Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Diantara Dua Wanita


__ADS_3

“Shena, apa pun yang kamu rencanakan, aku tidak akan bisa terima. Seharusnya kamu tahu batasan dan menghindari satu kamar dengan seorang lelaki, jangan lanjutkan rencanamu itu, bisa saja aku membencimu setelah ini,” tegur Elvino, dia berjalan ke tepi ranjang dan duduk membelakangi Shena yang tengah bersandar di kepala ranjang. Rasa kecewa Elvino berkecamuk saat menganggap Shenalah yang salah dalam hal ini.


“Jangan seenaknya menuduh, El! Aku bukan wanita murahan yang begitu mudahnya memperdaya lelaki, apa kamu pikir aku nggak punya harga diri, hah! Aku juga tidak ingin hal seperti ini terjadi! Atau kamu mau lihat CCTV hotel ini? Supaya kamu bisa tahu apa yang sudah aku lakukan.” Begitu sesak kalimat itu terlontar dari bibir manis Shena. Dia tak menyangka Elvino menganggapnya wanita rendahan yang mau merencanakan hal kotor demi mendapatkan yang dia mau. “Dan, jika membenciku adalah yang terbaik, benci aku! Pulanglah sekarang! Jangan pedulikan aku! Pergi El!”


Belum habis hatinya sakit karena mengetahui fakta tentang Elvino, sekarang lalaki itu menambah kepiluan dalam dirinya karena barisan kata yang diucapkannya. 


Buliran hangat mulai mengalir dari manik indah milik Shena. Dia menutup wajahnya seraya sesekali menghapus air mata tersebut. Shena yang terbiasa ceria dengan gaya angkuhnya, seketika tidak terlihat lemah tak berdaya. Kesedihan kian menyelimutinya dan tak sejalan dengan otak yang terus bergelut dengan hati. Pikirannya masih berpikir waras untuk menjauhi Elvino. Namun, hatinya terus menolak, menginginkan lelaki itu seutuhnya dan menjadikannya miliknya.


“Cukup, Shen! Aku tidak pernah menyebutmu wanita ... a—aku hanya merasa ini salah. Maaf jika kata-kataku menyakitimu. Maafkan aku.” Elvino menyadari luapan emosi Shena yang begitu memuncak. Wanita itu terisak dalam kedua tangan yang ditangkupkan ke wajahnya. Terlihat jelas tubuh wanita itu bergetar hebat. Bukan hanya kalimat Elvino yang sudah menyakitinya. Akan tetapi, tangisan hebatnya dikarenakan mengetahui status Elvino yang sebenarnya.


Lelaki itu merasa bersalah atas ucapannya, dia iba melihat Shena yang terus menutupi wajahnya. Elvino lalu mendekat, mencoba merengkuh tubuh Shena dalam pelukannya. 


“Lepas, El!” Shena menggoyangkan tubuhnya, mengibaskan tangan El yang hendak memeluknya. 


“Shena, jangan seperti ini, maafkan aku. Please!” ELvino merasa sangat terpukul karena salah menilai Shena. Tak peduli tangan Shena menolak Elvino tetap mendekapnya erat dan berusaha menenangkan Shena. Nalurinya berjalan begitu saja, Elvino tidak tega melihat Shena yang terus menangis.


“Kamu jahat, El!” Shena memukul dada Elvino seraya menangis saat tubuhnya berhasil berada di dalam dekapan Pria itu.


 Elvino membiarkan Shena terus meluapkan segala emosinya, sembari mengelus rambut wanita itu untuk memberikan rasa nyaman. Lambat laun Shena pun berhenti memukul dirinya, hanya isakan tangis yang tersisa.


Merasa bahwa Shena sudah lebih tenang, dia pun melepaskan pelukannya dan melihat wajah sendu pada wanita yang ada di hadapannya. Tangannya juga mengusap air mata yang ada pipi wanita itu, suara pelan dari tangisan Shena memancing mata Elvino untuk melihat ke arah bibir ranum milik Shena.


Sontak dengan refleks tangan Elvino mengelus bibir Shena yang sudah berhasil mengusik hatinya untuk bisa merasakan bibir ranum itu, sentuhan jemari Elvino membuat ke dua mata mereka saling bertemu, dan tanpa sadar, Elvino langsung mengecup bibir Shena dengan lembut.


Shena pun dibuat terkejut atas apa yang dilakukan oleh Elvino, dia diam membeku dan tidak membalas kecupan itu, tapi pada saat Elvino mengetahui bahwa ciumannya tidak dibalas, pria itu kembali mendaratkan bibirnya dengan lembut sembari **********.

__ADS_1


Shena ingin mendorong tubuh Elvino saat mengingat bahwa pria itu sudah menikah, tapi hati dan tubuhnya bertolak belakang dan menginginkan ciuman itu. Hingga tanpa dia sadari, Shena pun juga membalas ciuman itu. Sungguh begitu manis dan lembut ciuman yang mereka rasakan.


