Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Gelora Terindah


__ADS_3

Setelah acara resepsi pernikahan telah usai, kini kedua mempelai berada dalam satu kamar pengantin. Elvino yang baru saja keluar dari kamar mandi memperlihatkan bentuk tubuh sixpack-nya, membuat Shena yang duduk terdiam pun terhanyut dengan pemandangan di depan mata.


Rasa gugup terus menggerogoti dada Shena yang semakin berdesir hebat. Melihat pesona laki-laki yang kini perlahan mendekat ke arahnya, degup jantung kian tak menentu. Shena berusaha keras untuk menelan saliva, sungguh malam ini entah kenapa penampilan dia begitu grogi. Padahal, selama ini dia sudah biasa tidur dengan Elvino. Namun, malam ini benar-benar berbeda mengingat perjanjian awal antara dia dengan suaminya.


"Apa kamu begitu gugup?" tanya Elvino yang mulai mendekat dan dudjk di sebelah Shena. Akan tetapi, dia hanya mendapatkan senyuman dari wajah cantik yang masih berusaha mempertahankan rasa tenangnya. "Mau aku bantu buka?"


“Ma-maksudnya?”


“Kamu masih ingat, kan, kesepakatan kita? Apa perlu aku mengingatkannya, Sayang?” Elvino menahan senyuman hingga tampak bibirnya terlipat ke dalam.


“Ehmm, tidak perlu dibahas, aku ingat. Dan aku juga tau aku harus ….”


“Ssstt ….” Elvino menyentuh bibir Shena dengan tekunjuknya. “Apa kamu keberatan?”


Shena pun menggeleng pelan tanda ia menurut. Tidak ada drama bagi keduanya seperti sebelum-sebelumnya saat pernikahan siri mereka. Elvino telah sigap terlebih dahulu membantu Shena untuk membuka kancing belakang dengan perlahan.


Terlihat punggung dengan kulit putih mulus milik sang istri saat Elvino melihat dengan jelas di depan matanya. Kini dia memberikan sentuhan manis secara perlahan membuat sang empu memejamkan mata menikmati perlakuan yang dibuat olehnya.


"Aku kasih kamu waktu satu jam, setelah itu tidak ada waktu untukmu tidur nyenyak!" bisik Elvino di telinga Shena sembari terus memberikan sentuhan dari hidung mancungnya, tangan itu pun tak luput dari punggung Shena untuk terus mengelus sesuka hati.


Tanpa banyak bicara Shena tersenyum gugup dan melangkah menjauh meninggalkan Elvino sembari berdessah karena bokongnya mendapatkan remasan gemas dari tangan nakal, tentu saja dia melihat ke arah sang suami yang ternyata memberikan kedipan mata untuknya.


"Iiih," keluh Shena dengan raut manja.


Elvino terkekeh sendiri menatap kepergian Shena yang menghilang dari balik pintu kamar mandi, lantas berusaha untuk menetralkan rasa gugupnya, karena tidak mau jika malam ini, malam yang sudah ditunggu-tunggu olehnya berantakan begitu saja.

__ADS_1


"Oke, El! Malam ini siap untuk berbuka puasa, hhuf! Rileks ...." Elvino mencoba menenangkan rasa tegangnya agar tidak terlihat kaku di mata Shena.


Sembari menunggu sang istri selesai dari kamar mandi, dia pun duduk pinggir tempat tidur tepat di samping bunga mawar bertebaran di atasnya. Tangannya pun sibuk dengan benda pipih untuk mengusir rasa bosan menunggu istrinya di dalam kamar mandi.


Sementara di dalam kamar mandi, Shena yang sudah selesai dengan ritualnya. Kini menatap ragu pada pakaian yang dia pakai. Lingerie tipis dan menerawang berwarna hitam, terdapat renda bagian atas yang membuat dua aset kembarnya terlihat menggoda.


"Ya ampun, Shen!" Shena malu sendiri melihat penampilannya di depan cermin westafel kamar mandi. "Ok Shen, malam ini kamu harus siap memberikan apa yang sudah sepatutnya Elvino dapatkan, jangan mengecewakannya, Shen. Kamu pasti bisa, fighting!"


Shena pun perlahan melangkahkan kakinya keluar dari dalam kamar mandi, dia melihat Elvino yang tengah terbaring di atas tempat tidurnya sembari mengutak-atik ponselnya.


Langkah Shena terhenti ketika Elvino justru menatapnya usai menara ponsel di atas nakas samping tempat tidur, dia pun mengeratkan handuk kimono saat Elvino menatap penuh intens ke arahnya.


