
Setelah Shena menghilang dari pandangan Elvino, dia merasakan sakit yang teramat di ruang relung hatinya. Pada saat itu juga kakinya berlari ke arah mobil untuk mengejar wanita yang sudah berhasil menyesakkan dadanya.
Berulang kali Elvino mengusap air matanya yang jatuh ke pipi seraya melihat keberadaan mobil Shena, tapi pandangannya belum menangkap mobil yang dikendarai oleh wanita cantik itu. Tanganya mencoba untuk menekan tombol angka pada layar sentuh untuk menelepon Shena. Namun, dia lupa bila dia telah memblokir nomor Shena.
"Akkh, brengsek!" umpat Elvino yang mencengkram kuat-kuat benda pipih tersebut.
Elvino pun membuka blokiran nomor Shena lalu segera menghubungi wanita itu dengan perasaan yang saat ini bercampur aduk, emosi terhadap istrinya dan juga rasa sakit hati seakan dia tidak rela bila Shena akan menjadi milik orang lain.
"Nomor yang Anda tuju sedang tidak aktif, silakan hubungi bebe—"
"Aarrggh! Shen, kenapa nomor kamu malah tidak aktif!" Elvino membanting ponselnya ke arah kursi yang ada di samping, ketika dia mendengar suara operator yang berbicara.
Elvino begitu frustrasi ketika dia kehilangan jejak mobil Shena ditambah nomor yang tidak aktif, bola matanya yang putih sampai berubah menjadi warna merah karena menahan air mata di pelupuknya. Tetesan air mata lelaki menandakan ketulusan yang begitu mendalam. Hatinya begitu sesak ketika dirinya belum siap menerima cobaan baru, bila Shena bersama laki-laki lain dan di sisi lain dia juga mendapat rasa kecewa atas perselingkuhan Celia.
Apakah ini sebuah karma karena dia telah berselingkuh dari Celia sampai dia mendapat balasan dari Celia dan apakah ini karma juga untuknya karena telah mempermainkan perasaan hati Shena sampai dia merasakan sakit yang luar biasa di relung hatinya saat Shena akan menikah?
Tidak mau berpikir panjang, Elvino langsung menancapkan pedal gas menuju suatu tempat di mana dia berpikir akan bertemu dengan wanita itu. Namun, harapannya telah pupus, ketika dia sampai di rumah Shena. Namun, dia tidak mendapati wanita tersebut.
"Pak, saya mohon! Izinkan saya bertemu dengan Shena. Saya janji hanya sebentar menemuinya!" Elvino memohon pada security yang menjaga rumah Shena.
__ADS_1
"Maaf, Pak Elvino. Bukannya saya melarang, tapi memang kenyataannya di rumah tidak ada orang," ujar security yang sebenarnya tidak tega dengan mantan kekasih nonanya.
"Ok, kalau gitu, terima kasih!" Elvino tersenyum putus asa ketika dia belum juga bisa bertemu dengan Shena.
Suara pintu mobil tertutup begitu keras saat Elvino masuk ke dalam mobilnya sebagai bentuk rasa kesal. Dia mencengkram kuat-kuat stir lalu menempelkan keningnya di atas stir seraya berteriak dalam hati. “Kenapa kamu tega, Shen? Apa kamu mau balas dendam terhadapku?”
Pikiran Elvino langsung tertuju pada butik Shena, dia pun menegakkan kepalanya ketika akal sehatnya berjalan memberikan kode bahwa Shena pasti berada di butik, langsung saja Elvino menancapkan gasnya menuju butik Shena.
Titik harapan bertemu Shena membuat Elvino menghapus air matanya lalu menarik napasnya yang kemudian diembuskan, begitu sampai di depan butik Shena. Matanya melihat ke arah bangunan dengan lantai dua, sorot matanya menelisik setiap ruangan yang ada di dalam sana dari dalam mobil, mencari sosok orang yang dia cari.