Cukup lama mereka menautkan bibir mereka, memberikan nikmat satu sama lain, hingga Elvino melepaskan ciuman itu untuk memberikan kesempatan pada Shena mengambil napasnya.


“Maafkan aku!” Elvino mengusap bibir Shena yang basah akibat ulahnya.


“Kita pulang! Aku antar kamu!” Elvino merapikan anak rambut Shena. Dia bergegas ke kamar mandi untuk membersihkan diri sebelum pulang. 


Setelah Shena dan Elvino rapi, Elvino memperhatikan mata Shena yang masih sembab. Nalurinya berkata ingin sekali memperlakukan wanita itu dengan lembut, dia lalu menggandeng tangannya saat mereka keluar dari kamar itu.


Pandangan Shena kosong seiring dengan langkahnya di samping Elvino. Sesekali dia melirik dan ke wajah lelaki itu. Namun, Elvino hanya fokuss dengan jalannya.


“Apakah aku salah jika jatuh cinta dengan suami orang?” batin Shena, gejolak hatinya kian mendalam semakin mengesakkan jika mengingat status Elvino saat ini.


Hampir satu jam mereka menuju kota. Kini, Elvino sudah memarkirkan mobilnya tepat di halaman rumahnya setelah dia mengantar Shena terlebih dahulu, dia turun dari mobil dan masuk ke dalam rumah, dia pun duduk di ruang tamu untuk merebahkan tubuhnya di atas sofa.


Saat mata Elvino terpejam merasakan rileks pada tubuhnya, tiba-tiba ingatannya tentang ciumannya bersama Shena pun terlintas. Tangannya memegang dada bagian sebelah kiri untuk merasakan debaran jantung yang begitu kencang. Hanya mengingatnya saja wajah Elvino langsung memancarkan merah merona di pipinya.


“Aakkh, El ... sadar! Lo tuh udah punya istri!” Elvino pun mengacak rambutnya sendiri.


“Kamu sudah pulang?” tanya Celia yang menghampiri Elvino.


Elvino pun terpaku melihat penampilan Celia yang berubah lebih anggun dan manis dengan make up natural, dia tersenyum memberi isyarat sebagai jawaban.


“Mau langsung sarapan, apa mau mandi dulu?” tanya Celia dengan lembut.

__ADS_1


“Nanti saja!” ucap Elvino yang masih terpaku dengan penampilan Celia.


“Kenapa? Ada yang aneh ya, sama wajah aku?” Celia menyentuh wajahnya untuk mencari letak kesalahan.


“Ehem ... enggak ada! Aku mau mandi dulu!” tukas Elvino yang bergegas ke arah kamar mandi.


Celia pun menyuruh Elvino untuk menunggu beberapa saat, agar dia bisa menyiapkan air hangat untuk sang suami, ketika sudah siap Elvino pun masuk ke dalam kamar mandi, sedangkan Celia menyiapkan pakaian salin untuk Elvino lalu bergegas ke arah dapur menyiapkan sarapan.


Elvino pun terkejut saat keluar dari kamar mandi, tidak seperti biasanya Celia menyiapkan segala keperluannya, walaupun Elvino menyadari perubahan pada istrinya tetapi anehnya, hatinya tidak terlalu senang dengan perubahan Celia.


Langkah Elvino semakin mendekat ke arah meja makan, dia juga melihat Celia sedang menyiapkan sarapan untuk mereka berdua.


“Sudah selesai mandinya? Sarapannya mau apa? Nasi goreng, apa selai roti?” Celia menggeser bangku untuk Elvino duduk.


“Nasi goreng saja,” ucap Elvino yang masih heran dengan sikap dan penampilan Celia. Dia melihat Celia yang mengambilkan Nasi goreng ke atas piring, lalu menuang air minum ke dalam gelas.


“Terima kasih,” ucap Elvino.


“Sama-sama, Sayang!” Celia tersenyum lalu mengusap lembut dagu Elvino sebelum dia duduk di depan suaminya.


Mendengar panggilan dari Celia membuat Elvino terkejut, pasalnya dia tidak pernah mendengar sang istri memanggilnya dengan sebutan kata sayang. Namun, Elvino yang memiliki sifat tidak mau mengambil pusing akhirnya hanya menikmati sarapannya berdua dengan sang istri.


Elvino melengkungkan sudut bibirnya melihat senyum Celia yang sudah lama tidak pernah terlihat. Namun, sialnya tiba-tiba bayangan Shena terlintas di pikiran Elvino. Dia melihat seolah Celia adalah Shena. Matanya mengerjap-ngerjap memastikan bahwa penglihatannya salah. Benar saja, barusan hanyalah ilusi Elvino semata.


“Kamu sudah gila, El. Sadar!” Batin Elvino seraya menggeleng-gelengkan kepala, kemudian meneguk minumannya dengan cepat hingga tersedak.

__ADS_1


Bersambung....


__ADS_2