
Keesokan harinya, jam menunjukkan pukul tiga sore, persiapan untuk resepsi pernikahan Shena dan Elvino sudah mencapai 90%. Kurang dari lima jam lagi, acara itu akan dimulai. Melva kini tengah sibuk mengecek semuanya—memastikan agar tidak ada lagi yang tertinggal ataupun cacat di pesta pernikahan sahabatnya nanti. Satu per satu, bagian terpenting dia tanyakan kepada penanggung jawab, mulai dari katering, dekorasi, kue, bunga, fotografer, pembawa acara, dan sebagainya.
Pesta malam itu akan dilaksanakan di sebuah ballroom mewah di salah satu hotel ternama—Royal Gold Hotel. Dekorasi dengan nuansa putih, hijau dan pink terlihat sangat indah, menjadikan setiap rangkaian dan tatanan tampak manis. Bunga anggrek dendru, lily casablanca, dan juga mawar menghujani setiap sudut ruangan. Aroma wangi sudah merasuk dalam rongga hidung bagi seyiap orang yang memasuki ruangan tersebut. Begitu juga dengan Samuel yang baru saja masuk ke ballroom hotel tersebut.
“Dia lagi, dia lagi. Sangat menyebalkan, apa pria di dunia ini cuma dia!” Melva melirik seseorang dengan sinis. Wanita langsung membuang muka begitu menyadari kehadiran Samuel.
Samuel berjalan ke bagian katering dan berbincang pada salah satu karyawan untuk memastikan semuanya sudah rapi dan siap tanpa masalah. Samuel melihat sekeliling, dia mendapati Melva dan beberapa teman lain dari butik Shena.
Mata Melva tertuju pada satu meja di mana terletak beberapa bunga meja. Dia sedikit menggerutu karena bunga tersebut belum juga ditata rapi ke masing-masing meja tamu, sedangkan Samuel juga hendak memindahkan menambahkan kursi yang kurang.
“Minggir!” tukas Melva karena jalannya terhalang oleh Samuel yang tengah membawa kursi tamu.
“Jalan masih luas, kamu aja yang minggir!”
“Dari dulu emang nggak pernah mau mengalah Samuel wanita, ya! Lelaki macam apa itu, amit-amit!” cibir Melva seraya mengibaskan tangannya dan melenggang menjauh.
Kesabaran Samuel sebagai lelaki pun teruji, dia mendengus kesal karena ucapan Melva. Namun, dia masih terus memandang punggung Melva yang kian maju beberapa meter darinya.
Kaki jenjang Melva melangkah dengan mantap tanpa haluan, tanpa sengaja dia menginjak cover meja yang kebetulan ada vas besi di atasnya untuk tempat bunga. Melva pun tak dapat mengimbangi tubuhnya, dia berteriak karena terkejut. Samuel yang melihatnya pun dengan sigap menangkap tubuh Melva. Namun, semua sia-sia saat Samuel juga ikut terjatuh, Melva berada tepat di bawah kungkungan Samuel. Sialnya, vas besi itu malah terjatuh menimpa punggung Samuel.
“Auwh ... emmb!” Samuel melipat bibirnya dan meringis kesakitan. Beberapa orang yang melihat kejadian itu pun langsung menghampiri mereka. Samuel hanya refleks dan berinisiatif membantunya, entah kenapa dia hanya melakukannya karena naluri sebagai lelaki tergerak.
“Samuel, astaga! Kamu nggak apa-apa?” tanya Melva. Kali ini di mengabaikan rasa bencinya pada Samuel, justru dia sangat kasihan melihat Samuel yang tampak kesakitan.
Samuel segera membetulkan posisinya untuk duduk, sementara Melva juga beringsut untuk bangun. beberapa saat dia mengatur naasnya, menahan rasa sakit yang dirasakan.
“Sam, apa perlu ke rumah sakit?” tanya Melva. Pertanyaan kedua kalinya yang bahkan tak mendapat jawaban dari Samuel.
__ADS_1
“Mas, nggak apa-apa?” tanya seseorang yang juga berada di sana dan membantu Samuel berdiri untuk pindah duduk di kursi.
“Nggak pa-pa. Hanya terkejut,” jawab Samuel santai.
