
Hari kembali berjalan seperti biasa, sebulan sudah mereka menikmati waktu istimewa setelah menikah. Kini waktunya Shena dan Elvino kembali menyibukkan diri di tempat masing-masing—tempat di maa mereka memiliki usaha sendiri yang dibilang sukses. Elvino dengan bengkelnya, sedangkan Shena di butik kesayangannya.
Namun, meskipun mereka mulai sibuk, hal itu tak menyurutkan niat keduanya untuk berjauhan terlalu lama. Tetap memanfaatkan waktu makan siang bersama, juga pulang perginya Shena pun, Elvino yang antar jemput. Lelaki itu tak mengizinkan lagi istrinya membawa mobil seorang diri.
“Bye, Sayang!” ucap Shena seraya melambaikan tangannya.
Mobil Elvino mulai meninggalkan butik Shena setelah mereka pergi makan siang. Lelaki itu pun melambaikan tangan lalu berkata, “Tunggu aku dan jangan pergi ke mana pun jika aku belum menjemputmu, Sayang!”
“Oke, hati-hati di jalan!”
Sementara itu Celia yang baru saja selesaikan melakukan tugasnya, dia langsung menuju ke rumahnya.
“Hai, Ma!” sapa Celia sambil tersenyum semringah.
“Dari mana kamu, pagi-pagi udah ngilang!” tanya sang mama dengan suara ketus.
“Biasa, Ma. Cari hiburan. Ya udah Celia naik dulu.” Celia kemudian melangkahkan kakinya dengan mantap menaiki tangga menuju kamarnya.
Kehamilan Celia bahkan sama sekali tak diketahui oleh mamanya. Dia memilih untuk menyembunyikan hal itu, bahkan dia sempat berpikir untuk menggugurkan kandungan tersebut karena ketidakmauannya mengandung benih dari Roger. Namun, saat itu Roger memang sempat mengancamnya, jika dia nekat membunuh bayi itu makan dia akan kehilangan semua kemewahan yang diberikan oleh Roger. Lelaki itu juga tak segan-segan untuk menyebarkan video mereka saat berhubungan. Mau tidak mau, akhirnya Celia hanya bisa menurut tanpa berargumen apa pun.
Jari lentik tersebut mulai menggeser satu per satu layar ponsel yang dipegangnya. Sambil merebahkan tubuhnya di ranjang kamar, wanita itu tampak tersenyum sangat puas ketika menelisik gambar demi gambar. Foto yang akan membuat kehidupan Shena dan Elvino mulai berubah setelah mengetahuinya.
__ADS_1
“Mampus kau, Shen! Jangan pernah main-main dengan seorang wanita licik sepertiku. Aku bisa melakukan lebih dari ini! Lihat aja, tinggal menunggu waktu. Nasibmu akan berubah sepertiku, dibuang Elvino! Hahaha!”
Tawa Celia menggema di sudut kamarnya, wanita itu tampak sangat bahagia dan sangat puas ketika rencana liciknya berjalan dengan mulus.
Celia berhasil mengambil foto Roger dengan Shena kala mereka menjadi sepasang kekasih dulu. Meskipun hubungan itu sudah berakhir cukup lama, tetapi Roger masih menyimpan sebagian kenangan bersama mantan kekasihnya itu. Dari awal, Celia memang sudah curiga dengan ponsel Roger yang penuh dengan rahasia, apalagi saat itu dia pernah melihat gambar layar depan terpampang jelas foto Roger dengan seorang wanita yang tak lain adalah Shena.
Bukan hanya satu atau dua foto yang dia dapat dari ponsel Roger, melainkan ada hampir dua puluh foto dengan bermacam pose. Namun, Celia hanya akan memilah beberapa foto yang tampak mesra.
Di bengkel, Elvino tengah sibuk memeriksa laporan keuangan. Meneliti semuanya sejak ia tinggal. Di tengah keseriusannya, tiba-tiba ponsel lelaki itu berbunyi. Denting suara singkat itu memberhentikan aktivitasnya sejenak, dia berpikir pesan itu dari istrinya..
“Shena, baru juga ketemu belum ada satu jam udah kangen aja,” ucap Elvino lirih sambil tersenyum.