"Open it!" ucap Elvino.


Perasaan gugup Shena pun kembali mencuat ketika tangan itu membuka handuk kimononya secara perlahan di depan Elvino, dia menurunkan dari atas bahu.


Lingery tipis yang menerawang menembus lekuk tubuh Shena, membuat Elvino menelan saliva berulang kali dengan susah payah, sampai akhirnya baju kimono itu pun terjatuh ke lantai. Untuk lertama kali, Elvinno melihat Shena berpakaian seksi, bahkan hampir tak menutupi sama sekali.


Memperlihatkan pemandangan yang begitu menggoda iman, Elvino pun menatap seluruh diri Shena dari atas sampai ke bawah. Begitu senang hingga dia lupa cara mengedipkan mata.


Elvino langsung bangun dari tempat tidur dengan menarik tubuh Shena agar ikut naik bersamanya ke atas tempat tidur, dia membaringkan tubuh sang istri sedangkan dia berada di atas tubuh indah itu.


"You're beautiful, Shen!" ucap Elvino dengan suara mulai parau, tangannya mengelus pipi yang lembut itu kemudian memejamkan mata seraya mengecup bibir seksi yang menjadi candunya. "Setelah malam ini, kamu benar-benar akan menjadi milikku dan aku milikmu sepenuhnya!"


Shena pun terdiam dengan wajah yang bersemu merona mendengar ucapan suaminya, dia akan merelakan malam ini untuk menyerahkan pada Elvino apa yang selama ini dia jaga.

__ADS_1


Ya, Shena menikmati sebuah kecupan yang perlahan berubah menjadi sebuah ciuman yang manis dan lembut, hingga Shena pun terhanyut dalam buaian dari Elvino, sampai ciuman yang lembut itu berubah menjadi ciuman yang membakar gelora asmara.


"Hhmmm," rintihan manja dari suara Shena pun keluar saat Elvino menyesap lehernya sembari meremas sesuatu yang sudah menantang jiwa lelakinya.


Elvino tidak ada henti-hentinya memberikan rasa cinta melalui bahasa kalbu yang dia miliki, menumpahkan segala seluruh perasaan melalui bahasa tubuh yang dia sampaikan pada Shena. Hingga Shena pun benar-benar bisa merasakan perlakuan Elvino pada dirinya malam ini, permainan awal yang begitu luar biasa membuat dia terhanyut di setiap sentuhan yang diberikan oleh pria yang sudah membuatnya jatuh cinta.


"Shen," panggil Elvino ketika keduanya benar-benar terbakar oleh lautan api yang menggelora.


Elvino sengaja menghentikan aksinya dan memanggil nama sang istri, sebelum dia kembali melanjutkan ke dalam hasrat cinta yang akan mengantar mereka meneguk manisnya madu.


"Hhmm?" Shena menatap sayu wajah Elvino, kemudian keningnya mengerut merasakan sakit luar biasa, hingga tanpa sangaja jemari Shena menancap lekat pada punggung kokoh itu. "El!"


Elvino langsung membekap mulut Shena dengan ********** kembali, guna mengalihkan rasa sakit yang dirasakan oleh sang istri.


Tangan Elvino mengambil tangan Shena untuk dia genggam dengan erat di sela-sela jemari lentik itu, hingga sesapan kuat pun terasa dan itu menandakan bahwa kini Shena sepenuhnya miliknya.


Elvino memberikan waktu beberapa menit agar Shena bisa beradaptasi dengan dirinya, dia melihat wajah cantik itu mengeluarkan air mata dari sudut mata.


Tangan Elvino pun mengusap air mata yang menetes, sembari mengecup kelopak mata Shena. Dia membalas senyuman sang istri kemudian mendekatkan bibirnya di telinga Shena


"Are you ready?" tanya Elvino dengan intonasi benar-benar terdengar sangat parau, dia melihat anggukan dari kepala Shena lalu perlahan mulai melanjutkan kembali aksinya.


Shena pun memejamkan mata, membiarkan Elvino mengambil ahli pada dirinya. Sungguh dia dibuat melayang sampai tidak mengenal rasa sakit yang dia rasakan di awal.


Lenguhan pun kini mengisi ruangan yang hening di kesunyian malam hari, menciptakan aura sensasi yang semakin memacu kedua sejoli yang mengejar titik puncak rasa manisnya bermadu kasih.

__ADS_1


Sampai kelopak bunga berjatuhan dari tempat tidur, menandakan betapa panasnya malam yang dilalui oleh pasangan yang tengah di mabuk cinta.


__ADS_2