Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Perhatian Elvino


__ADS_3

"Loh, Mama kok pergi? Ma, tunggu!" Bagaskara tambah bingung dengan sikap kedua wanita yang paling berharga di hatinya.


"Tau, akh! Masa begitu aja Papa tidak tahu!" kesal Sandra yang menangkis tangan suaminya.


***


Malam hari, ruangan pada kamar pengantin baru terasa hambar. Tanpa adanya sang istri tercinta yang bisa menghangatkan udara dingin malam itu. Hanya bantal guling yang dia peluk dengan erat sebagai pengganti Shena untuk melepas rasa rindunya walaupun belum ada sehari. Akan tetapi, dirinya sudah merasakan rindu yang teramat dalam.


"Shena ... kamu buat aku gila tanpa adanya kamu! Baru juga semalam, berapa malam lagi aku harus melewatinya sendirian! Apakah aku kuat tidur tanpa adanya kamu, Sayang?" Elvino yang uring-uringan di atas tempat tidur, dia langsung duduk dan mengusap kasar wajahnya dengan kesal.


Elvino pun memutuskan untuk mengambil ponsel, dia melihat jam menunjukan pukul sepuluh malam. Akan tetapi, wanita yang sudah resmi menjadi istrinya itu malah tidak mengabarinya semenjak siang tadi.


Ya, Elvino memang belum sempat menemui Shena di butik saat jam makan siang, karena pengunjung yang datang ke bengkelnya mengalami kelonjakan yang meningkat, sehingga dia hanya memesankan makan siang lewat online dan hanya melampiaskan rasa rindu lewat panggilan video call. Namun, sampai detik ini juga Shena belum juga memberi kabar.


Baru saja Elvino ingin menghubungi sang istri, tapi orang tuanya sudah lebih dulu meneleponnya. Mau tidak mau Elvino mengangkat panggilan dari sang mama.


"Ya ampun, Elvino ... kenapa pesan Mama tidak di balas? Kenapa kamu nggak kabarin Mama? Kamu di mana sekarang? Kenapa nggak pulang ke rumah? Jangan bikin Mama khawatir bisa, nggak?" ucap Emma dengan begitu banyak pertanyaan yang beruntun. Namun, Elvino hanya bergeming seraya mengorek kupingnya yang tercengang akibat suara mamanya.


"El! Kamu dengerin Mama tidak sih? Di tanya malah diam aja!" bentak wanita paru baya tersebut.


"Iya, Ma ... iya! Elvino denger kok, nggak usah teriak-teriak segala. Lagian udah malem, Ma! Kenapa nggak besok sih, tanya-tanyanya?" sahut Elvino dengan kesal.


"Ya ampun, nih anak! Mama tuh udah berapa kali hubungin kamu! Tapi kamu malah mengabaikan pesan dan telepon Mama! Sekarang, kamu di mana? Cepat pulang!" ucapan sang mama meletup-letup menahan kesal pada sikap anaknya.


"Elvino nggak bisa pulang sekarang, Ma! El malas kembali lagi ke rumah itu.” 


“Malas? Kenapa? Itu rumah hasil dari kerja meras kamu, El. Pulanglah, jangan terus-terusan tidur di bengkel. Kaya orang nggak punya rumah aja! Lagian, Mama juga sudah buang semua barang-barang wanita murahan itu ke tempatnya!”

__ADS_1


“Maksud Mama?” 


“Mama udah suruh orang buat ngangkutin barang-barang wanita itu ke rumahnya. Jadi, kamu nggak perlu risau lagi. Rumah udah bersih dari sampah!” 


“Ma, rumah itu …  Elvino mau menjualnya. El juga beli apartemen baru, jadi Mama nggak usah cemas! Nanti pasti Elvino pulang, kok. Sekalian bawa kejutan buat Mama," ucap Elvino yang cengengesan saat berbicara di telepon genggamnya.


"Kejutan apa maksud kamu, hah? Jangan macem-macem, Mama nggak suka aneh-aneh, bilang sama Mama di mana apartemen kamu!" bentak Emma.


"Astaga, Mama suuzon aja sama anak sendiri! Sudah ah, El ngantuk! Nanti juga Mama tahu sendiri pas Elvino pulang." Elvino langsung mematikan sambungan teleponnya dan bergegas untuk tidur. Dia lupa bila rencana awalnya ingin menelepon Shena. Namun, mendengar ocehan mamanya membuat dia merasakan ngantuk tak tertahan. Memang ucehan marah Sandra menjadi jimat bagi sebagian kalangan sang anak untuk tidur lebih cepat, begitu ampuh bagaikan dongengan sebelum tidur.


