
“Mau pulang ke mana, Sayang?” tanya Elvino setelah keduanya duduk di jok belakang.
“Aku mau ke apartemen aja deh, besok baru kita ke rumah Mam, aku capek banget, Sayang.”
“Kasihan sekali istriku, nanti aku pijitin biar capeknya ilang.”
“Pijat aja, kan? Nggak lebih?” Shena berkata pelan agar sopir di depannya tidak mendengar pembicaraannya dengan Elvino.
“Kita lihat saja nanti.” Elvino menyingkirkan anak rambut Shena yang berada di telinga, dan membisikinya.
Tak lama, mobil itu pun sampai di apartemen tempat mereka tinggal selama ini. Sopir tersebut dibolehkan pulang oleh Elvino dengan memberikan tip beberapa lembar uang merah kepadanya.
Keesokan harinya, jam masih menunjukkan pukul tujuh. Namun, kali ini Shena sudah berkutat di dapur untuk menyiapkan sarapan sedangkan Elvini baru saja terbangun. Tak mendapati Shena di sampingnya, dia langsung beranjak dan mencarinya.
Ternyata, wanita itu tengah sibuk mengaduk scrumble egg di teflon. Melihat hal itu, Elvino yang berdiri dan bersandar di ambang pintu pun tersenyum gemas melihat istrinya. Shena yang mengenakan daster mini rumahan terlihat sangat menggoda. Wanita itu juga tidak mengenakan celana pendek di bawahnya, padahal dress itu hanya mampu menutup bawah bokongnya saja.
Elvino menatap Shena yang terus terlihat ceria dan sesekali menggoyangkan tubuhnya mengikuti alunan musik dan lagu yang diputarnya di ponsel. Elvino melipat bibirnya menahan tawa, ekspresi lelaki itu tampak sangat bahagia memiliki istri seperti Shena yang begitu menggemaskan bak boneka. Tak henti-hentinya dia bersyukur karena sangat beruntung memiliki wanita secantik dan sesempurna Shena.
Perlahan kaki kekar itu melangkah ke depan, mendekat tanpa suara. Kedua tangannya tiba-tiba melingkar ke perut Shena, dia menumbuhkan dagunya ke bahusena sehingga nafas lelaki itu bisa dirasakan oleh leher dan telinga Sena
“Elvino Sayang, please jangan menggangguku. Nanti gosong scrumblenya.” Shena mencoba mengurai tangan Elvino. Namun, lelaki itu justru malah semakin erat mendekapnya dari belakang.
“Aku suka wangimu, sangat mencandukan. Memelukmu seperti ini adalah hal ternyaman yang selama ini belum pernah aku rasakan, Sayang.”
“Ah, masa? Sama Celia nggak nyamankah?” tanya Shena dengan spontan dan terkesan menggoda.
Mendengar nama Celia disebut, Elvino langsung melepaskan pelukannya dari tubuh Shena. Dia lalu terdiam sesaat dan mengembuskan napas kasar. “Jangan membanding-bandingkan sesuatu yang tidak akan pernah bisa jadi perbandingan, Shen. Karena kamu jauh lebih baik, bahkan dilihat dari segi apa pun. Bagiku, kamu adalah wanita terbaik. Dan mulai sekarang aku minta jangan pernah menyebut nama di lagi di depanku. Itu akan menghancurkan moodku, Sayang.”
Elvino berjalan lemas menuju meja makan tanpa memerhatikan Shena lagi. Dia meraih benda pipihnya dan mencoba menyibukkan diri—menggeser terus layar ponsel tersebut.
“Sayang, maaf. Aku nggak bermaksud membuatmu mengenang masa lalu, aku hanya spontan aja tadi. Kamu marah?” tanya Shena mendekat setelah dia mematikan kompornya.
“Bukan terkenang, tapi lebih tepatnya aku sangat muak. Jadi please, jangan sebut-sebut dia lagi, okey?”
“Iya, Sayang. Kan, aku udah minta maaf. Masih aja marah-marah,” tutur Shena memelas. “Ini, minum dulu susunya!”
Shena menyodorkan segelas susu putih bercampur kurma, sudah menjadi rutinitas pagi kedua pasangan itu mengonsumsi makanan dan minuman yang menyehatkan.
“Sepertinya, minum susu pagi-pagi enak deh, Sayang.”
“Iya, ini. Makanya minum cepetan, keburu dingin nanti. Ini masih hangat loh.”
“Susu yang itu maksudnya.” Elvino mengerlingkan matanya, menaik turunkan alisnya sebagai tanda goda.
“Dasar suami mesum! Kenapa akhir-akhir ini arah pembicaraanmu selalu ke sana terus sih, heran deh!” ucap Shena dengan nada manjanya.
