , sebuah high heels .


" Kamu mau kemana sayaang...., kamu marah sama mas , maaf mas gak cerita soal Sarah ke kamu ."

__ADS_1


" Besok Dina pagi - pagi akan melakukan penerbangan pertama mas , besok Dina harus berada di Bali , selama 3 atau 4 hari menjalani seminar ."


" Dina gak marah , Sarah wanita yang cantik , sehat , " ujar Dina tersenyum .


Dina berbaring , Aldi pun mengikutinya .Aldi sangat bingung , Dina tidak ada menangis seperti biasanya , Dina juga terlihat tenang , tidak terlihat perasaan cemburu , marah,itu semua membuat Aldi bingung .


Dengan sangat cepat , Dina tertidur . Aldi berdiri dan duduk di samping tempat tidur .


Aldi tidak bisa tertidur , pikiran Aldi kacau .Aldi kembali berbaring di samping Dina ketika Dina sudah berubah posisi .


Aldi menatap wajah Dina , membelai wajah Dina , dan Aldi merasa sangat bersalah , tidak menjelaskan soal Sarah . Aldi tidak ada maksud menutupi nya sama sekali .


Ketika pukul 4 pagi , perlahan Dina bangun , mendengar alarm nya berbunyi .


" Din...Sarah bukan siapa - siapa mas , mas gak pernah menduakan kamu , mas gak pernah tertarik sama siapapun , Sarah hanya teman , relasi mas . Mas tidak tau dia juga mengambil S3 nya disini ," ujar Aldi .


Aldi menjelaskan semua , terasa lega sesudah menjelaskannya .


" Mas tidak cerita karena dia bukan siapa - siapa , mas ingin kamu tau , mas gak pernah menduakan dan menghianati hubungan pernikahan suci kita .Mas sudah sangat bersyukur memilikimu Din...sangat....".


" Sarah sesekali ikut dengan mobil mas , karena mobil nya rusak , mas mengantarkannya ke apartemennya atau terkadang ke bengkel ".


" Hanya 2 kali Din...mas hanya kasihan ketika kuliah malam dia perempuan , berjalan ke depan mencari taxi , tidak lebih dari itu ."


" Iya...mas...gak apa - apa , " ujar Dina datar tanpa expresi sama sekali ."


Dina memasuki kamar mandi , bergegas memakai hoodie nya , memakai topi putih , syal hitam , hoodie putih , dan celana Denim hitam .


" Maaf mas , sarapan hari ini kecepatan Dina masak , nanti panaskan saja ya mas di microwave ."


" Ya...," ujar Aldi .


" Dina pamit ya mas ...bye ....," ujar Dina .


" Mas antar ya...," ujar Aldi menggenggam tangan Dina , dan memeluk Dina sangat erat .


" Gak usah mas....mas Bian yang antarin Dina ."


Dina menyeret kopernya , Aldi mengusap wajahnya .


Dina sangat berbeda , Aldi hanya bisa menatap Dina dari balkon. Dina melambaikan tangannya . Hati Aldi terasa perih , senyuman Dina begitu tulus , tanpa marah , sedih dan kecewa .


💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕💕


Jangan lupa like


Vote


Koment

__ADS_1


Salam sehat selalu


Dina pun menutup emailnya


__ADS_2