Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Istri yang Tak Layak


__ADS_3

Shena menatap langit-langit kamar, dia semakin frustrasi ketika mengingat sosok lelaki yang diharapkannya—yang mampu menjalankan semua misinya. 


Elvino, kali ini dia hanya berharap mendapat pertolongan darinya. Tak peduli jika dia harus menahan rasa malunya untuk bisa mendapatkan apa yang diinginkannya. 


“Ya Tuhan! Dosa apa aku, hingga aku mendapat banyak cobaan.” Shena menghela napas kasar.


 Namun, sesaat kemudian, dia tersenyum membayangkan wajah Elvino berada di pelupuk mata sedang tersenyum padanya. 


“Andai saja, aku bisa berpacaran dengannya, pasti aku sangat bahagia, mempunyai lelaki tampan, gagah, dan dingin sepertinya. Nggak peduli walau dia cuma seorang karyawan bengkel, setidaknya dia mempunyai tampang yang cukup mendukung untuk dipamerkan.” Shena terus berbicara sendiri dalam kamarnya, rasa harapnya pada Elvino begitu besar, meskipun dia belum sepenuhnya mengenal lelaki itu. 

__ADS_1


“Aku bisa pastikan, suatu. Saat nanti, kamu akan menjadi milikku, Lelaki Jutek!” Tawa Shena meledak, dia langsung membungkam mulutnya sendiri agar tak terdengar dari luar.


Sementara itu, di sisi lain sepasang suami istri tengah berada di suatu kamar. Pertengkarannya setiap hari bahkan tidak pernah ada habisnya. Kesalahpahaman membuat permasalahan di rumah tangga mereka semakin rumit. Tidak ada celah untuk mengubah pribadi seorang wanita menjadi lebih baik jika bukan dari pribadinya sendiri. Sekuat apa pun dan sesabar apa pun, seorang suami akan lelah jika harus menuruti kemauan istri yang selalu menekannya.


“Mau ke mana hem? Clubbing lagi?” tanya Elvino ketika mendapati istrinya tengah bersiap pergi, mengenakan gaun seksi dengan belahan dada yang rendah.


“Memangnya ke mana lagi? Aku bosan di rumah terus.” Celia mengempaskan tas kecilnya ke kursi di depan meja rias. Tatapan sengit terlihat jelas dari wajah cantiknya.


“Bagaimana bisa kamu menuntut kewajibanku sebagai seorang istri, sedangkan menyentuhku pun kamu jarang. Aku butuh itu, El. Tapi kamu selalu sibuk di bengkel. Padahal jelas-jelas karyawan kamu banyak. Tapi, nggak pernah kamu luangin waktu sedikit aja untuk menyenangkanku!” sanggah Celia tak mau kalah.

__ADS_1


Elvino mengusap kasar kepalanya dengan kedua tangan. Giginya gemerutuk menahan emosi yang sudah di puncaknya. Perlahan menetralkan napasnya lalu berkata, “Aku pikir kamu lupa atau pura-pura lupa. Bukan aku yang tidak ada waktu untukmu, tapi kamu yang tidak pernah memperhatikanku. Pergi siang pulang pagi. Aku berangkat kerja kamu tidur, aku pulang kerja kamu tidak pernah menyambutku. Jangan egois! Kamu yang memulainya! Kamu selalu sibuk dengan teman sosialitamu sampai kamu lupa jika kamu berstatus istri!” 


“Diam! Aku tidak mau mendengarnya lagi. Aku muak denganmu yang tak pernah peka!” 


Setelah mengatakan itu, Celia mengambil tasnya kemudian bergegas pergi tanpa memedulikan panggilan Elvino. 


Elvino menggeram kesal setengah berteriak meluapkan amarahnya. Pasalnya ini bukan kali pertama Celia pergi ke club. Hampir setiap malam Celia pergi ke sana. Bahkan tak jarang wanita itu pulang dalam keadaan mabuk. Berulang kali Elvino tegur, tapi tak pernah dihiraukan. 


Padahal, dahulu sebelum menikah Celia yang Elvino kenal adalah gadis yang baik, pintar, dan lemah lembut. Namun, setelah menikah lambat laun tingkah Celia semakin terlihat. Dia mulai sering ke club, berfoya-foya dan mabuk-mabukkan dengan teman sosialitanya. 

__ADS_1


Bersambung...


__ADS_2