Elvino tertawa lalu berkata, “Kamu tau kenapa? Ya, karena aku sudah merasakanmu seutuhnya, itu membuat pikiranku melayang dan selalu ingin terus mengulanginya. Yuk!”
__ADS_1
“Jangan macam-macam ya, masih pagi nih!” Shena menyilangkan tangannya di dada. Dia bahkan tak mengenakan penutup di dalamnya sehingga Elvino bisa bebas melihat sesuatu dibalik sana.
“Istriku, meja bar ini sepertinya akan menjadi salah satu pengalaman terindah kita. Ini pertama kalinya kita menginjakkan kaki di apartemen setelah menjadi pasangan seutuhnya. Aku rasa, kita harus mencobanya di sini. Sayang kan, kalau dianggurin.” Jari kekar Elvino perlahan mengelus lembut meja bar putih yang berbahan marmer itu, sesekali matanya melirik ke arah Shena penuh makna.
Dan pada akhirnya terjadilah peperangan yang entah ke berapa kalinya sejak mereka berbulan madu, seolah tak ada puasnya menikmati surga dunia itu. Padahal, rencananya siang ini mereka akan mendatangi rumah orang tua Shena dan Elvino. Namun, tragedi penyatuan sejak pagi masih berulang hingga sekarang. Tampaknya tak ada kata bosan untuk mereka menyatukan tubuh satu sama lain.
Saat ini, jam menunjukkan pukul satu siang, mereka masih bermandikan peluh. Secepatnya, Shena mencuri-curi pergerakan agar kepergiannya dari sofa bed tak diketahui oleh Elvino. Lelaki yang tengah ngefly tersebut pulas dengan tidurnya, jika sedikit saja dia menyadari Shena bangun, tentu saja hal itu akan dicegahnya dan melanjutkan aksinya lagi dan lagi.
“Untung aja dia nggk kebangun, bisa remuk tubuhku dihajar habis-habisan, heran tenaganya dari apa sih Elvino, nggak capek apa!” Shena menggerutu sambil memasuki kamar mandi.
Setelah mereka selesai membersihkan diri, keduanya langsung menaiki mobil menuju perumahan elite milik Bagaskara.
“Jangan menggelung rambutmu ke atas, Sayang, lepas ikatannya!” ucap Elvino sembari mengelus pucuk rambut Shena. Pandangannya masih fokus ke jalan.
“Gerah tau, rambut-rambutku kok, masa harus diatur juga sama suami.”
“Heh, nggak boleh gitu sama suami, ngomongnya yang lembut dong!”
“Iya maaf, habisnya kamu resek sih, masa segala gelungan rambut aja diatur, sih!”
“Ya sudah terserah kamu, tapi nanti jangan salahkan aku kalau ada yang menertawakanmu.”
“Memangnya apa yang salah dengan rambutku?”
“Nggak ada yang salah, Sayang.”
Beberapa menit kemudian, mobil sport merah milik Elvino berhenti di gerbang putih kediaman Bagaskara. Mobil itu memasuki halaman yang cukup luas. Sepasang suami istri itu kemudian menemui orang tuanya di dalam.
“Anak Mama!” Sandra menuruni tangga dengan tergesa-gesa seolah tak sabar ingin segera memeluk anak perempuan satu-satunya itu.
“Ma, nggak usah lari-larian begitu ah, kaya anak kecil aja.” Shena menggoda sang mama yang disambut senyuman bahagia oleh wanita paruh baya tersebut.
Sandra memeluk Shena erat dan menciumi pipi kanan dan kirinya. Betapa rindunya dia kepada sang anak sejak pesta pernikahan itu, dia sama sekali tak bertemu langsung dengan anaknya karena dibawa Elvino untuk bulan madu.
“Astaga!” seru Sandra dengan nada terkejut.
“Kenapa, Ma?”
”Ehm, nggak apa-apa, Sayang.” Melihat leher Shena yang penuh dengan bekas merah, Sandra sangat memahami. Dia juga wanita yang dulu pernah mengalami hal serupa saat pengantin baru.
Elvino sadar akan pandangan Sandra ke leher Shena, lelaki itu memilih untuk berpura-pura tak menyadari hal tersebut. Bola matanya sibuk berputar melihat sekeliling. Sebagai pelaku utama yang membuat gambaran merah di leher Shena, dia juga merasa sedikit malu akan hal itu.
“El, apa kabar??” tanya Sandra mengalihkan pandangannya ke Elvino.
“Baik, Ma. Papa belum pulang dari kantor, ya?"
"Belum, tapi Mama sudah bilang kalau kalian ke sini, mungkin sebentar lagi pulang. Kalian nginep di sini kan, malam ini?”
