
"Shen, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu. Kuharap kamu tidak marah atau berpikir yang tidak-tidak." Elvino mengambil kedua tangan Shena dan menatapnya intens.
"Katakanlah! Jangan membuatku penasaran.” Shena menatap Elvino lamat-lamat.
"Aku harap, kamu akan mengerti penjelasanku."
Shena hanya mengangguk menanggapi. Elvino mengatur napasnya sebelum akhirnya berbicara.
"Persidanganku dan Celia baru berlangsung. Mungkin sekitar satu atau dua minggu lagi baru akan selesai prosesnya. Aku pastikan tidak lebih dari itu karena aku sudah membayar mahal pengacara andal. Tolong bersabarlah. Ini hanya soal waktu. Setelah selesai, aku akan meresmikan hubungan kita. Namun, sebelum itu kamu harus bersabar dan pelan-pelan juga untuk berkenalan dengan kedua orang tuaku, agar mereka tidak terkejut." Elvino memaparkan semua yang ingin dia katakan dengan harap-harap cemas.
"Tidak apa, aku sangat mengerti kondisi kita, lebih tepatnya ... posisiku. Tapi, sesuai perjanjian. Jangan sentuh aku sebelum semuanya selesai." Shena tersenyum berusaha memahami meski berat. Akan tetapi, hanya itulah yang bisa ia lakukan saat ini.
"Terima kasih banyak, Shen. Aku beruntung memiliki istri seperti kamu. Semoga kali ini yang terakhir. Aku tidak mau gagal kedua kalinya," ungkap Elvino jujur berusaha meraih kedua tangan Shena yang berada di atas meja.
Baru saja Shena hendak menjawab, tiba-tiba datang seorang wanita dari arah lain. Dia berjalan kasar menghampiri meja Elvino dan Shena. Tanpa kata dan tanpa aba-aba, wanita itu langsung menampar Shena. Elvino terkejut langsung berdiri membelakangi Shena.
"Apa-apaan kamu!" pekik Elvino dengan nada tinggi.
"Minggir, El. Aku mau memberi pelajaran sama pelakor ini!" teriak wanita itu, yang tak lain adalah Celia.
Celia berusaha meraih Shena dengan tangannya yang terus mengulur hendak menjambak. Namun, Elvino terus menghalangi dan mencekal pergelangan tangan wanita itu.
"Celia! Jaga mulut kamu, ya? Di sini tidak ada pelakor. Yang ada hanya wanita murahan sepertimu! Kamu yang berselingkuh di belakang aku dan sekarang beraninya mengatai orang yang tidak ada hubungannya dengan kita?" hardik Elvino.
__ADS_1
"Tapi buktinya dia sekarang makan bareng kamu. Ini maksudnya apa? Nggak mungkin kalau dia bukan selingkuhan kamu!" tuduh Celia geram.
"Makan dengan siapa itu hakku. Kita sudah bercerai. Jadi, jangan asal menuduh orang. Pergilah dan jangan cari masalah." Elvino berusaha menangkis setiap serangan Celia yang ditujukan kepada Shena. Dia berusaha melindungi Shena.
"Heh, pelakor! Jangan cuma bisanya bersembunyi di balik punggung suamiku!"
"Kita sudah bercerai Celia!"
"Baru proses, itu berarti belum sah bercerai, El."
“Bagiku, semuanya sudah selesai! Dan satu lagi, jangan pernah berani menyentuh siapa pun yang ada di sekitarku, paham! Aku tidak akan tinggal diam jika orang-orangku terluka gara-gara kamu!”
Pengunjung restoran tersebut mulai berbisik-bisik dan sebagian mengambil video kejadian tersebut, layaknya adegan sinetron yang begitu seru. Shena yang sudah tidak tahan akhirnya berdiri. Dia menyingkirkan Elvino dari hadapannya.
Elvino mengejarnya meski sempat di halangi oleh Celia. Namun, beruntung Shena belum jauh. Shena memberontak dan tidak mau pulang dengan Elvino. Kendati demikian, Elvino tak kehabisan akal. Dia menggendong Shena meski wanita itu terus memukuli dadanya.
Elvino membawa Shena ke dalam mobilnya dan pergi meninggalkan restoran. Dia membawa Shena ke apartemen. Sepanjang perjalanan, mereka berdua hanya terdiam. Shena melipat tangan dan melihat ke arah jendela, dirinya enggan berbicara. Dia kesal setengah mati. Kesal pada dirinya sendiri yang terjebak perasaan dalam hubungan yang rumit antara dirinya, Elvino dan mantan istrinya.
