Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Meminta Jatah (21+)


__ADS_3

Entah apa yang harus dirasakan saat ini, perasaan Elvino begitu campur aduk. Pikirannya kini kalut, pernikahannya dengan Shena baru saja berlangsung kemarin. Sekarang, dia juga harus mengurus  perceraiannya dengan Celia. Suatu kelegaan besar baginya ketika dia harus berpisah dengan istrinya itu. Akan tetapi, tak semudah membalikkan telapak tangan, Elvino tetaplah lelaki yaang mempunyai perasaan. 


Elvino memutar ingatannya kembali ke beberapa tahu lalu, di mana dia menjalin kasih dengan Celia, di mana dia menikmati awal rumah tangganya yang begitu bahagia. Juga cinta yang tentu saja nyata. Namun, tahun belakangan ini, Celia memanglah wanita yang tak pantas menjadi istrinya. 


“Nggak nyangka nasib  pernikahanku akan seperti ini.” Elvino uduk di kursinya sembari menatap awang-awang, juga menatap dinding yang masih tersisa fotonya dengan Celia. Dia dengan cepat mengambil foto tersebut dan melemparnya ke sampah.


“Tapi, setidaknya kini aku bisa menikah dengan wanita yang aku cintai. Tidak seharusnya aku memikirkan wanita ****** murahan itu, membayangkan wajahnya hanya akan membuat moodku berantakan. Elvino bermonolog seorang diri di ruang kerjanya.


Sementara itu, Celia yang frustrasi karena penolakan Elvino yang terang-terangan dia memilih untuk mendatangi Roger. Tujuannya untuk menghilangkan kesuntukan dan kekesalannya. Biasanya Roger akan mengajaknya berbelanja di mal. Setidaknya dia masih ada waktu untuk membujuk Elvino dan mertuanya nanti sebelum sidang perceraian itu berlangsung.


“Di mana sekarang, temenin aku!” Celia berbicara pada Rogr di sambungan teleponnya.


“Oke, aku akan menjemputmu di tempat biasa.”


Selang beberapa saat, keduanya meluncur ke mal. Roger menuruti permintaan Celia apa pun yang dia mau. Namun, ketika Celia puas berbelanja, dia menyuruh Roger untuk mengantarkannya pulang ke rumah. Lelaki itu hampir saja terpancing emosi. Bagaimana tidak, dia menyempatkan waktu dan memberikan sebagian uangnya untuk Celia, tetapi wanita itu malah seenaknya. 


“Pulang? Apa aku nggak salah denger” tanya Roger menatap tajam Celia yang tengah bergelayut di lengan lelaki itu sambil berjalan, tangan satunya lagi menenteng paper bag berisi tas dan baju yang baru saja ia beli.


“Iya, pulanglah. Mau ke mana lagi. Aku capek Roger, kepalaku pusing mikirin Elvino.” 


“Enak aja kamu suruh aku anterin pulang,  harusnya kamu sadar diri Cel, aku udah habisin waktu dan uangku buat kamu. Sekarang aku nggak dapat apa-apa, enak sekali, kau pikir aku ATM kamu?” Roger melepas tangan Celia dari lengannya.


“Roger, biasanya juga nggak masalah, kan? Emang kamu mau apa, sih? Kalau itu, sorry to say, aku nggak bisa.” Celia tanpa raasa bersalah, dia malah berjalan meninggalkan Roger begitu saja.


Roger dengan cepat menyusul dan menarik tangan Celia. “Celia, ikut aku!”  

__ADS_1


“Jangan paksa aku, Roger. Aku nggak mau!”


Tanpa peduli banyak pasang mata yang memandang mereka berdebat, keduanya masih saja bertahan dengan ego masing-masing. Tangan Celia ditarik paksa oleh Roger dan mengajak wanita itu untuk ikut bersamanya. Sesampainya di tepat parkir, Roger membuka itu dan memasukkan Celia dengan paksa. Lelaki itu kemudian menyusul di kursi kemudinya. 


“Apa maksud kamu nggak mau, hah? Berani sekali kau menolakku, Cel!”


“Aku lagi nggak mood, Roger. Mengertilah, please!” mohon Celia menampakkan wajah melasnya. 


Namun, lelaki itu bahkan tidak iba sama sekali. Justru emosinya semakin memuncak. “Cel, kalau emang mood kamu lagi berantakan  dan kamu cari aku, itu artinya kamu harus siap dengan imbal baliknya. Semuanya nggak ada yang gratis. Paham! Bukankah dari awal kita emang saling menguntungkan satu sama lain? Jangan harap  aku akan melepaskanmu sekarang.”


“Roger, biarkan aku pergi, besok atau mungkin beberapa hari lagi, aku pasti akan menemuimu.”


