
Siang hari saat jam istirahat di bengkelnya, Elvino memutuskan untuk mendatangi Shena adi hotel. Wanita itu masih belum beranjak dari sana sesuai arahan Elvino. Lelaki itu berpesan pada Shena untuk tidak pergi ke mana-mana bahkan keluar kamar sekali pun. Bagaimanapun juga, dia tetap menurut kata Elvino karena lelaki itu kini sudah menjadi suaminya.
Berada di dalam kamar hotel seorang diri, bak burung dalam sangkar. Shena merasa suntuk dan bingung, apa yang harus dia lakukan. Pada akhirnya, dia hanya tidur, melepas rasa lelah setelah seharian kemarin melayani para tamu undangan.
Langkah kaki Elvino berhenti tepat di kamar nomor 301, tepatnya di presiden suite. Dia mengetuk pintu tersebut beberapa kali, tetapi tak mendapat jawaban dari dalam. Bahkan pintu tersebut tak kunjung terbuka. Elvino merasa khawatir dengan Shena, apa yang terjadi di dalam sehingga istrinya itu tidak meresponsnya.
Elvino berjalan menghampiri room boy yang tengah bertugas di lantai tersebut. “Selamat siang, Pak. Boleh saya meminta tolong untuk membukakan kamar president suite? Istri saya di dalam tidak merespons, takut terjadi apa-apa.”
“Mohon maaf, tuan. Kita tidak bisa membuka sembarangan kamar tersebut jika tidk ada arahan ari resepsionis.”
“Pak, ini darurat. Jika tidak segera dibuka, apa Bapak mau tanggung jawab jika terjadi apa-apa dengan nyawa istri saya?”
“Tapi maaf, Tuan. Saya—“
Elvino lantas memasukkan beberapa lembar uang merah ke saku roomboy tersebut. Lelaki itu memaksa untuk membukakan pintu kamar 301.
“Saya akan menjamin, tidak akan ada masalah apa pun setelah ini yang menyangkut Bapak. Saya bisa pastikan.”
Meskipun dengan penuh keraguan lelaki itu menjalankan perintah Elvino, tetapi dia juga bingung apa yang harus dia lakukan. Di sisi lain, jika nanti Elvino mengurusnya di resepsionis, itu akan semakin mempersulit dirinya karena di sana hanya tercatat nama Lucky dan Shena sebagai penyewa kamar.
Mau tidak mau, petugas kebersihan itu menuruti perintah Elvino. Benar saja, setelah pintu terbuka, Elvino segera mengecek keberadaan Shena di dalam kamar.
“Astaga!” pekik Elvino terkejut.
“Ada apa, Tuan? Apa istrinya baik-baik saja?” tanya room boy yang masih berdiri di ambang pintu.
“Enggak, Pak. Silakan melanjutkan pekerjaannya, Elvino menutup s sedikit pintu kamar tersebut agar tidak terlihat dari luar.
“Baik, Tuan. Saya permisi.”
__ADS_1
“Terima kasih, Pak.”
Elvino lantas masuk lagi ke kamar, dia memandangi sesuatu yang begitu menggugah kejantanannya saat melihat Shena tertidur pulas di atas ranjang dengan posisi meringkuk.
“Apa dia sengaja menggodaku?” tanya Elvino dalam hati, dia masih melihat Shena yang hanya mengenakan baju merah tipis bak saringan santan.
“Shen, aku datang.” Elvino sedikit membuang muka dan sebentar mencuri pandang tubuh Shena. Pahanya yang mulus bahkan terekspos begitu saja.
Tak ada jawaban, Elvino lantas mendekat dan mencoba menepuk pelan lengan Shena yang telanjang. “Apa biarkan dia tidur aja, ya, mungkin dia capek,” batin Elvino.
Lelaki itu kemudian berniat menyelimuti Shena, tetapi wanita itu tiba-tiba malah mengubah posisinya menjadi telentang. Elvino menarik napasnya dalam-dalam, tangannya bergetar saat tak sengaja hampir menyentuh dada Shena ketika hendak menutupnya dengan selimut. “Tahan, El ....”
Elvino memutuskan untuk menunggu Shena bangun, dia merebahkan tubuhnya di sofa panjang dekat jendela. Selang beberapa saat, Shena terbangun dan menendang selimut tersebut, dia merasa kegerahan. Shena berniat mengambil remot AC untuk merendahkan suhu. Namun, betapa terkejutnya dia saat mendapati Elvino sedang berada d depannya. Kedua mata mereka saling tatap.