Hati Elvino berdegup saat melihat ternyata wanita itu masih bisa tersenyum ramah dengan para pelanggannya, dia pun merapikan raut wajahnya yang kusut, tak lupa dia merapihkan rambutnya dengan sela-sela jari agar tidak berantakan. Setelah itu, dia turun dan melangkahkan kakinya menuju butik Shena.
Baru saja Elvino ingin membuka pintu butik itu, tapi Melva sudah berdiri di hadapannya, sontak saja Elvino langsung berhenti dan melihat Melva sedang melipat kedua tanganya ke bagian dada dan menatapnya dengan sinis.
"Ada Shena, kan, di dalam?" Elvino melirik ke arah dalam butik tapi Melva langsung menghalanginya.
"Nggak ada!" jawab Melva dengan sinis.
ELvino langsung memasang senyum smirk-nya ketika mendapat jawaban dari wanita yang berdiri di hadapannya itu.
__ADS_1
"Mau ngapain nanyain Shena? Bentar lagi dia mau nikah, mending jangan ganggu dia lagi, toh kamu sendiri juga punya istri, kan? Jadi, nggak usah temui Shena lagi! Dia udah menemukan calon suami yang jauh lebih segala-galanya dan juga ... yang jelas, calon suami Shena masih single!" sindir Melva begitu kesal melihat wajah pria yang sudah menyakiti hati sahabatnya.
"Maksud kamu apa?" Elvino mulai mengerti nada bicara Melva yang begitu pedas menusuk ke relung hatinya.
"Maksud saya, lebih baik Anda pulang dan jangan ganggu Shena dengan calon suaminya, karena bentar lagi dia mau menikah! Fokus aja sama rumah tangga Anda. Bukankah sudah dapat undangan dari Shena? Berati tahu dong!" cibir Melva yang semakin membuat Elvino kesal.
"Saya ke sini cuma mau bertemu Shena, bukan cari ribut sama kamu!" Elvino hendak masuk ke dalam butik, tapi lagi-lagi Melva melarangnya.
"Sekali lagi Anda melangkah, saya panggilkan security!" Melva menghalangi jalan Elvino yang ingin masuk ke dalam butik.
Mendengar ucapan Melva membuat darah Elvino mendidih, tanganya mengepal dan ingin sekali menerobos masuk ke dalam lalu menculik Shena saat itu juga. Namun, suara ponsel Elvino mendadak berdering, dia melihat Samuel menghubunginya.
"Hallo, Sam! Ada apa?" tanya Elvino yang mengangkat panggilan dari Samuel tapi sorot matanya membalas tatapan tajam ke arah Melva.
"Ok! Saya ke sana!" Elvino langsung mematikan sambungan teleponnya lalu bergegas menuju mobil, sebelumnya dia lemparkan tatapan sinis melihat Melva.
Sementara Shena yang berdiri dari balkon lantai dua, melihat perdebatan Melva dengan Elvino. Hatinya begitu perih merasakan sakit teramat dalam ketika melihat Elvino yang semakin menjauh.
"Ok, Shen! Game over, permainan drama cinta kamu dengan dia sudah selesai! Kamu berhak bahagia, jangan kau tangisi laki-laki yang sudah beristri! Dia tidak pantas untuk kamu tangisi!" batin Shena yang menguatkan dirinya sendiri sembari menghapus air mata yang menetes.
__ADS_1
Hari semakin berlalu, hari pernikahan tinggal diujung waktu. Selama itu pula, Elvino terus mencoba untuk menemui Shena menanyakan perihal pernikahan wanita itu dengan laki lain. Namun, sampai sekarang dia belum juga mendapat kesempatan untuk bertemu dengan wanita yang berhasil mendobrak pintu hatinya itu.
Elvino pun memutuskan untuk pergi menemui Shena di rumahnya untuk terakhir kalinya. Apa pun yang terjadi dia akan berjuang untuk bertemu dengan wanita itu, surat undangan yang Shena beri hari itu membuat hatinya masih belum menerima bila Shena akan menikah dengan laki-laki lain.