“Sepertinya belum bisa, Ma, karena Shena juga mau ke rumah Mama Emma nganterin bingkisan. Mungkin besok atau lusa Shena sama El nginep di sini.”
__ADS_1
“Yahh, padahal mama kangen banget sama kalian. Ya sudah, ayo ke ruang santai.” Elvino menenteng koper kecil berisi oleh-oleh dari Paris.
Sebuah tas bermerek dengan harga yang fantastis membuat Sandra terharu. Tas cantik berwarna biru menjadi salah satu pilihan Shena untuk sang mama. “Ini, bagus banget. Makasih, Sayang. Kalian benar-bena anak yang sayang orang tua. Semoga pernikahan kalian diberkahi dan langgeng ya, sayang.”
Sandra terus memerhatikan tas bermerek Ermesh tersebut. Shena dan Elvino yang duduk di karpet pun ikut bahagia melihat respons Sandra.
Tak lama kemudian, Bagaskara pun sampai rumah. Dia langsung menuju ruang santai—ruang ternyaman yang didesain khusus untuk berkumpul dengan keluarga tercinta.
Anak dan menantu itu dengan sigap menyambut Bagaskara dan menyalaminya. Lelaki itu kemudian meletakkan tasnya di meja sudut ruang dan ikut membaur bersama mereka.
“Pa, ini buat papa. Semoga suka, ya.” Shena memberikan kotak hitam yang berisi jam tangan bermerek, harganya juga tak kalah dengan tas tersebut, bernilai ratusan juta.
“Bagus, terima kasih. Tapi, lain kali jangan membelikan barang semahal ini, ya. Simpan uang kalian buat investasi atau tabungan di masa tua.”
“Pa, nggak usah bilang begitu. Doakan saja anak-anak yang terbaik. Diberi hadiah bukannya seneng malah ngomel , sih!”
“Ma, Papa tuh cuma sedikit kasih nasihat buat mereka biar nggak boros. Apa itu salah?”
Elvino dan Shena hanya saling melempar pandangan. Sedetik kemudian, Shena langsung melerai perdebatan mereka yang mungkin tidak akan ada habisnya jika tidak ada yang mau mengalah.
Puas temu kangen dengan Bagaskara dan Sandra, mereka memutuskan untuk pergi ke rumah orang tua Elvino. Bagaimanapun, Shena dan Elvino berusaha adil memerlakukan orang tuanya. Menyatukan dua keluarga memang tidaklah mudah, beruntung mereka berada dalam keluarga yang sangat merestui pernikahan anaknya sehingga mempermudah melakukan sesuatu.
Mobil melaju dengan kecepatan sedang, sambil menikmati pemandangan kota malam yang begitu mereka rindukan setelah kurang lebih sebulan mereka tak menghabiskan waktu untuk mengelilingi kota pad malam hari.
“Sayang, baru sebentar aja kita pergi ke luar negeri, ternyata kangen juga, ya, sama kota kelahiran.”
“Tentu saja, kota ini memang memiliki banyak cerita. Ya, meskipun aku tak dilahirkan di kota ini.”
“Memangnya kamu lahir di mana, Sayang?”
“Ya ampun, istriku ternyata nggak tau asal usul suaminya.”
“Ya, kamu nggak pernah cerita, mana aku tau!” Shena mengerucutkan bibirnya seolah Elvino menyudutkan dirinya.
‘Bercanda , Sayang. Aku lahir di Australia, terus pulang ke sini, waktu kuliah, aku berangkat lagi ke sana. Perasaan, waktu itu aku sepat cerita ke Papa Bagas tentangku, apa kamu melupakannya? Coba ingat-ingat saat kamu menyuruhku datang menemui Papa Mama sebagai pacar sewaan.” Elvino menahan tawanya mengingat tingkah Shena pada saat itu.
“Cukup ah, jangan lanjutkan lagi. Itu hal yang sangat memalukan!”
Beberapa menit kemudian, mereka sampailah ke rumah John dan Emma. Mereka juga memberikan hadiah yang sama, hanya saja berbeda merek dan tipe.
Obrolan empat orang di teras belakang pun terdengar semakin seru, seraya merendam kaki di kolam renang. Malam semakin larut, Shena dan Elvino memutuskan untuk pulang ke apartemen karena esok mereka juga harus mendatangi bengkel dan butik untuk memberikan hadiah kepada para karyawannya. Keduanya merasa berhutang budi kepada para karyawan karena mereka sudah bekerja keras mengurus usahanya selama bosnya sibuk mengurus pesta pernikahan dan berlanjut bulan madu.
__ADS_1