“Sudah bangun?” tanya Elvino.
“Hem, kamu sejak kapan di sini?” ucap Shena gugup, dia langsung menarik selimutnya kembali dan menutupi tubuhnya yang setengah polos.
“Kamu ....” Ucapan Shena terhenti lalu membatin, “Sial, dia pasti sejak tadi melihat tubuhku.”
“Tenang saja, aku tidak memperhatikannya. Aku menutup mataku saat menyelimutimu.” Oksigennya seolah terhenti, Shena terkejut karena Elvino seperti bisa membaca pikirannya sekarang.
“Lagi pula, kenapa kamu mengenakan pakaian itu? Atau kamu berniat menggodaku?” Elvino mulai jahil dan menggoda Shena yang tampak tersipu malu.
“Jangan sembarangan, kalau bukan karena terpaksa juga mana mau aku pakai beginian.”
“Jadi, kamu nggak bawa baju lain?” tanya Elvino.
“Mama nggak masukin ke koper.”
__ADS_1
“Ya, sudah kita beli baju ke mal sebelah. Nanti aku, mau ajak kamu ke suatu tempat.”
“Hei, gimana caranya aku keluar dari sini kalau nggk ada baju. Dasar mesum!” gerutu Shena.
“O iya, sorry-sorry. Lupa. Baiklah, aku keluar sebentar beli baju.”
“Terima kasih!”
Elvino lalu keluar untuk membeli baju Dhena di mal yang lokasinya tak jauh dai hotel tersebut. Elvino memilih beberapa baju karena takut Shena tidak sesuai dengan pilihannya. Andai saja lokasi hotel tersebut dekat dengan butiknya, sudah pasti dia akan langsung mengambil baju yang dai simpan di butiknya.
Elvino kembali ke hotel dan menyerahkan beberapa baju. Setelah rapi, keduanya turun dari kamar dan melakukan proses chek out. Elvino mengajak Shena untuk makan siang di hotel tersebut sebelum mereka pergi ke tempat selanjutnya.
Setelah makan siang, Elvino berencana untuk membawa Shena ke apartemen barunya. Setelah memikirkan beberapa hal sejak pagi tadi. Akhirnya Elvino memutuskan untuk membeli apartemen yang lokasinya tak jauh dari butik Shena. Dia sengaja memilih lokasi tersebut agar memudahkan istrinya untuk menjalani hobinya itu dan jika Elvino pulang malam, setidaknya dia tidak merasa khawatir jika Shena pulang seorang diri. Bahkan hanya membutuhkan waktu lima menit.
“Kamu mau bawa aku ke mana, sih?” tanya Shena saat mobil Elvino membawanya pergi.
“Nanti kamu akan tahu.” Elvino menjawabnya singkat.
“Awas ya macem-macem!”
“Macem-macem sama istri sendiri bukannya nggak apa-apa, ya?” Elvino mengulas senyumnya.
“Siapa juga yang mau jadi istri kamu sih! Kalau disuruh milih mendingan jadi perawan tua!” Shena terus menggerutu tak karuan. Dalam hatinya dia mulai resah bagaimana hubungannya dengan Elvino ke depannya. Sedangkan banyak sekali beban di hatinya yang ingin Shena utarakan.
Terlebih juga Elvino, sebelum pernikahan Shena, dia seperti seorang pujangga yang mengemis cinta terhadap wanita di sampingnya itu, Namun, sekarang semuanya berubah drastis, tidak ada rasa khawatir dan ketakutan karena dia sudah mengikat Shena sebagai istrinya. Hanya waktu yang akan mendamaikan hati Shena. Dia lega, Shena tidak akan mungkin menjadi milik lelaki lain. Mungkin saat ini wanita itu belum sepenuhnya menerima pernikahannya. Akan tetapi, Elvino akan terus berjuang agar Shena mau menerimanya sebagai suami.
“Terima kasih, Tuhan. Engkau telah mempersatukan kami dalam pernikahan. Hanya dia wanita yang aku cintai, aku berjanji akan menjaga dan melindunginya sepenuh hati,” batin Elvino.
Bersambung...
__ADS_1
Terima kasih para readers kesayangan aku. Semoga sehat selalu ya. Nantikan update an author setiap hari. Jangan lupa like, komen dan kasih bunga kalo boleh hehe. Semoga kalian suka ... Selamat membaca sayang-sayangnya aku 💗