Perjuangan Seorang Dokter

Perjuangan Seorang Dokter
Ujian Percepatan


__ADS_3

Dina dan Aldi telah kembali ke Jerman. Mereka siang nanti akan mengikuti ujian percepatan. Aldi dan Dina duduk di lantai atas cafe. Mereka sibuk membaca berbagai buku, dan mengulas balik serta saling bertanya jawab membahas tentang berbagai hal dalam dunia medis .


Mereka akan menghabiskan kurang lebih 2 tahun masa koas. Jika orang berpikir, study kedoteran itu terlihat santai, itu salah besar. Bahkan perkuliahan bisnis Aldi saja sudah tinggal meja hijau, sedangkan kuliah akademis kedokteran belum kelar, sepadai apapun butuh proses dan gak instant.Wajar sih, menyangkut nyawa dan kehidupan pasien .


Aldi sesekali menggenggam tangan Dina . Mengusap wajah kekasihnya dengan sapu tangannya .


" Minum dulu, santai dan tenang.Kamu pasti bisa,kita saingan yah...ujar Aldi."


"Kalau Dina menang dari mas,taruhannya apa?," ujar Dina .


" Hmmmm....boleh minta 3 permintaan, " ujar Aldi .


" Mas mirip jin nya Aladin," ujar Dina.


Aldi pun terkekeh .


" Okey ..kita sepakat....," ujar Dina mengulurkan tangannya pada Aldi,Aldi pun menyambut uluran tangan Aldi."


Aldi sengaja menarik tangan Dina , sehingga Dina terjatuh di pelukan Aldi . Aldi perlahan mencium bibir Dina yang ranum . Aldi dan Dina saling memandang . Aldi kemudian mengelus wajah Dina .


" Berjuanglah bersama mas Din....," ujar Aldi .


" Hmmm.....," ujar Dina .


Aldi pun memeluk Dina , sambil mengusap kepala Dina .


Mereka melangkah ke kampus, dengan menyandang tas ransel .


Alya dan Dina duduk terpisah . Terlihat William Stenford,juga mengikuti kuliah percepatan, Melani dan Dewa juga ikut, terlihat juga Alan West si pria pemalu, dan kuper. Salah satu pengagum Dina .


Mereka duduk sesuai nomor ujian, mereka akan mengikuti 4 jam lamanya test diberikan pihak kampus , dan setiap lembaran mempunyai waktu yang sudah di tetapkan. Dosen pengawas silih berganti berjalan mengitari ke 30 peserta . Yenna Smith dan Lisa Bernard juga terpilih mengikuti ujian .


Semua peserta fokus dan tidak ada suara, ruangan sangat senyap. Masing masing peserta sibuk dengan lembaran lembaran mereka . Terlihat juga Dokter Ken, Dokter Alan, Dokter Samuel, Dokter Grace mengawasi mereka . Dokter Darren melototkan matanya saat ke 3 temannya dengan berani menatap sosok Dina yang sedang fokus mengerjakan lembaran soal.Beberapa hasil ujian telah keluar dan sudah di upload di email peserta, juga adandi pajangkan di mading kampus . Terlihat Dina mengumpulkan lembaran nya dan juga alat tulisnya,di ikuti Aldi setelahnya . Terlihat juga William dan Aldi bersamaan berjalan menyerahkan lembaran terakhir test mereka .

__ADS_1


Dina bukanlah mahasiswi yang sombong , walau dia pintar , tetap bersikap biasa saja seperti mahasiswa lainnya .


Dina membungkuk dan permisi keluar .


" Hasilnya sudah ada di mading kampus Di...," ujar pakdos Darren .


" Baik pak...makasih...," ujar Dina.


Aldi pun membungkuk dan berjalan bersisian dengan Dina. Sedangkan Ke 3 dokter bertugas mengambil hasil lembar ujian yang sudah di periksa komputer .


Dina melihat, nilai nya ada beberapa yang unggul peringkat pertama, di susul dengan aldi dan William .


Dokter Ken mendekati Dina .


" Ke dua pria ini saingan beratmu ," ujar dokter Ken.


Dina hanya tersenyum .


" Orangnya cantik, pintar, mengagumkan...," ujar dokter Samuel menaik turunkan alisnya ketika mendekati Dina .


Aldi memberi Dina air minum .


" Kayaknya mas deh juara 1," ujar Dina.


" Berarti mas boleh meminta 3 permintaan?" ujar Aldi .


" Ihhh...ujar Dina dengan manja sambil tersenyum ."


Walau mereka pacaran, tidak pernah ada saling mengalah soal ujian maupun lainnya. Mereka tetap bersaing memperebutkan nilai. Terkadang semester 1 Dina unggul secara umum IPK nya tertinggi, semester berikutnya bisa Aldi. Sama seperti sewaktu mereka Sd, Smp dan Sma.


Keseluruhan nilai pun di tempel, mereka hanya terpaut 1 point. Aldi Wijaya mendapatkan urutan pertama, Dina urutan ke dua, dan William Stanford urutan ke 3, urutan ke 4 Dewa, urutan ke 5 Melani .


Yenna , Lisa dan Alan gugur karena di posisi 5 ke atas .

__ADS_1


Hanya 5 mahasiswa / mahasiswi yang di ambil .


Dina sangat bahagia . Demikian juga Aldi. Dina memeluk Aldi .


" Aku kalah ," ujar Dina tertawa .


" Namanya kalah gak ada yang tertawa Din...," ujar Melani .


" Anehh...," ujar Yenna.


" Kita pisah deh....," ujar Lisa .


" Kita bakal ketemu di koas. Berjuang lagi dong...," ujar Dina .


"Baiklah....ujar Alan menunduk .


" Banyak kemajuan Al...," kamu peringkat ke 6 loh..ujar Dina".


Alan tersenyum dan kembali menunduk .


" Ukirlah mimpimu tetap bersamaku, kita akan mengukir bersama, berjuang bersama, jadilah bagian terbesar dari hari- hari ku, jangan pernah tergantikan cerita usai. Kita jangan pernah menyerah, berjuanglah, kita bersama akan menunggu hari indah kita. Bisik Aldi di telinga Dina, Dina dalam pelukan Aldi ".


Dina mengangguk sambil menatap Aldi .


Tatapan pakdos Darren dan ke 3 dokter senior dilanda kegalauan. Melihat adegan di depan mata mereka .


Pakdos Darren menjelaskan, mereka akan memulai perkuliahan mereka dari pukul 7.30 pagi hingga pukul 12 siang. Akan penuh jadwal tugas dan lab .


Aldi, Dina, William, Dewa dan Melani pun mengangguk . Melani sangat bahagia bisa bersama dengan teman temannya dalam kuliah percepatan .


👫👫👫👫👫👫👫👫👫👫👫👫👫👫👫👫👫


Jangan lupa like

__ADS_1


vote


koment


__ADS_2