Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Temui Aku, Shen!


__ADS_3

Elvino pun memutuskan untuk pergi menemui Shena di rumahnya untuk terakhir kalinya. Apa pun yang terjadi dia akan berjuang untuk bertemu dengan wanita itu, surat undangan yang Shena beri hari itu membuat hatinya masih belum menerima bila Shena akan menikah dengan laki-laki lain.


Mobil pun sampai di depan gerbang rumah Shena, dia turun dari mobilnya dan meminta untuk security membukakan gerbang. Akan tetapi, dirinya tidak mendapatkan izin dari penjaga yang bertugas menjaga keamanan di rumah Shena.


"Pak, ayolah! Saya tahu, Shena ada di dalam, saya mau berbicara sama dia sebentar aja, ini sangat penting!" ucap Elvino yang mengemis.


"Maaf, Pak Elvino. Saya tidak bisa mengijinkan Anda untuk bertemu dengan Nona Shena!" Security yang bernama Joko itu memberitahu kepada Elvino secara halus.


"Sebentar aja, Pak! Lima menit, kasih saya waktu lima menit untuk bicara pada Shena!" Elvino mencoba masuk membuka gerbang tapi selalu mendapat halangan dari security tersebut.


"Nggak bisa, Pak! Nanti saya yang di omelin!" Joko terus mencegah Elvino yang memaksa masuk ke dalam.


"Tiga menit! Satu menit! Saya janji, hanya satu menit!" Paksa Elvino yang mendorong tubuh Joko agar bisa masuk ke dalam.


"Tidak bisa, Pak!" Joko pun terpaksa meninggikan suaranya kepada Elvino agar tidak mempersulit tugasnya menjalankan amanah dari ayahnya Shena.


"Shen! Ini aku, Shen! Aku tahu kamu di dalam, please kasih aku kesempatan untuk bicara sama kamu, Shen!" teriak Elvino yang menaiki pagar rumah Shena, sehingga terjadinya keributan antara Elvino dan Joko.


Keributan itu berhasil memancing sang pemilik rumah—Bagaskara keluar dan melihat keributan yang terjadi di luar rumahnya.


"Ada apa ini? Malam-malam ribut! Tidak tahu etika, tidak tahu sopan santun sama sekali di rumah orang!" ucap Bagaskara dengan tajam.


Joko melepaskan tangan Elvino yang ingin menaiki pagar rumah, kemudian mundur secara perlahan untuk memberitahu bahwa Elvino mencoba memaksa masuk ke dalam rumah meski sudah dilarang.


"Mau apa kamu datang ke sini? Mau menyakiti anak saya lagi?" ucapan Bagaskara begitu sangar di telinga Elvino, dia tahu bahwa dia telah membuat kesalahan fatal terhadap anak perempuannya.


"Saya ke sini untuk bertemu dengan Shena," ujar Elvino dengan jujur yang menatap kedua mata Bagaskara.

__ADS_1


"Mau bertemu dengan anak saya? Ck! Buat apa bertemu dengan anak saya? Mau menyakiti anak saya lagi? Tidak bisa! Lebih baik, kamu pergi dan jangan pernah datang atau menemui anak saya lagi! Karena dia, akan segera menikah! Jadi, lebih baik, kamu menjauhinya!" usir Bagaskara dengan kejam.


Tidak terima bila dia pergi begitu saja, Elvino pun mencoba untuk memohon kepada Bagaskara. "Om, saya minta maaf dan mohon izinkan saya bertemu dengan Shena, sekali saja! Saya janji hanya sebentar!"


"Jangan harap saya memaafkan kamu atas apa yang sudah kamu lakukan pada anak saya!" ucap Bagaskara yang tanpa membalikkan badannya untuk melihat ke arah Elvino sembari mengepalkan tangan.


"Om! Kasih kesempatan saya untuk bertemu Shena, Om. Saya mohon!" teriak Elvino ketika pagar di kunci rapat-rapat oleh Joko atas perintah Bagaskara.


Elvino mencengkeram kuat-kuat besi yang menghalanginya masuk ke dalam, lalu dia gebrakan begitu saja untuk melampiaskan rasa amarahnya yang meletup-letup.


Elvino memutuskan untuk masuk kembali ke dalam mobil dan menunggu suasana sepi. Dia berharap Shena akan muncul dan melihatnya dari kamar wanita itu.


