Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Satu Kamar


__ADS_3

“Shena, Shena ... kalau kamu masih bermain-main denganku, jangan salahkan aku yang akan membuatmu menjadi milikku seutuhnya!” tukas Roger yang tertawa senang ketika dia mengetahui bahwa Shena datang ke acaranya tersebut.


Di lain sisi, ketika semua sudah masuk ke dalam kamar masing-masing, Shena berusaha sekuat tenaga untuk berjalan ke arah kamar sesuai dengan arahan Melva. Namun, di belakangnya ada Elvino yang tengah berjalan sedikit terhuyung.


“El, kamar kamu di sana!” tutur Shena seraya menunjuk kamar yang saling berhadapan. Matanya terus mengerjap sela-sela karena kantuk.


El segera menuju kamar yang ditunjuk oleh Shena. Akan tetapi, Melva lupa memberikan kunci kamar tersebut pada Elvino. 


“Terkunci, Shen. Mataku benar-benar sudah tidak tahan sekarang.”


Elvino yang merasakan kantuk yang begitu berat. Dia pun langsung mengekori shena untuk masuk ke dalam kamar wanita itu. Dia sudah tidak peduli dengan situasi sekarang—berdua dengan Shena dalam satu kamar, yang dia butuhkan sekarang adalah ranjang untuk merebahkan tubuhnya yang sudah mulai lemas akibat kantuk yang tak terkontrol. 


Evino dan Shena berjalan menuju ranjang tanpa menutup pintu dengan rapat, kemudian mereka menjatuhkan tubuhnya masing-masing dengan kasar. Tak menunggu lama, keduanya terlelap begitu saja tanpa aba-aba. Saat mereka mulai terlelap, tanpa disadari mereka tidur berdekatan, tubuhnya sama sekali tak berjarak. Tangan Elvino pun tak sengaja berada di atas Shena seperti hendak memeluk. 


Langkah kaki Melva  menyusuri koridor menuju kamar Shena, berniat untuk memberikan kunci kamar Elvino. Namun, ketika dia mulai mengetuk pintu kamar Shena, dia mendapati pintu tersebut tak terkunci, sehingga dia langsung masuk. 


“Astaga! Maaf-maaf, aku nggak tahu kalau kalian ... aku hanya mau antar kuncinya El, tadi kelupaan mau ngasih.” Melva mendadak menutup matanya dengan kedua tangan, tetapi masih mengintip di balik celah jari. Dia berpikir Shena dan Elvino tengah melakukan pemanasan adegan dewasa di atas ranjang. Namun, saat keduanya tak bergerak, Melva mulai penasaran dan mulai mendekat.


“Shen,” panggil Melva memastikan. “Shena!”


Tak ada jawaban sama sekali, Melva justru hanya mendengar dengkuran lembut, menunjukkan mereka sudah memasuki alam mimpi.


“Kalian secepat itu tidur? Baru saja kita makan di bawah, udah pules aja begitu sampai atas. Dasar!” Melva mengulas senyuman tengilnya. Terbesit ide yang muncul di pikirannya. Dia mengeluarkan ponselnya berniat untuk mengambil beberapa gambar sebagai bahan candaannya saat bersama Shena nanti.


Melva beberapa kali memfotonya, juga membenarkan posisi mereka seraya menyelimuti dalam satu bed cover tebal—menutupi kedua tubuh mereka.

__ADS_1


“Sempurna!” Sepertinya aku tidak perlu lagi memberikan kuncinya, kalian ternyata memilih untuk tidur bersama. Selamat bersenang-senang, Guys!” 


Melva lalu keluar dengan semringah sambil menggeser beberapa foto yang baru saja diambilnya dengan bahagia. 


“Shen ... Shen, kalaupun kamu harus kehilangan dara demi lelaki yang kamu cintai, mungkin aku akan mendukungmu dengan senang hati. Gimana nggak, Elvino seganteng itu, sih. Aku memang menyesatkan, hahaha!” tawa Melva puas, dia turut bahagia melihat sahabatnya menikmati waktu bersama dengan Elvino. Wanita itu sama sekali tak ada pikiran aneh atau pun curiga dengan situasi sekarang. Fokusnya hanya memastikan sahabatnya itu aman dan bahagia bersama lelaki yang dicintainya.


