Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Mencari Roger


__ADS_3

Masih dengan emosi yang memuncak, kedua mata Elvino menatap Shena tajam dengan napas yang memburu. Pikirannya bahkan kalut, tidak bisa berpikir dengan jernih. Harusnya, dia bisa mengendalikan amarahnya dan mencari tahu kebenarannya. Namun, kecemburuanlah yang membuatnya buta akan ketulusan istrinya itu. Dia hanya percaya dengan gambar yang bahkan tidak bisa menjelaskan apa pun.


“Aghh!” Elvino memukul kemudinya, sedangkan Shena hanya bisa menangis terisak dibalik kedua tangan yang menutup wajahnya.


“Shen, kenapa kamu semudah itu mengkhianati pernikahan kita, hah? Mana yang kamu bilang mencintaiku? Bullshit!”


Kedua tangan Elvino beralih memegang kedua bahu Shena, cengkeraman tangan lelaki itu cukup kuat hingga Shena menahan nyeri. Sesekali Elvino menggoyangkan tubuh tak berdaya istrinya.


“El, lepasin! Kasar banget sih!”


“Sudah pernah ngapain aja kamu sama dia, hah? Apa dia juga menikmati tubuhmu? Apa dia juga menciummu seperti ini?”


Wajah Elvino mendekat, tanpa aba-aba bibirnya dengan cepat meraup bibir Shena dengan beringas dan rakus. Ciuman ganas yang diberikan Elvino membuat napas Shena tersengal. Buliran hangat yang mengalir dari mata Shena pun semakin deras. Tak menghiraukan istrinya yang berontak, Elvino malah semakin terpacu untuk menjejaki leher dan memberikan beberapa bekas merah di sana.


Shena yang mendapati perlakuan Elvino mencoba berteriak, tetapi tubuhnya lemas karena terlalu banyak menangis. Tak ada kelembutan sama sekali, semua terjadi secara paksa, bahkan lebih seperti pemerkossaan.


“Dengar, jangan pernah mengkhianatiku. Aku bisa berbuat nekat, Shen! Tidak ada satu pun pria yang bisa menyentuhmu selain aku, paham!”


Tanpa menunggu jawaban Shena, Elvino langsung menancapkan gasnya. Mobil itu melaju kencang membelah jalanan kota menuju apartemen. Shena yang ketakutan pun hanya bisa memejamkan mata. Dia tak menyangka bahwa Elvino bisa sekasar dan semenakutkan itu, yang dia tahu hanya seorang Elvino yang lembut dan penuh kasih.


Saat Elvino hilang kendali, mobil yang dikendarainya itu hampir saja menabrak sebuah truk muatan yang melintas di pertigaan.


“Turunkan aku di sini!” ucap Shena tanpa menatap Elvino.


Elvino hanya membisu. Tak sepatah kata pun keluar dari mulutnya, bukannya memelankan laju mobil, dia malah semakin menambah kecepatannya.


“Bunuh aja aku sekalian, El! Daripada kamu seperti ini! Buat apa hubungan tanpa kepercayaan, percuma!”


Elvino terus membisu dan mengabaikan ucapan Shena. Tak lama, mobil pun sampai di halaman apartemen, Shena lalu turun tanpa pamit dan menutup pintu mobil dengan kasar. Hatinya juga merasa geram karena sudah dituduh selingkuh oleh suaminya. Apalagi, dia juga sempat menerima perlakuan kasar dari suaminya itu.


Di kamar, jari lentik Shena terus berusaha mencari informasi tentang Roger di ponselnya, dia mencoba mencari tahu di mana keberadaan lelaki itu sekarang. Terakhir kali, dia memang sempat berjumpa di hotel waktu itu, pertemuan kedua Shena diculik Roger, dan yang ketiga mereka bertemu di acara gathering butik, dia sebagai CEO salah satu perusahaan.


Sejak berhubungan dengan Roger, Shena ingat lelaki itu mempunyai anak perusahaan yang berdiri di bidang periklanan di negara ini. Shena lantas mencarinya di lama web. Hanya hitungan menit, Shena mendapatkan informasi dan alamat perusahaan tersebut. Wanita itu gegas mendatanginya.

__ADS_1


”Selamat siang, maaf apa perusahaan ini masih di bawah pimpinan Roger?” tanya Shena pada seorang wanita di front office.


“Iya, betul, Bu. Kalau boleh tau Ibu ini siapa, ya? Ada perlu apa?”


“Agh, saya temannya Roger. Boleh saya bertemu dengannya?”


“Apa sudah ada janji sebelumnya?”


“Belum.”


“Tuan Roger sedang tidak ada di tempat, Bu. Beliau sedang meeting di luar.”


“Boleh saya minta nomor teleponnya?”


“Mohon maaf, Bu. Kami tidak bisa sembarangan memberikan nomor telepon Tuan tanpa izin.” Wanita itu berucap dengan sopan sesuai prosedur perusahaan.


“Kalau begitu, tolong nanti beritahu dia kalau saya mencarinya. Ini kartu nama saya, tolong berikan padanya. Terima kasih. Ini sangat penting.”