“Terkejut gimana, orang ekspresi kamu aja kesakitan begitu!” pekik Melva. “Thank’s anyway.”
“Anytime.” Samuel sekilas menatap mata Melva. Dia lalu berbicara dalam hati. “Bisa juga nih cewek bilang makasih."
Kekhawatiran Melva tampak terlihat nyata begitu Samuel mengaduh kesakitan lagi, padahal dia hanya berpura-pura untuk mengerjai Melva.
“Sam, aku panggil dokter aja, ya? Jangan buat aku makin bersalah dan berhutang budi Samuel kamu, lagian kenapa juga sih tadi pake acara nolongin kamu segala!”
“Kamu pikir aku mau celaka gitu gara-gara nolongin cewek bawel kaya kamu, kalau nggak karena refleks juga ogah! Nyesel juga nolongin kamu, badanku jadi sakit semua!”
“Ikut aku! Bisa jalan, kan?” Melva meraih lengan Samuel dan mengajaknya berdiri.
Wanita itu mengajaknya ke lantai lima—di kamar miliknya. Tanpa rasa canggung dan keraguan Samuela sekali, Melva menyuruh Samuel untuk masuk ke kamarnya begitu pintu sudah dibuka, tak ada siapa pun di sana, hanya mereka berdua.
“Hei, kamu mau ngapain sih ngajak aku ke kamar. dasar cewek aneh. Aku bukan cowok murahan, ya!”
“Bisa diem nggak, duduk di situ!” Wanita itu menyuruh Samuel untuk tak banyak bicara dan menuruti apa katanya.
Samuel yang penuh kebingungan, dia terus melihat ke arah Melva yang tengah duduk di tepi ranjang dan menelepon seseorang.
Tak lama, seorang room boy pun datang dengan membawa kotak putih pesanan Melva.
“Buka baju kamu!”
__ADS_1
Samuel mengernyitkan dahi dan merasa aneh dengan sikap Melva. “Mau ngapain sih?”
“Aku cuma mau lihat punggung kamu.” Melva mendekap tangannya ke depan, selanjutnya dia berbicara pada roomboy yang sejak tadi sudah berdiri di depan luggage rack. “Pak, tolong lihat dan obati luka di punggungnya.”
“Baik, Non.”
Samuel pun baru paham atas maksud Melva, dia pun menuruti perintah wanita itu. Satu per satu Samuel membuka kancing bajunya, kemeja hitam itu mampu menutup rapat tubuh Samuel yang bahkan nyaris sempurna. Dada dan otot kekar itu terekspos begitu saja di depan mata Melva.
“Astaga, apa itu?” batin Melva seraya menelan salivanya.
Dia tidak menyangka ternyata Samuel mempunyai kriteria yang pria yang dia inginkan.
“Nggak, nggak, buka mata kamu, Mel. Dia tuh lelaki kulkas, ngapain juga sih dilirik.” Lagi-lagi dia bermonolog dalam hatinya.
Sementara itu, Samuel hanya menurut saat room boy tersebut mengoleskan krim ke punggungnya. Setelah selesai, Melva menyuruh Samuel untuk pergi dari kamarnya. Dia pun segera mandi dan bersiap, tetapi sebelum berias, dia mendatangi Shena di kamarnya.
Wanita itu masih memakai bathrobe dan baru saja selesai mandi.
“Ya ampun, Shen. Kok belum make up sih?”
“Tukang riasnya belum datang, Mel. Lagian masih jam segini juga. Kan, acaranya jam delapan malam. Masih tiga jam lagi.
“Hello! Kamu tuh pengantin, bukan bridesmaid. Harusnya udah mulai make up sekarang, biar sempurna, jangan terlalu santai!”
“Bawel ih! Bentar lagi MUA-nya juga dateng kok.”
Tak lama kemudian, ketukan pintu menggugah obrolan mereka. Melva pun membuka pintu, dan yang mereka tunggu akhirnya sudah datang. Para MUA mulai merias Shena dengan sangat hati-hati dan teliti, make up flawless menjadi pilihan wanita itu, mengingat dia mempunyai dia tidak suka make up yang terlalu tebal atau bold. Walaupun dipoles dengan make up kalem, itu pasti akan sangat mengubah penampilannya.
__ADS_1