
“Ini semua salah Papa, kalau saja Papa tidak menamparnya, mungkin Shena saat ini masih bersama kita,” tutur Sandra dengan suara lirih, raut wajahnya terlihat sedih. Wanita itu duduk termenung di tepi ranjang, menatap jendela yang memperlihatkan suasana luar rumah.
Memang baru kali ini Shena tidak pulang ke rumah. Meskipun sudah dewasa, tetapi Sandra tetap masih memanjakan layaknya putri kecil.
“Ma, tenanglah. Nanti juga pasti dia akan pulang. Mama dari semalam terlalu panik. Shena itu sudah dewasa, dia tidak mungkin tidur di jalanan, teman banyak, hotel juga banyak. Kenapa kita harus pusing mikirin dia, dan pasti sekarang dia sedang ada di butiknya. Sudahlah, Ma, Papa bosan mendengar kegelisahan Mama.” Bagaskara tampak menahan emosi, karena istrinya terlalu mengkhawatirkan Shena berlebihan.
Walaupun tak dapat dipungkiri, dia juga khawatir akan keselamatan anaknya di luar sana, tetapi lelaki paruh baya itu mencoba tenang dan berpikir positif. Belum lagi, jika dia terlihat sangat peduli pada Shena atas kekhawatirannya, maka sudah dipastikan istrinya itu akan terus menggunakan trik tangisnya untuk mengiba pada sang suami.
__ADS_1
Bagaskara adalah lelaki keras kepala dan mempunyai sikap tegas yang tidak dapat dilawan oleh siapa pun. Tentu saja, faktor utamanya adalah harta sebagai penguat. Dia bisa menguasai apa pun, keberhasilannya selama ini bukanlah hasil dari belas kasihan orang lain, melainkan kerja kerasnya bertahun-tahun, sehingga dia merasa layak dihargai.
Sejak kepergian Shena dari rumah, Sandra terus berusaha menghubungi. Semua teman-teman Shena, tetapi tidak ada satu pun yang mengetahui keberadaannya, termasuk Melva yang berpura-pura tidak tahu, walau sebenarnya Shena sudah memberitahukannya sejak awal pergi dari rumah.
Bagaskara segera menelepon seseorang untuk mencari putrinya dan mengawasinya dari kejauhan tanpa sepengetahuan Sandra. Sementara Sandra, beberapa menit sekali, dia akan terus menghubungi Melva ataupun butik Shena untuk mencari informasi. Meskipun jawabannya akan tetap sama, mereka berbohong atas perintah Shena agar tidak memberitahukan papa dan mamanya di mana dia berada.
Shena mengurungkan niatnya untuk pulang ke rumah, rasa sesak masih begitu terasa ketika dia mendapat perlakuan kasar dari sang papa, masih sulit untuk dihapus dari ingatannya. Puluhan pesan dan panggilan tak terjawab dia abaikan, meski itu dari Sandra. Kali ini, dia tidak memedulikan perasaan sang mama yang begitu khawatir dengannya. Shena hanya ingin ketenangan, bukan tekanan yang melulu dia dapatkan.
__ADS_1
Di tengah perjalanan, Shena merasa aneh dengan mobil yang sejak tadi mengikutinya. Dia berusaha berpikir positif, mungkin saja mobil tersebut memang searah dengannya.
Akan tetapi, tak lama setelah sampai di mal dan berhenti di basemen mal, Shena keluar dari mobil, mengabaikan mobil yang tadi mengikutinya. Namun, lelaki itu ternyata ikut turun dan malah menghampiri Shena.
Suasana basemen memanglah sepi, hanya ada beberapa pengunjung yang pulang pergi dari mal tersebut. Sehingga tidak fokus terhadap sekitar.
Shena yang sudah mulai gelisah, dia mempercepat langkahnya saat dirinya sadar ada yang mengikuti. Meski ada sedikit rasa takut, tetapi dia berusaha tenang.
__ADS_1
Bersambung....