Saat Melva berjalan menuju lift dan hendak memasukinya, dia tak sengaja berpapasan dengan seorang lelaki yang tak asing tengah keluar dari lift tersebut. Penampilannya rapi, setelan jas yang dikenakan seolah menunjukkan dia adalah orang yang satu acara dengan dirinya saat di fashion show, terbukti karena lelaki itu memakai ID card yang sama dengannya. Namun, Melva tak memperhatikan name tag yang tertulis di sana.


“Sepertinya nggak asing, tapi siapa, ya?” gumam Melva sembari menutup lift dan menekan tombol G di lift, mengarah ke lantai dasar, menghampiri beberapa temannya yang masih berada di lobby hotel sekadar berbincang. Akan tetapi, bayangan wajah pria yang berpapasan dengannya tadi mengusik pikirannya. 


“Astaga, ya Tuhan!” pekik Melva, matanya membeliak sempurna. 


“Kenapa sih, Mel?” tanya seorang wanita yang duduk di sampingnya. 


“Ngapain? Ke atas ke mana, sih?” Mereka memasuki lift.


“Di acara kita tadi ada Roger, kan?” Meski wajah Roger kini sudah berubah menjadi lebih tampan, tetapi cukup mengingatkan Melva untuk memutar ingatannya beberapa tahun lalu ketika Roger dan Shena masih berpacaran.


“Pak Roger? Lah, kan emang dia yang ngadain acara ini. Gimana sih!” 


“Hah, serius? Bukannya si Mince?” Melva masih terus menggandeng temannya ke arah lift, menuju lantai tiga, di mana kamar Shena berada. 


“Ya Mince yang ngadain acara, tapi sponsor dan donatur terbesar dari Pak Roger,” jawabnya sambil mengikuti langkah Melva yang tergesa-gesa setelah keluar dari lift.


“Astaga! Cepetan, cepetan!” Melva langsung berlari menuju kamar Shena. Pikirannya bekerja dengan baik. Beruntung, saat itu Shena sempat menceritakan tentang Roger yang kembali dan mulai mengusik hidup Shena dengan cara yang arogan. 

__ADS_1


“Berhenti! Ngapain di situ, hah?” teriak Melva dati kejauhan. Bola matanya menangkap Roger yang tengah berusaha membuka kunci kamar Shena dengan key card. Lelaki itu begitu mudah mendapatkan apa yang dia mau, bahkan kunci kamar yang seharusnya privasi pun dia berhasil mendapatkannya, karena uang yang berbicara.


Roger yang terkejut langsung menoleh ke arah sumber suara. Roger terlihat panik seperti maling yang tertangkap basah. 


“Ah, maaf ada apa, ya?” Roger berpura-pura santai saat melihat Melva. Dia tahu betul siapa Melva, tetapi berlagak tak mengenalinya.


“Hentikan niat buruk Anda, Tuan Roger! Sampai kapan akan melakukan hal busuk pada Shena, hah?” Tak ada rasa takut sedikit pun di hati Melva menghadapi lelaki seperti Roger. Sifat buruknya bahkan masih terngiang saat dulu sering berbuat kasar pada Shena.


“Maksud Anda apa? Anda siapa menuduh saya seperti itu?”


“Alah, jangan berlagak bego deh! Harusnya saya yang tanya, buat apa Anda membuka kamar Shena? Hah? Ini semua pasti sudah menjadi rencana busuk seorang CEO yang haus belaian. Ya, kan?” 


“Jaga mulut Anda! Saya bisa saja membuat Anda menyesal!” 


Sementara itu, teman Melva hanya bersembunyi di bakik badan Melva sembari menggerutu, memohon untuk menyudahi pertikaiannya dengan lelaki di depannya itu. Hal itu memang cukup berisiko, berurusan dengan Roger sama saja dengan memberikan nyawanya sukarela, lelaki itu memang selalu berbuat nekat. 


“Sedikit pun saya tidak takut! Silakan lakukan apa pun yang Anda mau, tapi kalau sampai sahabat saya jadi korban otak mesummu, aku tidak akan tinggal diam. Pergi dari sini, cepetan!” Melva berucap dengan tatapan penuh amarah. 


Mendengar keributan yang terjadi di depan pintu kamar tamu, Mince selaku pemilik acara langsung menghampiri mereka yang sedang berdebat.


“Ada apa ini? Kenapa ribut-ribut?” tanya Mince yang melihat ke arah Melva dan juga Roger.


“Ini nih, dia mau mencoba masuk ke kamar Shena, pasti ada niatan jelek kan? Iya, kan? Ngaku!” cecar Melva yang merasa bahwa Mince akan mendukungnya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2