Celia membuka pintu mobil dan menutupnya kasar, dia malas terus berdebat dengan Roger. Kemauan lelaki itu bahkan tidak bisa dibantah sama sekali hingga membuat Celia geram.


“Kalau kamu nekat mau pergi, aku akan menyebarkan video kita. Apa kamu siap jika semua orang tau tubuhmu itu tanpa sehelai benang sekalipun?” 


“Ya, aku punya video saat kita main gila di hotel. Kamu mau lihat?” Roger menyeringai.


Hasrat lelaki itu bahkan tidak bisa ditahan sama sekali, meski sebenarnya dia tidak mempunyai video tersebut. Namun, ucapan itu berhasil membuat Celia menurut.  


“Masuklah, Baby!” Roger tertawa puas dan merasa menang hanya dalam sekali gertakkan dan ancaman palsu. Lelaki itu lalu membukakan pintu untuk Celia dari dalam.


Dengan berat hati dan langah yang seolah tertahan, Celia masuk ke dalam mobil Roger. “Ini terakhir kalinya, Roger. Jangan pernah mengancamku lagi atau kamu akan menyesal.””


“Hahahaa, rupanya sudah bisa mengancam sekarang, memangnya kamu bisa apa? Sudahlah, nikmati aja kebersamaan bersamaku, toh kamu juga nggak rugi, kan? Lihat, bahkan semua barang di tanganmu itu, kamu nggak akan bisa beli sendiri.” Roger menggelengkan kepalanya, meremehkan Celia.

__ADS_1


“Tutup mulutmu, Roger!”


Gertakan Celia sama sekali tak membuat Roger takut, dia berkuasa atas segalanya. Lelaki itu bisa melakukan apa pun.


Sepuluh menit berlalu, mereka saling terdiam, hanya seringai menjijikkan yang Roger perlihatkan. Sesampainya di hotel, Roger berjalan dengan melingkarkan tangannya ke pinggang Celia. Meski wanita itu berusaha menolak, hal itu sama sekali tidak berhasil dan tidak membuat Roger berubah pikiran. 


Di kamar, Celia meletakkan tasnya di meja. Dia lalu duduk di tepi ranjang, menatap sinis lelaki yang barus saja menutup pintu kamar tersebut. “Lakukan dengan cepat, karena aku harus segera pergi!” 


“Bersabarlah, Baby. Aku ke kamar mandi dulu sebentar.” Roger tersenyum, dia membelai pipi Celia sebentar sebelum masuk ke kamar mandi.


Roger lantas melepas jas dan juga jam tangannya. Ponselnya pun juga dia simpan di nakas. Celia yang melihatnya pun, terbujuk untuk memeriksa ponsel tersebut.


Selama Roger di kamar mandi, Celia berusaha membuka ponsel Roger, mencari video tersebut untuk dihapus. Namun, dia tak kunjung menemukannya. Sesekali matannya melirik ke arah pintu kamar mandi, waspada jika Roger tiba-tiba keluar dari sana.


Belum juga dia berhasil menemukan video tersebut, Roger keluar dan langsung memergoki Celia yang lancang membuka ponselnya. “Celia, apa yang kamu lakukan, hah? Lancang sekali!”


“Aku cuma ....” Celia tampak gugup dan sedikit ketakutan. 


“Oh, kamu mencari video itu?”  Roger tertawa mengejek. “Aku tidak akan mungkin menyimpannya di HP itu, Cel. Percuma kamu cari juga nggak akan ketemu. Aku menyimpannya di tempat yang sangat aman, tenang aja!” 


Roger mulai melakukan aksinya untuk menikmati tubuh Celia. Bagaimanapun juga, Celia adalah wanita yang seksi, kulit mulus dan dadanya yang cukup berisi membuat Roger semakin candu untuk menguasai wanita itu saat bermain di atas ranjang. Meskipun dia sering menyewa jasa wanita malam untuk memuaskan birahinya, tetapi tak dapat dipungkiri, Celialah yang menjadi dambaannya.


Roger mulai menyusuri tubuh jenjang Celia, melepaskan gejolak yang kian memanas dalam dirinya. Celia juga dipaksa untuk terus memuaskan keinginan lelaki itu tanpa ampun, hingga keduanya lelah dan berpeluh bersama, meskipun pendingin ruang bersuhu rendah.


Bersambung....

__ADS_1


Halo readers kesayangan aku semua, Semoga kalian sehat selalu yaa. Terus dukung author yaaa. Jangan lupa like, komen dan kalo boleh kasih bunga eyaaaak. Biar makin semangat update authornya. Salam sayang dari author ❤️


__ADS_2