Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Apakah Kau Merindukanku?


__ADS_3

“Aku paham kok, kamu pasti akhir-akhir ini juga capek banget karena terlalu sibuk,” ucap Shena tanpa menatap lelaki di sampingnya. Tangannya sibuk  membuka bungkusan makanan dan menyiapkannya untuk Elvino.


Elvino terus memandang wajah Shena yang tengah serius dengan makanan tersebut. Jemari Elvino tergerak untuk membelai rambut Shena yang terurai panjang. Keringat wanita itu membasahi pangkal dahi dan rambutnya. Elvino segera mengusap keringat tersebut dengan tangannya, lalu menyelipkan sebagian rambut Shena ke belakang telinga.


Merasakan sentuhan lembut Elvino, Shena sontak terkejut dan melirik ke arah suaminya. Wanita itu terlihat salah tingkah dan segera mengambil tisu untuk mengelap keringat di wajahnya. 


“Gerah banget?” tanya Elvino seraya melihat Shena. Tangannya kemudian meraih remot AC untuk menurunkan suhu ruang. “Kasihan, panas-panas kamu nekat ke sini karena mau antar makananku. Apa kamu merindukanku?” tanya Elvino sambil mengulas senyumannya.


Shena membulatkan mata mendengar perkataan Elvino. “Dih, GR banget!”


“Aku bisa merasakannya, Shen. Kamu pasti kangen, kan, karena lama nggak berduaan dengan suamimu ini?”  Elvino mencolek hidung Shena. 


“El, makanlah. Jangan kebanyakan bicara.” Shena pun berpura-pura galak untuk menutupi rasa groginya. Bagaimana pun, tebakan Elvino memang benar jika dirinya tengah merindukan lelaki itu.


Keduanya pun menikmati makan siangnya berduaan, sesekali candaan Elvino lontarkan untuk memecah keheningan.


Sementara itu, Melva berjalan mengelilingi tempat khusus servis mobil. Ruangan dengan luas yang bisa menampung dua puluh mobil, dengan kaca tinggi membatasi ruang tersebut, sehingga pelanggan yang menunggu pun dapat melihat langsung saat mobilnya tengah proses servis.


 Tak ada satu orang pelanggan pun yang masuk area servis, mereka diwajibkan menunggu di ruang tunggu karena akan berbahaya jika pelanggan yang kebetulan membawa rokok atau mempunyai alergi terhadap asap kendaraan.


Namun, Melva tidak memahami hal itu, dia begitu santainya melihat-lihat sekitar tanpa memperhatikan pengumuman yang tertera jika ada larangan masuk ke ruang luas tersebut.


Melva menggerutu sesekali menendang benda yang dia lewati. Tanpa sengaja dia menginjak kaki seorang karyawan Elvino hingga kepalanya langsung terbentur mesin bawah mobil karena pergerakannya terbatas. Lelaki itu padahal tengah fokus memperbaiki mesin. Suara teriakan mengejutkan Melva hingga membuatnya hampir terjungkal. Dia refleks mundur dan malah menabrak oli di belakangnya. 


Cairan hitam pekat pun mengalir dari botol, Melva tak tahu apa yang harus dilakukannya. Kabur pun rasanya tidak mungkin.


"Aduh!" keluhnya.

__ADS_1


Lelaki itu pun keluar dari kolong mobil dan lanjut berdiri menemui wanita yang tengah berdiri di dekat mobil. "Ck. Bisa lihat nggak sih? Kakiku kamu injak sembarangan di kira batu apa? Kalo mata minus pake kacamata. Jangan asal jalan!" hardik Samuel sambil mengusap kening karena benturan cukup keras tadi.


"Heh, siapa suruh kaki di tengah jalan gitu? Bukan salah akulah!" Melva tak mau kalah.


"Kamu yang salah malah nyalahin orang, bukannya minta maaf! Dan ini? Apa yang kamu buat, hah?” Samuel yang melihat ke bawah pun baru sadar jika olinya sudah membanjiri lantai tersebut. Dia menjambak kasar rambutnya.


“Sorry, tadi nggak sengaja. Itu juga karena tadi kena kaki kamu, kan. Coba kalau kaki kamu nggak di tengah jalan, pasti aku nggak akan kesandung dan menumpahkan oli itu.” Melva menjawab dengan santai seolah tanpa rasa bersalah. 


Samuel yang melihatnya pun semakin emosi, napasnya memburu menahan amarah yang Melva perbuat. “Apa kamu nggak lihat pengumuman yang tertulis di sana, hah? ‘Dilarang memasuki area service, kecuali karyawan’. Apa kamu nggak bisa baca?” bentak Samuel.


“Dasar wanita gila pergilah! Jangan masuk di area sini!” usir Samuel yang merasa kesal.