Shena pun pergi meninggalkan perusahaan tersebut. dia menghabiskan waktunya di sebuah taman kota seorang diri. Jika dia lebih lama di apartemen, itu hanya akan menjadikannya semakin stres memikirkan masalahnya dengan sang suami.


Malam hari, Shena yang baru saja pulang dan memasuki apartemen, dia langsung melempar tasnya di sofa. Lantas menjatuhkan tubuhnya di ranjang. Matanya menatap awang-awang. Sesekali dia menjambak rambutnya sendiri.


“El, kenapa sih harus ada masalah seperti ini, baru juga aku merasakan kebahagiaan sama kamu. Begitu cepatnya kamu berubah. harusnya kamu tidak langsung mempercayai foto itu. Aku tidak mungkin melakukan itu dan nggak akan pernah. Aku mencintai kamu, El." Shena menangis sesenggukan, melampiaskan segala rasa yang berkecamuk di hatinya.


Dering ponsel membuyarkan lamunannya, ada telepon masuk yang membuat Shena langsung beranjak dan mengambil benda pipih tersebut dari dalam tasnya. Dia mengira bahwa suaminyalah yang menghubunginya.


“Nomor asing, siapa ini?” Shena mengangkat telepon tersebut dengan penuh keraguan, tetapi dia juga sangat penasaran jika tidak mengangkatnya.


“Shena ... hai!” sapanya dari sambungan telepon. “Kau mencariku, Honey? Kenapa, apa kau merindukanku setelah sekian lama?”


“Roger?” suara itu terekam jelas dalam ingatan Shena. Sebagai mantan tunangan yang berhubungan selama bertahun-tahun, tentu saja dia hafal suara bariton lelaki tersebut.


“Nggak usah basa-basi. Apa tujuan kamu sebenarnya, hah? Kenapa kamu mau merusak rumah tanggaku?” tanya Shena dengan nada tinggi yang membuat Roger terkejut.

__ADS_1


“Wait, kamu bicara apa, sih?” tanya Roger yang merasa aneh dengan Shena.


“Temui aku di Red Cafe, sekarang!”


“Dengan senang hati, Honey!”


Shena lalu menutup sambungan telepon tersebut dan langsung bersiap-siap menemui Roger di sebuah restoran.


Shena memilih untuk bertemu langsung dengan Roger karena jika hanya bicara lewat telepon akan semakin susah untuk mengulik informasi, dia hanya ingin masalah ini cepat selesai dan bisa harmonis lagi dengan Elvino.


Red Cafe, suasana tampak sedikit pengunjung. Seorang lelaki dengan setelan jas sudah berada di sebuah meja paling ujung seorang diri, matanya fokus memainkan ponsel.


“Jelaskan! Apa maksud kamu melakukan ini semua, hah!” Shena tiba-tiba menghampiri lelaki itu dan berucap tanpa basa-basi terlebih dahulu.


“Melakukan ... melakukan apa? Maksud kamu apa, Honey? Duduklah, kita minum dulu, biar aku pesenin.”


“Nggak perlu, waktuku nggak banyak! Dan kamu nggak usah pura-pura lagi. Sekarang aku mau pengakuan jujur kamu. Buat apa kamu mengirim foto lama kita ke suamiku? Kamu mau ngerusak rumah tanggaku? Please-lah, Roger. Kita udah selesai! Jangan terus mengganggu kehidupanku!”


“Foto apa? Apa maksud kamu, Shen? Seriously aku nggak paham. Aku sama sekali nggak pernah mencampuri rumah tangga kamu, apalagi kirim-kirim foto kita ke suami kamu. Kaya nggak ada kerjaan aja!”


“Cuma kamu yang punya foto itu, Roger! Siapa lagi pelakunya kalau bukan kamu, hah! Nggak usah mengelak!” tutur Shena dengan emosi.


“Ayolah, Shen! Jangan bahas masalah itu, sebaiknya kita bicara tentang kita, bukankah itu lebih baik?” Roger mengukir senyuman menjijikkan, perasaannya memang tidak bisa dibohongi, bahwa dia masih menyimpan sisa cinta untuk Shena.


“Percuma ngomong sama kamu, sia-sia aku dateng ke sini kalau kamu terus ngelak! Sebaiknya aku pergi,” tukas Shena yang mulai geram karena Roger masih juga tak mau mengaku soal foto tersebut.


“Shen, tunggu!”


Satu langkah kaki jenjang Shena hendak beranjak dari kursi tersebut. Namun, dengan cepat Roger menarik tangannya membuat Shena hilang keseimbangan. Tanpa sengaja, Shena jatuh ke pelukan Roger, dalam hitungan beberapa detik, Roger mendekap wanita itu. Shena berusaha melepasnya, tetapi Roger malah duduk di kursi dan memangku Shena. Tangan lelaki itu, bahkan melingkar kuat di perut Shena.


“Shen, i miss you so much!”


“Dasar gila! Lepasin atau aku teriak!”

__ADS_1


__ADS_2