
“Pelan-pelan, sayang. Kenapa buru-buru gitu sih?” tanya Celia beranjak dari duduknya lantas menepuk-nepuk punggung Elvino.
“Uhuk! Tidak apa-apa. Aku hanya terlalu senang bisa sarapan denganmu,” ucap Elvino berkilah. Celia hanya tersenyum manis menanggapi. Batinnya merasa lega karena dia berhasil memanipulasi keadaan. Celia berharap, hubungan dirinya dan Roger tidak terendus oleh Elvino.
Keduanya sama-sama tersenyum canggung dan berperang dengan pemikiran mereka masing-masing. Setelah selesai makan, Elvino berpamitan kepada Celia. Kali ini, setelah sekian lama Celia menyalami sang suami dan dibalas kecupan kening nan lembut oleh Elvino.
“Aku pamit. Jaga rumah baik-baik, ya. Tunggu aku pulang.” Elvino menangkup wajah Celia dan tersenyum. Celia mendongak menatap wajah Elvino. Namun, keanehan lagi-lagi terjadi kepada Elvino. Celia sang istri telah berada di hadapannya, tapi entah kenapa justru wajah Shena yang terlihat di matanya.
Bibir itu, daging kenyal yang menjadi candu. Cecapan manis masih terasa di ingatannya. Buru-buru Elvino ******* bibir tipis milik Celia dengan brutal sambil membayangkan Shena. Celia yang berpikir Elvino tengah merindunya pun membalas pagutan tersebut.
Lidah saling membelit dan tanpa sadar satu per satu pakaian mereka telah teronggok di lantai. Elvino membimbing Celia ke kamar dan mereka melakukan ritual suami istri hingga beberapa kali pagi itu hingga menjelang siang.
Beruntung Bi Onah sedang cuti, hingga mereka tidak perlu takut kepergok karena nafsu yang menggebu. Bayangan Shena terus terlintas di otak Elvino. Sepanjang dia melakukan hubungan intim, Elvino hanya membayangkan wajah Shena.
Usai melakukan ritual penghangatan tubuh, Elvino lantas mandi dan berpamitan pergi ke bengkel. Celia mengizinkannya karena dirinya lelah di gempur Elvino.
Di tengah perjalanan, Elvino memungut ponselnya kemudian memblokir nomor Shena. Dia merasa bersalah dan ingin memperbaiki hubungannya dengan Celia. Apalagi, Celia hari ini teihat sangat menyenangkan. Hal itu membuatnya bersemangat dan berpikir Celia sudah sepenuhnya berubah menjadi istri yang baik. Dia bertekad untuk melupakan Shena, demi keutuhan rumah tangganya.
Setengah jam kemudian, Elvino sampai di bengkel. Semua karyawan tampak bingung, karena Elvino terlihat lebih segar dari biasanya. Mereka juga bertanya-tanya dalam hati, apakah gerangan yang membuat senang sang bos datang terlambat. Namun, tak ada yang berani menegur langsung. Mereka hanya mengangguk menyapa yang dibalas anggukan yang sama oleh Elvino.
Pria itu melangkahkan kakinya ke arah ruangannya untuk berganti warepack—baju dinasnya. Tapi tiba-tiba langkahnya terhenti lantas membalikkan badan seraya menatap serius semua karyawannya.
“Teman-teman, bisa perhatikan saya sebentar?”
__ADS_1
“Baik, Bos !” Mereka—para karyawan semua menoleh ke arah Elvino.
“Saya minta tolong, jika ada Shena mencari saya bilang saja tidak di tempat, ya? Jangan biarkan dia ke ruangan saya. Saya tidak ingin menemuinya. Jika itu berhubungan dengan servis mobil, kalian saja yang handle. Terima Kasih.”
“Oke deh, Bos.”
Setelah mengatakan itu, Elvino masuk ke ruangannya dan mengunci pintu.
Deru mesin dan suara perkakas bengkel saling bertautan, para montir sibuk berkutat dengan pekerjaanya masing-masing. Terkadang peluh mereka usap sekenanya meski tangan penuh dengan oli.
Hari semakin terik, saat seorang wanita muncul dengan mobil kesayangannya. Dia menekan klakson berkali-kali hingga mengalihkan perhatian para karyawan bengkel. Wanita tersebut keluar dari mobil tanpa melepaskan kacamatanya.
“Ada yang bisa saya bantu, Mbak?” tanya Samuel.
“Baik, Mbak.” Samuel menjawab kemudian menerima kunci tersebut lantas memarkirkan mobil Shena di sejajarkan dengan mobil lain agar tidak menghalangi jalan.
Shena lantas melangkah masuk ke ruang tunggu ber-AC. Dia menjatuhkan bokongnya lalu mengambil ponsel di dalam tasnya.
Shena menelepon Elvino berkali-kali tapi tak terhubung. Pesan yang dia kirimkan hanya centang satu dan profilnya tidak menampakkan foto seperti biasanya. Shena pun gusar karena sadar nomernya sudah di blok.
“Shit!” Batinnya mengumpat dan meremas ponselnya dengan erat. Hal itu menarik perhatian pelanggan lain yang juga tengah menunggu mobil mereka siap. Shena tidak peduli hal itu, dia menangkupkan kedua tangannya menutupi mata yang mulai m
“Kamu terlalu dingin untukku yang butuh kehangatan, El. Jahat sekali mencuri hatiku tanpa berniat membalasnya. