
Mobil sport berwarna merah terhenti di halaman rumah Elvino. Begitu memasuki rumahnya, dia langsung mencari keberadaan Celia. Namun, saat sampai kamar, lelaki itu tidak mendapati istrinya. Berulang kali memanggil dan memastikannya di kamar mandi, tetapi nihil. Dia bertanya-tanya ke mana istrinya pergi malam-malam seperti ini. Saat dirinya sudah mengagumi perubahan Celia, malam ini malah dibuat bingung lagi dengan ulahnya. Elvino berpikir Celia pergi ke klub malam lagi seperti malam-malam sebelumnya. Akan tetapi, pikiran buruk itu segera ditepisnya, dia lalu mengeluarkan ponsel dari tas kecilnya, ternyata banyak pesan dari Celia dan beberapa panggilan tak terjawab. Di pun membuka pesan tersebut.
“Sayang, aku menginap di rumah Mona, dia sedang ada masalah dengan suaminya, setidaknya aku bisa menghiburnya.” Isi pesan tersebut dikirim oleh Celia satu jam yang lalu.
Elvino belum yakin, sehingga dia memastikan pikirannya tidak akan salah karena merasa ada kebohongan lagi yang Celia lakukan.
Elvino mulai menekan kontak yang tertulis dengan nama Celia. Panggilan video itu langsung dijawab oleh Celia. Benar saja, wanita itu ternyata memang bersama dengan seorang wanita di sampingnya. Elvino pun bernapas lega, dia pun segera meletak ponsel itu di nakas dan segera menuju kamar mandi untuk menjalan ritualnya mandinya.
Beberapa saat kemudian, dia keluar dengan handuk putih yang melilit di pinggangnya, rambut dan tubuhnya basah, meneteskan sisa-sisa air ke lantai kamarnya. Elvino lalu duduk di tepi ranjang, pikirannya kembali mengarah pada Shena. Wanita itu selalu muncul di pelupuk mata saat dirinya sedang kesepian. Entah apa yang membuat Elvino begitu dalam merasakan gejolak uang dinamakan cinta. padahal, dia cukup tahu diri rasa itu tak seharusnya ada.
Sementara itu, di sisi lain di kediaman Bagaskara, Shena membuka pintu dengan kunci yang dipegangnya, tubuhnya yang basah kuyup menarik perhatian Sandra yang baru saja keluar dari dapur.
“Astaga, Shena! Kok bisa basah kuyup gitu sih, dari mana?” tanya sang mama dengan raut cemas di wajahnya.
“Ma,” sahut Shena seraya memeluk erat Sandra dan enggan meneruskan kalimatnya. Meski bajunya basah, Sandra tidak peduli akan hal itu. Dia lebih mengkhawatirkan anaknya yang pulang dengan keadaan menyedihkan, matanya yang sembab cukup membuat Sandra bertanya-tanya.
“Sayang, ada apa? Cerita sama Mama, apa ada yang jahat sama kamu?” tanya Sandra mengelus lembut pipi anaknya.
__ADS_1
Namun, Shena masih terdiam, dia begitu berat menyampaikan sesuatu kepada mamanya.
“Sebaiknya kamu mandi dulu, Sayang. Nanti setelah ganti baju, Mama ke kamar kamu, kita ngobrol, ya.” Sandra pun mengajak Shena naik agar segera membersihkan dirinya.
Hampir satu jam sudah Shena berada di dalam kamar mandi, dia mengguyur tubuhnya di bawah shower , berharap rasa sedih juga sesak itu ikut luruh bersama dengan mengalirnya air dari tubuhnya. Namun, sial hal itu sama sekali tak berpengaruh.
Ketukan pintu terdengar dari luar kamar mandi, Sandra tampak khawatir karena Shena tak kunjung keluar. Shena yang mendengarnya pun segera bergegas menyelesaikan mandinya.
Keduanya kini tengah duduk di ranjang, Shena terbujuk untuk mengungkapkan semuanya, biasanya dia hanya mencurahkan isi hatinya dengan Melva, tetapi jika hal ini sudah berhubungan dengan orang tuanya, maka mau tidak mau Shena harus menceritakannya.
“Ma, Shena sama Elvino sudah berakhir,” ucap Shena menunduk. Meski semuanya hanya sandiwara, tetapi rasa itu murni—memang harus berakhir.