Sejak awal kedatangannya beberapa saat lalu pun, Samuel sudah merasa jika Melva adalah wanita yang angkuh. Terlihat jelas saat dia menyapa kedatangan Shena yang diiringi Melva di sampingnya tadi. Shena mengangguk ramah, berbeda dengan Melva yang membuang muka begitu saja karena malas dengan lelaki asing yang tidak dikenalnya.


"Kamu ngatain aku apa? Gila? Hei yang bener aja, bisa-bisanya ngatain aku sembarangan. Harusnya ngaca dulu, nggak sadar apa kalau kamu lebih gila!” 


"Ada apa ini?" tanya Elvino.


"Diam!" kompak Melva dan Samuel sambil menatap tajam Elvino.


Shena dan Elvino pun saling melempar tatapan heran dan penuh tanda tanya, sementara Samuel masih terus menatap tajam Melva yang tengah melipat tangan dan mengerucutkan bibirnya. 


“Ada apa sih, Mel?” tanya Shena. 


“Dia tuh, aneh banget! Masa asembarangan ngatain aku gila dan nyalah-nyalahin aku. Padahal kan, kalau bukan karena dia juga tuh oli nggak bakalan tumpah,” sungut Melva sembari menjelaskan dengan kesal.


“Sam, apa yang terjadi?’ 

__ADS_1


“Bos, dia memang salah. Lihat aja, dengan dia berada di area ini aja salah, kan? Dan dia masih ngeyel nggak mau minta maaf. Keras kepala banget jadi cewek. Dengan santainya berjalan, mata nggak dipakai buat lihat, tulisan di papan segede itu nggak dibaca, kaki orang di bawah mobil ditendang, belum lagi botol oli segede itu di tendang juga. Nggak paham lagi sama tuh orang!” Samuel terus menggerutu dan memaparkan semua kejadian yang sudah membuat dirinya kesal. Belum lagi jam kerja yang harusnya diburu waktu, kini malah terbuang akibat ulah Melva. 


Namun, bukan Melva namanya jika dirinya tidak membela diri. wanita itu masih terus bersikukuh bahwa dirinya tidak bersalah dan terus menyalahkan Sam, meskipun semuanya sudah jelas kesalahannya.


“Mel, kita pulang aja deh kalau begitu, kamu baru aja aku tinggal makan udah berulah. Gimana kalau sampai sore, bisa-bisa kamu diamuk karyawan sebengkel ntar.” Shena mencoba menarik tangan Melva sedikit menjauh dari Samuel dan Elvino.


“Shen, kamu nyebelin banget sih, udah tau sahabatnya  dipojokin bukannya ngebelain malah tambah nyalahin.”


“Mel, lihat-lihat tempat dong, meskipun aku istrinya El, nggakk enak juga kali. Hish!”


Shena pun berjalan menghampiri Elvino yang tengah berbincang dengan Samuel. “El. Kayaknya aku harus pamit deh.”


“Kenapa buru-buru, Shen?” Elvino menatap Shena di sampingnya. “Kenapa nggak nanti ja, baru juga selesai makan, duduk dululah sebentar.”


“Nggak, El. Kita ketemu besok lagi, ya.” Shena pun melihat ke arah Samuel. “Sam, maafin Melva ya, mungkin tadi dia memang nggak sengaja dia memang agak keras kepala, mohon dimaklumi, ya.” 


Entah apa yang membuat Shena kini berubah menjadi wanita yang santun, mungkin karena dia sering berdua dengan Elvino dan terbawa dengan sikap santun lelaki itu. Berbanding terbalik pada saat dirinya belum menikah dan masih menikmati hidup dengan kesendiriannya, Shena memang wanita yang angkuh dan terlihat sangat berkuasa, kini, dia menjadi wanita yang lemah lembut dan begitu menjaga tutur katanya. Pernikahannya dengan Elvino telah membuat dirinya menjadi jauh lebih baik.


“Loh, kenapa Mbak Shena yang minta maaf, kan bukan kesalahan kam, Mbak. Harusnya dia yang minta maaf.” 


“Sudah, aku harap jangan diperpanjang lagi, ya. Maafin kesalahan Melva.” Shena menoleh ke Elvino dan berpamitan, “El, maaf ya atas perbuatan Melva, aku pamit dulu.”


Elvino pun mengangguk dan terus menatap wanita itu. Tak lupa, Shena lalu meraih tangan Elvino untuk bersalaman dan mencium punggung tangannya.


BERSAMBUNG....


HALO KESAYANGAN AUTHOR SEMUA. TETAP JAGA KESEHATAN YA. TETAP SEMANGAT DAN BAHAGIA SELALU. LOVE YOU GAES 😘 TERIMA KASIH SELALU MENYEMPATKAN DIRI MEMBACA EL DAN SHENA. ❤️

__ADS_1


__ADS_2