“Sial! Apa ini!” teriak Elvino seraya menggeser satu per satu foto tersebut. Dia memerhatikan foto itu dengan teliti.
Setelah yakin itu memang istrinya dengan lelaki lain. Matanya memanas, jantungnya mulai berdetak tak beraturan, memburu seolah hampir terlepas dari raganya. Entah perasaan kecewa seperti apa yang dia rasakan saat ini, hatinya begitu sesak melihat kemesraan sang istri dengan lelaki lain. Elvino lalu membanting benda pipih tersebut ke meja. Beruntung ponsel itu masih selamat dan tidak hancur.
Ingatan Elvino berputar karena sepertinya lelaki itu tak asing baginya, tapi entah dia tak begitu ingat siapa lelaki yang bersama istrinya itu. Yang jelas sangat familier.
Tak terasa, buliran hangat menetes dari manik indahnya, dia tak menyangka wanitanya akan setega itu, padahal mereka baru saja melaksanakan honeymoon yang membuat keduanya semakin lekat. Namun, hal seperti ini sama sekali tak pernah disangka Elvino, yang dia tahu istrinya juga sangat mencintainya sama seperti dirinya.
“Arghh! Kenapa kamu setega ini, Shen? Mana yang kamu bilang cinta, hah? Apa itu sayang? Bahkan kamu begitu mudahnya mengkhianati pernikahan kita. Wanita macam apa kamu ini sebenarnya!” teriak Elvino, tangannya mengusap kasar wajah dan menjambak rambutnya karena frustrasi.
__ADS_1
“Selama ini, aku sangat percaya terhadapmu. Kamu tahu aku sangat mencintai kamu, tapi baru sebentar saja kita bahagia, kamu sudah berhasil menjatuhkanku di titik terendah. Kamu hebat, kamu sudah berhasil membuatku kecewa, .”
Elvino membuang semua kertas yang ada di meja. Semua berjatuhan di lantai, bahkan gelas pun ikut menjadi sasaran kemarahannya. Ruangan itu tampak sangat berserakan sekarang. Lembaran kertas yang menjadi basah karena air, juga gelas yang sudah berubah menjadi serpihan beling yang mampu menyakiti siapa pun. Sama halnya seperti hatinya saat ini yang hancur berkeping-keping.
Elvino lantas mendudukkan tubuhnya di sudut ruang, memukuli kepalanya sesekali menyadarkan jika ini adalah mimpi buruk. Namun, hal itu tak berhasil, ini adalah kenyataan pahit yang harus dia telan mentah-mentah.
“Ya Tuhan, apa yang harus aku lakukan? Kenapa Kau mengujiku dengan masalah seperti ini.” Elvino menarik napas panjang, mencoba menetralkan hati dan pikirannya. Tangisnya ia tahan sekuat mungkin agar tidak menetes kedua kalinya. Dadanya pun tak luput dari pukulan tangannya sendiri.
“Bos! Ada apa ini?” tanya Samuel yang tiba-tiba masuk tanpa mengetuk pintu. Dia mendengar kegaduhan di ruang Elvino, dengan sigap dia langsung menghampiri sahabatnya itu.
“Keluar!” seru Elvino yang enggan menanggapi pertanyaan Samuel.
Lelaki itu lantas mengernyitkan dahinya, rasa penasaran menyeruak dalam hatinya. Ribuan pertanyaan bahkan berputar di keplanya.
“Apa yang sebenarnya terjadi? Baru saja tadi balik ke bengkel dengan semringah, sekarang malah marah-marah,” batin Samuel seraya menutup pintu perlahan.
Sebagai seorang sahabat yang begitu mengerti Elvino. Di memilih membiarkan lelaki itu larut dalam amarahnya.
Mungkin nanti atau beberapa jam lagi, dia mulai tenang dan jika ingin bercerita, pasti orang pertama yang akan mendengar adalah Samuel.
“El, El. Sebentar seneng, sebentar marah, sebentar sedih. Apa sih yang membuatmu seperti ini. Perasaan dari kemarin anyep-anyep aja nggak ada masalah.” Samuel menggaruk kepalanya sambil pergi menjauh dari ruangan Elvino dan kembali fokus terhadap kerjaannya.
__ADS_1