
Dua hari lalu, aku sama Melva berusaha mencari tahu tentang semuanya di kafe. Jujur aku juga capek lihat kalian berantem terus, Bos. Mana semuanya suka bnget nyiksa diri masing-masing. Jadi ya, kita berusaha cari bukti.” Samuel mencoba menjelaskan dengan perasaan sedikit lega.
Elvino masih terdiam dan berusaha mendengarkan yang Samuel sampaikan lalu mulai fokus melihat apa video terjadi di kafe pada saat itu.
“Kenapa baru kasih sekarang, hah? Kenapa kamu nggak kasih langsung setelah kamu mendapatkan bukti ini?” teriak Elvino tampak emosi setelah dia melihat isi rekaman CCTV di ponselnya.
“Dua hari kamu di apartemen dirawat Shena, mana mungkin aku mengganggu istirahat kamu yang lagi sakit? Nomor kamu juga nggak aktif. Kamu belum cek HP kamu, kan? Aku sudah mengirimnya ke kamu kemarin.”
Elvino terdiam dan terus mendengarkan ucapan Samuel.
“Dan satu lagi, Melva cerita sama aku kalau sebenarnya Roger adalah mantan tunangan Shena yang pernah menyakitinya. Mereka pisah karena Shena sering menerima kekerasan fisik dari Roger, lelaki itu sampai sekarang masih tergila-gila sama istri kamu karena sebenanrnya dia juga masih cinta. Terlihat dari cara dia over protektif dan juga masih ingin memiliki wanitamu. Jadi, sebaiknya saranku, jaga Shena baik-baik.”
“Aaargh! Bodoh, sialan!” umpat Elvino pada dirinya sendiri. Kedua tangannya menjambak rambutnya dan segera mengambil kunci mobil, dia gegas mengendarai mobilnya dengan jecepatan tinggi menuju butik untuk mencari sang istri.
“Shen, ke mana kamu? Please maafin aku, aku memang bodoh. Kembalilah, Sayang!” Elvino menangis sambil menyetir.
Lelaki itu datang ke butik cari shena. Tapi shena tidak ada. Melva bilang, sejak pulang ke apartemen dia belum ke butik sama sekali. Elvino lantas membanting setirnya menuju ke apartemen, dia berpikir bisa mencari tahu di mana keberadaan Shena lewat petunjuk.
Dia memeriksa beberapa lemari pakaian, tetapi dia tidak memperhatikan dan tidak tahu apa saja dan berapa baju yang dibawa Shena pergi. Koper yang tersimpan di lemari juga sudah tidak ada, menandakan bahwa Shena pergi dan entah ke mana.
Dia memutuskan untuk melihat CCTV dan mengamati setiap gerak gerik Shena di layar laptop tersebut. Tanpa sengaja, Elvino malah membuka rekaman di tanggal di mana Shena pertama kali membawa Elvino ke apartemen, dia terus melihat Shena merawatnya dengan tulus di saat dirinya sakit.
Sangat jelas raut kekhawatiran Shena saat Elvino tertidur dengan demam tinggi, wanita itu menangis dan memeluknya. Betapa besar rasa bersalah Elvino saat ini.
__ADS_1
“Aku sudah sangat jahat, aku sudah keterlaluan. Maafkan aku, Sayang.” Sudut matanya tak berhenti mengeluarkan air mata.
"Akkhh, shiit! Bodoh sekali kamu, El!" Elvino menjambak rambutnya sendiri saat dia menyadari kebodohannya.
Rasa trauma yang Elvino miliki mengantarkan pada kehancuran pada rumah tangga yang baru saja dia bangun, penyesalan pun tidak ada gunanya atas apa yang sudah dia lakukan.
"Maafkan aku, Shen! Maafkan aku, aaakkkh ...." Elvino memukul dinding yang tidak bersalah, bahkan dia menyakiti dirinya sendiri dengan menampar dan memukul wajahnya.
Setelah puas telah menghukum dirinya sendiri, meski itu belumlah cukup. Elvino mulai mengatur nafas agar mulai stabil kembali. Berusaha untuk berpikir jernih agar bisa menemukan istrinya yang sudah pergi.
