Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Kehamilan Shena


__ADS_3

Dalam hati ia sangat bersyukur dan bahagia, karena Tuhan telah membuka mata hati Elvino dan mengungkap semua kebenaran.


"El, tidak apa. Yang terpenting, kamu sudah tahu kebenarannya. Sekarang, lupakan semua hal yang terjadi kemarin. Meskipun, kalau di tanya kecewa atau marah aku pasti akan jawab iya. Ingin rasanya memukulmu hingga puas. Namun, itu semua tidak akan mengubah apa pun yang sudah terjadi." Shena berusaha mengikhlaskan semua hal yang terjadi.


Wanita itu percaya, bahwa ini adalah skenario yang sudah Tuhan kasih untuk menguji rumah tangganya dengan Elvino. Ia menganggap semua ini adalah bagian dari pendewasaan yang baik.


Elvino langsung menghambur ke pelukan Shena. Ia terisak tanpa bisa berkata selain terima kasih. Sungguh ia sangat bersyukur dan beruntung bisa memiliki Shena. Wanita yang tulus, kuat, baik hati dan penyabar.


Elvino berjanji, ia akan menjaga Shena dan tak akan menyakiti wanita tersebut.


"Terima kasih, Sayang. Sekali lagi maafin aku, i love you." Elvino mengucapkan kata cinta sambil memandang wajah wanita cantik yang sangat ia cintai.


"El, boleh menyingkir? Aku sesak," kata Shena sesenggukan.


"Ah, maaf Sayang." Elvino beranjak dari posisinya. Ia berdiri lalu duduk di kursi samping brankar.


Shena mengangguk, Elvino mengusap air mata yang membasahi pipi sang istri.


"Jangan pernah nangis lagi, aku janji–"


"El, jangan pernah menjanjikan sesuatu yang belum pasti kamu tepati. Lakukan yang terbaik tanpa mengumbar kata-kata janji. Aku tidak suka jika ada kata janji lalu dengan sengaja atau tidak kamu mengingkari. Jadi, tetap berusaha untuk saling tidak menyakiti. Seperti itu saja sudah cukup bagiku," timpal Shena.


Elvino mengangguk lalu tersenyum hangat. "Aku sangat beruntung memilikimu, Sayang."


"Aku juga," balas Shena.


"Aku pikir kamu akan mencaci maki dan memukulku lalu membenciku. Tapi nyatanya hatimu sesabar itu. Pikiranmu sedewasa itu, Sayang. Aku speechless karena responsmu sungguh di luar dugaan."


Shena hanya tersenyum lemah. Namun, ia tetap menatap Elvino dengan tatapan penuh cinta.


"Kamu tidak mau menceritakan sesuatu kepadaku, Sayang?" tanya Elvino.

__ADS_1


"Aku tidak punya apa pun untuk di ceritain, El." Shena tidak mengerti arah pembicaraan Elvino kali ini.


"Tentang kehamilanmu, Suster bilang kamu hamil. Dan usia kehamilan sudah empat minggu, itu artinya kamu sudah tau, kan?” tanya Elvino yang mulai mengira-ngira.


“Ya, tentu saja aku tau. Aku sudah tespack saat aku telat haid.” Shena menjawab seolah tanpa beban padahal saat itu dia sangat sedih mengetahui kehamilannya karena tengah bertengkar dengan suaminya.


“Kenapa kamu nggak kasih tahu aku, Sayang? Kenapa kamu menyembunyikannya dariku?”


“Bagaimana aku memberitahumu kalau kamu aja nggak anggep aku pada saat itu, kamu asyik dengan duniamu yang tidak ingin kuganggu, kan?” kesal Shena menampakkan wajah murungnya.


“Maafkan aku, Sayang. Aku sangat menyesal. Andai kamu beritahu aku saat itu, mungkin kita tidak akan selama ini berjauhan. Dan aku juga berhak tau karena aku Daddy-nya bukan?" tanya Elvino.


"Kalau bukan kamu lalu siapa memangnya? Kamu mau menuduhku dengan hal lain?" ujar Shena dengan ketus lalu memalingkan wajah ke arah lain.


"Siapa bilang? Aku akan bunuh orang itu kalau ada yang bilang anak ini bukan anakku. Aku yang jebol dan nabur benih di sini sampai jadi janin kok," ujar Elvino sambil mengusap perut Shena yang masih rata. Sementara tangan satunya mengelus puncak kepala Shena.