“Karena kita sudah nggak cocok. Shena nggak bisa bercerita lebih, Ma. Yang jelas, Shena sekarang lega Mam sudah mengetahui hubungan Shena dengan Elvino sudah berakhir. Jadi, Papa sama Mama jangan mencari dia lagi,” tutur Shena, matanya kini tampak mengembun. Dia menyembunyikan status Elvino pada orang tuanya, mungkin jika mereka tahu akan hal itu, sudah dipastikan Bagaskara tidak akan terima dan merasa anaknya telah ditipu.
“Ya sudah, Mama nggak mau paksa kamu buat cerita. Tapi, bagaimana nanti jika Papa tahu, Sayang? Papa pasti akan mengambil keputusan sepihak, suka atau nggak suka, kamu pasti akan dipaksa menurutinya. Maafkan Mama jika tidak bisa membantumu dalam hal ini.”
“Nggak apa-apa, Ma. Mungkin memang seharusnya Shena menuruti apa pun permintaan Papa, agar Papa bahagia.” Shena mulai memasrahkan nasib masa depannya pada sang papa. Mengingat, dia tidak tahu lagi harus berbuat apa. Dia sudah capek mendrama dan harus bersandiwara di depan orang tuanya walau dia bisa memiliki pengganti Elvino sekalipun harus membayar acar sewaan lainnya.
__ADS_1
Shena pun akhirnya merebahkan tubuhnya di ranjang setelah mamanya keluar dari kamar. Dia meringkuk, memandangi foto Elvino di layar ponselnya—foto yang sering diambilnya diam-diam. Dia terlalu berat untuk membayangkan perpisahannya dengan Elvino. Wajah lelaki itu terus terngiang di kepala. Besok, setelah harinya tidak lagi mendengar suara Elvino dan melihat senyumannya, mungkin akan lebih mudah melupakan. Semua hanya butuh waktu untuk meleburkan semua asa.
Sandra masuk ke dalam kamar, dia melihat sang suami masih bergelut dengan laptopnya, walaupun sudah seharian bekerja di kantor. Akan tetapi, lelaki yang bersandang sebagai suami Sandra itu, seorang pekerja keras.
Perlahan Sandra mendekati sang suami dengan wajah datarnya, entah dimulai dari mana dia harus memberitahu kepada Baskara bahwa anak semata wayang mereka, baru saja putus dengan kekasihnya.
Bagaskara menutup laptopnya, kemudian dia memandang istrinya seraya berkata, “Ada apa? Ada masalah apa lagi sama Shena?”
Seolah lelaki paru baya itu mempunyai mata batin yang bisa menebak pikiran Sandra dari melihat wajahnya saja, Sandra pun menghela napasnya dengan pelan agar bisa menjelaskan pada suaminya sehalus mungkin.
“Shena, baru saja putus dari Elvino,” ucap Sandra sembari bersandar di bahu pria yang sudah menemaninya bertahun-tahun, agar sang suami tidak terlalu marah mendengar ucapannya.
Bagaskara pun menegakkan tubuhnya dan melihat jelas ke arah Sandra untuk memastikan ucapannya, dia pun menanyakan kembali ucapan Sandra. Namun, apa yang dilontarkan dari mulut istrinya membuat Baskara emosi, dia tidak terima bila sang anak dicampakkan begitu saja oleh Elvino.
Rasa kecewa dan emosi Baskara tidak bisa dipungkiri, bagaimana bisa Elvino menghancurkan harapan dan kepercayaannya saat dia sudah merestui hubungan mereka. Apalagi Bagaskara diam-diam sudah menyiapkan pesta pernikahan untuk anaknya, dia sudah mengurus semua keperluan untuk acara pernikahan Shena dan Elvino karena bertujuan untuk memberi kejutan.
“Kenapa Shena bisa putus dengan Elvino? Apakah Shena yang berbuat salah atau Elvino yang sudah berselingkuh di belakang Shena?” tanya Bagaskara yang memberikan tatapan tajam pada Sandra.
__ADS_1
Sandra pun dengan jujur menceritakan yang sebenarnya dengan sang suami, bahwa Shena belum menceritakan masalah yang membuat hubungan mereka putus.
Bersambung....