Elvino terus mencari sesuatu yang memungkinkan dia menemukan petunjuk di mana sang istri berada, mulai dari tempat biasa yang sering dikunjungi, menanyakan pada teman-teman Shena bahkan sampai kolega yang menjadi tempat di mana istrinya bekerja sama.
Selama seharian suntuk Elvino terus mencari keberadaan Shena meski hasilnya tetap saja nihil, dia terus menghubungi Melva memaksa wanita itu untuk berkata jujur di mana keberadaan sang istri berada.
Sampai Elvino menyuruh Samuel untuk menghandle semua pekerjaan yang ada di bengkel, dia menyingkirkan hal-hal yang begitu penting demi menemukan istrinya kembali.
Kali ini, Elvino tidak akan melepaskan Shena dan tidak akan mengulang kegagalan dalam rumah tangganya. Sesulit apapun itu dia sudah bertekad akan menemukan istri tercinta.
"Shen, please... di mana kamu sayang! Maafin aku, Shen!" Elvino berbicara pada dirinya sendiri sembari mencari di setiap jalanan saat langit sudah gelap dan disertai hujan petir.
Sampai jam menunjukan pukul sebelas malam, Elvino akhirnya memutuskan untuk pulang ke apartemen, berharap jika istrinya sudah berada di sana.
Namun, harapan tinggallah harapan. Semua sudah pupus ketika kedua bola mata Elvino tidak mendapati sosok yang dia inginkan berada di dalam apartemennya.
__ADS_1
Langkah kaki yang begitu lemas serta raut wajah yang kusut bagaikan benang semrawut, saat berjalan menelusuri ruangan di apartemen membuat Elvino tampak menyedihkan.
Elvino mendaratkan bokongnya di atas sofa saat dia membuang nafas dengan kasar, perlahan tubuh itu merangsut di atas sofa panjang. Air matanya mulai menetes saat lengan kekar itu menutupi kedua kelopak mata.
Arrus mimpi mulai menyambut sang tuan dalam keadaan hati yang tidak menentu, pikiran yang berkelana serta batin yang merasa bersalah. Elvino terbawa mimpi di mana dia bisa bertemu dengan seorang yang dia cari seharian ini.
"Shena... Itukah kamu?" Tanya elvino mendekat ke arah seorang wanita yang tengah menyiapkan makanan untuknya.
"Hai, Sayang ... kau sudah bangun? Makan dulu, aku sudah masak kesukaan kamu begitu banyak!" ucap Shena yang berada di mimpi Elvino.
Elvino tidak menanggapi ucapan Shena, air matanya menetes, perasaannya begitu senang saat mengetahui Sena sudah berada di depan matanya. Pria yang sudah kalang kabut mencari sang istri langsung memeluk dengan erat sembari menangis.
"Shen, maafkan aku! Maafkan aku, aku janji mulai sekarang akan selalu percaya sama kamu, tapi tolong jangan pergi. Jangan khianati aku dan jangan tinggalkan aku!" pinta Elvino yang mengeratkan pelukan Shena.
Shena mengusap kepala Elvino dengan lembut, dia tidak menjawab ucapan pria itu dan hanya menariknya untuk ikut makan bersama.
Elvino pun menurut dan ikut makan dengan istri tercinta, dia begitu senang Shena berada di sampingnya tanpa bisa membedakan mana sedang mimpi dan mana yang nyata.
Dalam mimpi itu Elvino terlihat senang, dia terus menggenggam tangan Shena kemanapun dia pergi, tanpa dia sadari yang dia genggam adalah Celia.
"Celia?" Elvino nampak terkejut saat tangan yang dia genggam adalah tangan mantan istrinya yang sedang bergelayut manja. "Ngapain kamu? Lepas gak!"
"El, kok kamu gitu sih? Aku kan lagi hamil anak kamu! Kamu gak liat ini perut aku?" Celia memperlihatkan perut buncitnya yang berhasil membuat Elvino tertawa.
__ADS_1