Pagi harinya, Shena yang selesai sarapan berpamitan pada ke dua orang tuanya untuk pergi ke butik. Namun, belum sempat dia menghabiskan susu yang ada di tanganya, Elvino sudah datang lebih dulu untuk menjemputnya.


"Pagi, Ma ... Pa," salam Elvino kepada kedua orang tua Shena yang hanya mendapat sahutan dari ibu mertuanya saja.


Shena pun yang melihat kedatangan suaminya justru merasa terharu, bagaimana tidak? Elvino jauh-jauh dari apartemen yang dekat dengan butiknya rela menjemput dia.


"Sudah siap? Langsung berangkat?" tawar Elvino yang menggandeng tangan Shena.


"Hati-hati di jalan!" ucap Sandra yang ikut senang melihat keromantisan mereka.


Sementara di dalam mobil, kedua sejoli yang tengah asik mendengarkan lagu romantis saling curi pandang, meski Shena masih menunjukan sikap juteknya. Namun, Elvino yakin, lambat laun bisa meluluhkan hati istri tercintanya tersebut.


Sesekali Shena berdeham untuk menetralkan rasa canggungnya ketika Elvino terus mencoba meraih tangannya. Begitu tangannya berhasil digengam oleh Elvino, debaran jantungnya semakin kencang, pipinya kembali merah merona tetapi Shena langsung tersadar dari rasa nyaman yang di berikan oleh Elvino.


Shena menarik tangannya agar Elvino mau melepaskan genggaman tangan itu, tetapi justru tanganya semakin erat di genggam oleh Elvino, sampai dia pun terkejut saat pria yang kini sah menjadi suaminya mencium punggung tangannya.


"El, lepasin nggak?" bentak kecil Shena yang menatap mata Elvino dengan sorot mata yang tajam.

__ADS_1


"Kenapa? Aku kan suami kamu, masa nggak boleh?" ujar Elvino yang membalas menatap mata Shena dengan lembut.


"Bukan nggak boleh! Kamu itu kan lagi nyetir, gimana sih?" Shena mencubit pinggang Elvino dengan tangan satunya sampai pria itu mengeluh kesakitan seraya tertawa.


"Aauw! Kamu kenapa sih? Galak banget jadi istri? Tenang aja ... aku tetap fokus nyetir kok! Jadi tambah manis kan, kalau kamu marah-marah gitu." Elvino terpaksa melepaskan genggamannya lalu mencolek dagu istrinya.


"Iissh, nggak usah colek-colek!" Shena mulai merajuk.


"Tuh, kan ... apalagi kalau ngambek gitu, makin cantik aja." Elvino tertawa melihat sikap Shena, rasanya ingin sekali dia cepat-cepat bisa memiliki wanita itu seutuhnya.


"Elvino!" bentak Shena dengan gemas.


"Iya, iya, iya, Cantik!" sahut Elvino yang masih terkekeh melihat istrinya cantik-cantik galak.


Mobil pun melaju menuju butik Shena, begitu sampai di halaman depan butik, Shena yang hendak membukan pintu setelah mengucapkan terima kasih langsung di tahan oleh Elvino. Hingga Shena terkejut dan menatap mata Elvino dengan heran.


"Ini nggak gratis Tuan Putri," ucap Elvino yang tersenyum nakal seraya menunjukan pipinya dengan jari telunjuk.


"El ...." 


Elvino dengan cepat mencium pipi Shena sebelum wanita itu pergi. Namun, saat Shena berusaha menghindar. Bibir mereka justru tak sengaja bersentuhan. Elvino pun langsung mengambil alih lebih dulu sebelum Shena kabur atas permintaannya, bibirnya mengecup lembut bibir Shena sedangkan tangannya menahan tengkuk leher sang istri agar semakin dalam tautan itu berlangsung.


Tangan Shena yang awalnya mendorong dada bidang Elvino, kini di cengram kuat oleh tangan Elvino satu lagi, hingga suaminya itu bisa semakin leluasa mendapatkan morning kiss dari Shena—vitamin penyemangat sebleum dia bekerja.


"Semangat berkarir, istriku. Jangan terlalu capek ya! Nanti sore, aku jemput." Elvino mengelap bibir Shena yang basah akibat ulahnya. Dia menggesekkan hidung Shena dengan hidungnya seraya tertawa karena gemas dengan sang istri yang masih tersengal mengambil napas.


Pada saat itu juga, Shena mendorong tubuh Elvino hingga menjauh lantas cepat-cepat dia keluar demi keselamatan jantungnya yang berdegup sangat kencang.

__ADS_1


Bersambung...


Maafkan author yang baru upload dan kemarin libur. Author sibuk bgt dan dr pagi signal timbul ilang kaya perasaannya eyaaaak. Semangat aktivitasnya ya gaes. Jaga kesehatan selalu. ❤️


__ADS_2