Shena menahan senyum dan tersipu malu. Namun, ia gengsi untuk menoleh lagi ke arah Elvino. Hingga akhirnya tangan Elvino terulur ke wajah Shena agar kembali menatapnya. Tanpa aba-aba, Elvino menunduk dan menyambar bibir Shena.


Hingga tak lama kemudian, sebuah ketukkan mengalihkan pandangan mereka. Elvino segera melepaskan tautan bibirnya dari Shena. Keduanya salah tingkah saat sang suster membuka pintu dan datang menghampiri mereka.


"Permisi, Pak. Saya mau mengantarkan makanan untuk Bu Shena," ucap suster sambil mendorong troli makanan.


"Makasih, Sus. Letakkan atas meja aja. Nanti saya yang suapin istri saya," ujar Elvino.


"Baik. Saya permisi," ucap suster kemudian pergi meninggalkan ruangan setelah meletakkan makanan untuk Shena.


Elvino kembali memandang Shena penuh cinta.


"Sayang, kalau kamu sudah sembuh, boleh nggak sih aku ehm anu … ***-***?" tanya Elvino dengan polosnya.


Sontak hal tersebut membuat Shena mengernyitkan dahi, pipinya bersemu merah karena malu.

__ADS_1


"Dasar mesum! Tanyakan kepada dokter saja, El, boleh apa nggak. Kamu ini tanganku masih begini bisa-bisanya tanya hal ambigu seperti itu?" cibir Shena.


Elvino menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Kan sudah lama puasa, jadi juniorku–"


"Stop it, El. Jangan membuatku makin malu," protes Shena.


Akhirnya, Elvino pun mengalah. Mereka saling berbincang dan membicarakan banyak hal setelah sekian lama tak bersua dan bercanda.


Dua hari berlalu keadaan Shena semakin membaik, hari ini dia diperbolehkan pulang dari rumah sakit. Elvino dan Shena memang sengaja tidak memperbolehkan orang tua mereka untuk menjenguk meskipun mereka tahu bahwa anak kesayangannya itu tengah berada di rumah sakit.


Setelah menempuh perjalanan yang cukup lama, akhirnya mereka sampai di apartemen. Orang tua Shena dan Elvino pun langsung datang untuk berkunjung. Masalah yang pernah ada di antara mereka apa pun kini berlalu begitu saja, melepas beban yang selama ini membuncah dalam hati keduanya.


“El, jelaskan sama Mama bagaimana ini bisa terjadi, kenapa Shena sampai terluka kena pisau sih? Kenapa bisa diculik? Kasihan, kan, anak Mama,” tanya Emma pada Elvino seraya mengelus pundak Shena yang tengah duduk bersandar di raanjang kamar.


Sementara Sandra dan Bagaskara, mereka ikut senang meliat kemesraan antara anak dan besannya itu. Mereka semakin yakin bahwa Shena berada di tangan yang tepat.


“Shena, apa masih ada yang sakit, Sayang?” Sandra pun menyusul pertanyaan kekhawatirannya.


“Shena udah nggak apa-apa, Ma.” Kedua mata Shena melihat ke arah sang mama dan mertua. Senyumnya begitu bahagia sekarang.


“Jadi, ini semua ulah Celia, Ma.”


“Apa. Celia!” teriak Emma. “terus, di mana dia sekarang, kurang ajar sekali dia, berani-beraninya menyakiti anakku!”


“Jeng, Celia itu mantannya Elvino, kan?”


“Iya, Jeng. Nggak nyangka ternyata dia lebih licik dari yang aku kira, wanita ular!” maki Emma sambil menghela napas kasar.


“El minta maaf karena sudah lalai menjaga Shena. El janji ke di depanya akan lebih berhati-hati lagi. Dan sekarang, dia sudah di kantor polisi, Ma. Mungkin, besok atau lusa akan ada sidang.” Elvino menjelaskan.


Di sisi lain, John dan Bagaskara tengah duduk di kursi menyimak dan sesekali mencerna kalimat Elvino, mereka juga akan mengambil tindakan dan tidak akan tinggal diam begitu saja mendengar anak perempuannya mengalami penculikan dan kekerasan.

__ADS_1


__ADS_2