Perjuangan Seorang Dokter

Perjuangan Seorang Dokter
Keluarga


__ADS_3

Derren membawa 2 kotak pizza pesanan Dina. Derren paling tau Dina suka rasa apa buat tooping pizza .


Derren memasuki ruang perawatan , terlihat Dina berbaring memunggungi Aldi . Aldi terlihat sangat kacaw , sebenarnya Derren kasihan melihat wajah dan keadaan Aldi , cukup sulit juga berada di posisi Aldi . Aldi menatap tajam ke arah dokter Derren .


Dokter Derren sengaja bersikap cuek .


" Din....nih....makan dulu , lagi pengen kan....sesekali boleh makan kok ."


Dina di bantu dokter Derren untuk duduk bersandar di ranjang .


Tatapan Dina sangat antusias memandang pizza kesukaannya , sudah sangat lama dia tidak menikmati pizza seperti saat ini .Dina mencium aromanya dan tersenyum sangat bahagia .


Dina pun mengambil sepotong pizza , menggigitnya , kemudian Dina mengunyah dengan semangat .


" Enak.....enak banget malahan....," ujar Dina tersenyum pada Derren .


" Makanlah perlahan , jangan terburu - buru ".


" Makasih mas....sangat wangi...," ujar Dina .


" Mas Derren makan juga ya....".


Dina sengaja tidak menawari dulu ke Aldi , Dina mau lihat reaksi Aldi .


Sambil mengunyah pizza , Dina tersenyum melirik ke arah Aldi .


Derren ada panggilan mendadak , untuk mengoperasi pasien .


Dina memandang ke arah Aldi .


Aldi belum makan , terlihat lusuh belum mandi .


" Bau apa yaah....seperti ada yang belum mandi, kicau Dina ."


Aldi melirik ke arah Dina .Dan menyadari bahwa dia belum mandi . Aldi pun berdiri , mengambil pakaiannya dan menuju kamar mandi .

__ADS_1


Sebelum Aldi masuk , Dina pun berujar .


Brewok mas , sudah panjang . Itu mama ada bawa mesin cukur , Sini Dina bersihkan , ujar Dina .


Aldi dengan semangat 45 , mengambil mesin cukurnya dan memberikannya ke tangan Dina .


Dina membersihkan jambang nya Aldi . Dengan wajah sangat bahagia , Aldi tersenyum .Dina mencubit kedua pipi Aldi begitu selesai membersihkan .


" Mandi mas....bau....," ujar Dina .


Aldi menahan tawanya , kemudian masuk ke dalam kamar mandi .


Dina sangat lega , perutnya gak sakit lagi .Tuhan masih baik , sebenarnya Dina salah , karena sebelum kontraksi hebat ini , Dina ada beberapa kali mengalami keram perut , Dina belum ada pengalaman merasa gerak bayinya . Ketika keram melandanya , dia baru tau, segitunya ternyata rasa keram yang membuatnya menjadi sangat takut .


Aldi mengeringkan rambutnya .


" Makan mas....pizza nya ....".


" Boleh ? " tanya Adli .


Sesudah selesai Aldi memakan pizza , Aldi pun minum.


Kemudian mama Dina memasuki ruangan Dina .


Terlihat wajah mama Dina masih menahan marah .


Tidak lama kemudian , mama dan papa Aldi pun datang , membawa aneka buah .


" Bagaimana keadaan mu nak...," ujar sang mertua .


" Baik ma.....".


" Maafkan mama dan papa , meninggalkan mu dengan bibi , maaf karena relasi papa , mengharuskan mama dan papa pergi menghadiri pertemuan itu .Mama merasa bersalah , keluarga kami sangat menyayangimu nak , tidak mungkin kami membiarkan mu sendiri nak .Kamu sudah seperti anak mama sendiri , kamu sudah bagian dari keluarga kami z ada atau tidak ada bayi kalian , kamu tetap anak mama, menantu mama ."


" Saya tidak terima , Dina diperlakukan seperti ini, setelah kejadian ini , baiknya Dina di kediaman kami saja , " ujar mama Dina .

__ADS_1


" Bukan membela diri bu , ada baiknya , masalah dan persoalan anak kita , mereka selesaikan sendiri , apa yang salah , mereka perbaiki , apa yang kita salah ,kita perbaiki , saling memperbaiki , agar lebih baik lagi ke depannya ."


" Saya tidak bisa membiarkan Dina kembali ke kediaman kalaian , selesai keluar rumah sakit , Dina akan kembali ke kediaman Dinata .Itu keputusan keluarga Dinata ."


" Bukankah Aldi sangat sibuk , kami tidak akan membebaninya menjaga anak kami , biar dia fokus S3 nya , fokus pada tugas nya di rumah sakit dan fokus pada perusahaan .Aldi tidak usah memaksakan diri ."


" Seharusnya isterimu Al....melebihi harga dari S3 mu , melebihi harta kekayaan Wijaya , melebihi tugas - tugas mu di rumah sakit ."


" Maaf pa......, Aldi begini buat masa depan keluarga kami , Dina melebihi segalanya , Aldi bukan mau menyia -nyiakan Dina ma...pa....."


" Ma....pa...sebenarnya , sebelum kejadian ini ,Dina mengalami keram selama 2 hari , Dina pikir itu pergerakan bayi , rasa perih dan sakit biasa .Ketika pagi , Dina kasihan melihat mas Aldi kelelahan , Dina juga ada panggilan urgent dari rumah sakit .Operasinya sulit dan beberapa jam .Dina juga salah ma...pa....".


" Sebenarnya sejak malam kamu datang ke rumah , mama tau kamu sedih Din...dari sorot mata kamu , kamu tidak bisa menutupi kesedihan dan rasa sepi yang kamu alami ."


" Ini sudah keputusan mama , di rumah ada kakek, nenek , mama , menemanimu .Tidak ada kata tidak . "


" Apa tidak baiknya di kediaman kami saja bu....bagaimanapun Dina menantu kami ."


" Tidak....ujar papa Dina .Bagaimanapun keluarga Dinata sudah memutuskan .Sampai kelahiran bayi Dina , Dina berada di rumah keluarga Dinata ."


" Sebenarnya jika anak kita sudah menikah , anak perempuan mengikuti suaminya , " ujar papa Aldi .


" Kami bukan tidak tau hal tersebut , tapi kesibukan keluarga wijaya kami ketahui . Apapun keluarga Wijaya inginkan , maaf tidak bisa kami penuhi .Karena anak kami juga hanya Dina , Dina juga datang bukan dengan tangan kosong , dia pewaris keluarga Wijaya , harusnya tidak seperti ini ".


Keadaan masih sangat tegang .


Dina tau kemarahan keluarga nya . Dina tidak bisa mengatakan apa - apa lagi . Dina perlahan berbaring , kepalanya pusing dengan semua persoalan yang sedang terjadi .


🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿🌿


Jangan lupa


Like


Vote

__ADS_1


Koment


__ADS_2