Sementara itu, Celia juga sangat geram dan mengentakkan kaki di dalam restoran. Dia mengumpat dan mengeluarkan sumpah serapah karena harga dirinya terinjak-injak. Dia berpikir akan mempermalukan Shena, tapi justru dia yang dipermalukan dengan perginya Elvino.
Sesampainya di tempat parkir apartemen, Shena langsung keluar dari mobil dan berjalan setengah berlari. Dia melarang Elvino untuk mengikutinya, tetapi memang dasar Elvino keras kepala, dia tetap berjalan di belakang Shena meski sesekali terhenti karena mendapatkan sorotan mata tajam dan pengusiran dari wanita itu.
Sesampainya di apartemen, tadinya Shena tidak mengizinkannya masuk dengan langsung menutup pintu. Namun, Shena sepertinya lupa jika pintu apartemen bisa dibuka hanya dengan menggunakan password jadi, Elvino tetap bisa masuk.
__ADS_1
Shena menggerutu terus-menerus terlebih ketika menyadari Elvino juga ikut masuk ke dalam apartemen. Elvino bukan risi tapi justru malah gemas dengan sikap Shena yang seperti itu. Dia meraih tangan Shena kemudian memeluknya. Shena terkejut mendapatkan perlakukan Elvino yang dadakan.
Setelah Shena terdiam, Elvino mencium bibir Shena dan berlanjut menjadi tautan yang makin dalam. Elvino terus mencecap bibir tipis itu hingga membuat Shena terpejam dan terlena. Beberapa menit lamanya, ketika aktivitas mereka terhenti Elvino menangkup wajah Shena.
"Tidak usah pedulikan, Celia. Dia memang seperti itu. Yang terpenting kamu bukan seperti yang dia katakan, oke?" ucap Elvino menenangkan Shena kemudian merengkuhnya kembali.
Shena mengangguk dalam dekapan Elvino. Entahlah mungkin ini bagian dari mood-nya karena sebentar lagi periode haid bulanan akan datang. Namun, sekarang dia lebih tenang. Sialnya, tiba-tiba bunyi dari perut Shena terdengar merdu. Elvino tertawa pelan. Hal itu membuat dirinya dihujani pukulan kecil oleh Shena.
"Ampun … ampun, Tuan Putri. Baiklah, maaf." Elvino menghindari serangan Shena dengan meletakkan tangan di depan wajah agar pukulan Shena terkena tangannya saja. Meski sebenarnya pukulan itu tidak berarti apa-apa bagi Elvino. Dia menangkap lengan Shena kemudian berkata lagi, "sebagai gantinya, aku akan memasak masakan spesial untuk istriku ini. Kamu duduklah di kursi meja makan. Tunggu di sana."
Setelah mengatakan itu, Elvino mengecup kening Shena dan bergerak ke dapur. Dia menyingsingkan lengan baju, memperlihatkan ototnya lalu memakai apron dan membuka kulkas. Setelah menemukan beberapa bahan, dia mulai meracik dan memasak.
Sekitar tiga puluh menit berlalu dan kini tercium aroma masakan yang menggugah selera. Elvino menghidangkan makanan hasil masakannya di atas meja makan.
"Shena, mari makan!" ajak Elvino sembari tersenyum. Peluh di dahinya menambah keseksian seorang Elvino.
Shena menghampiri meja makan dengan malu-malu. Suaminya tersebut ternyata tidak hanya jago di bengkel, tapi jago memasak. "Ah bagaimana jika di ranjang? Apakah dia sama hebatnya dengan keahlian lain?" Batinnya. Namun, ia buru-buru menggelengkan kepala mengusir pikiran kotornya itu. Dia tersenyum kepada Elvino dan mengucapkan terima kasih setelah pria itu menggeser kursi untuknya.
Mereka makan dengan hikmat dengan rasa yang nikmat tak kalah dengan makanan restoran. Elvino ternyata memasak steak dilumuri saos barbeque lengkap dengan sayur segar yang direbus.
Bersambung....
Hai readers tersayang, maaf akhir-akhir ini author sibuk banget nulis cerita lain juga jadi ya gitu deh ❤️ Terima kasih sudah setia menemani Shena dan El sampai detik ini. Love you kalian ❤️💕
__ADS_1