Di kamar yang cukup luas dengan hiasan pernak pernik berwarna biru, terlihat Shena tengah menangis tanpa suara. Lantai kamar tersebut penuh dengan lembaran tisu bekas dirinya mengelap ingus.


"Kenapa hidupku harus berakhir seperti ini, ya Tuhan? A-aku nggak mau nikah sama Lucky. Aku nggak cinta sama dia dan lagi pikiranku dipenuhi sama Elvino. Bantu aku Tuhan, aku mau lupain dia. Dia istri o-orang. Huwaaa!" Tangis Shena semakin menjadi-jadi mengingat kebersamaannya dengan Elvino yang notabene suami orang.


Kondisi Shena saat ini sangatlah memprihatinkan. Hidung merah, muka sembab dan mata yang terlihat bengkak seperti tersengat lebah, akibat menangis semalam suntuk meratapi nasibnya. Lingkaran di sekeliling mata tercetak jelas di wajahnya semakin menambah suramnya beberapa malam yang ia lewati tanpa terlelap.


"Ya ampun anakku. Mama jadi sedih lihat kondisi kamu yang seperti ini." Sandra menghampiri sang putri semata wayangnya kemudian memeluknya. Hal itu membuat Shena semakin terisak menumpahkan segala kesedihannya di pelukan Sandra. Sandra hanya bisa mengelus pelan menenangkan Shena.


"Shen, di luar ada Elvino ingin bertemu. Sepertinya ingin menyampaikan sesuatu. Maukah kamu menemuinya?" tanya Sandra dengan hati-hati. 


Shena terlonjak menatap iris mata Sandra memastikan bahwa mamanya tidak sedang berbohong. Namun, setelah itu Shena menggeleng. Dia merasa tidak akan sanggup berkata-kata lagi. Semuanya sudah berantakan. Berbicara dengannya pun tidak akan mengubah situasi.


"Baiklah, Mama hanya mau bilang kesempatan tidak selalu datang dua kali. Shena, jika kamu memang tidak menginginkan pernikahan ini, pergilah. Tidak usah pedulikan Papamu. Kamu berhak memiliki kebahagiaanmu sendiri, Shen." Sandra menghela napas beratnya. "Hem, pikirkan baik-baik saran Mama, Nak. Mama mau ke dapur dulu ambil makanan buatmu." 


Shena mengangguk mengerti. Saat ini, batinnya berkecamuk memikirkan Elvino  dan juga pernikahannya yang tinggal menghitung jam. Shena beringsut turun dari ranjangnya lantas bergerak ke arah balkon memastikan sosok yang tadi mamanya bicarakan.

__ADS_1


Bulir bening kembali menetes, membasahi pipinya ketika melihat seorang yang sangat ia rindukan tengah berdiri mondar-mandir di depan pintu utama. Tubuhnya meluruh ke lantai menatap Elvino yang sangat ia cintai. Ia ingin memandang wajah pria tersebut lebih lama dan merekamnya dalam otak, sebelum statusnya berubah dan tak bisa bertemu dengan Elvino lagi. 


Hati rasa ingin menemui Elvino, tapi otak menolak dengan keras. Terlebih, mengingat Elvino yang statusnya adalah suami orang. Ia takut semakin terjatuh dalam pesona Elvino dan tak bisa lepas darinya. Ia sadar bahwa cintanya adalah salah. 


"Shena, makanlah." Sandra memasuki kamar Shena sembari membawa nampan berisikan nasi goreng dan teh manis untuknya. Sandra meletakkannya di atas meja depan sofa kamar Shena.


Shena membalikkan badannya bersamaan dengan Elvino yang mendongak ke atas balkon.


"Shena!" teriak Elvino.


Seketika tubuh Shena membeku di tempat. Jantungnya seolah berhenti mendengar suara Elvino memanggil namanya. Namun, Shena berusaha acuh dan menghampiri sang mama.


"Temuilah, Shen. Mama tahu kamu tersiksa begini," saran Sandra.


"Enggak, Ma. Biarkan saja. Nanti juga pergi sendiri." Lisannya mengeluarkan kata-kata yang bertolak belakang dengan batinnya.


"Hem, baiklah."


"Tolong biarkan Shena sendiri dulu, Ma," pinta Shena dengan wajah memelas.


Sandra mengangguk sambil mengusap bahu Shena dengan sayang, lantas keluar dari kamar anaknya.


Bersambung ...


Jangan lupa tinggalkan jejak yaa, biar author makin semangat update nya hehe


love you guys 😘

__ADS_1


__ADS_2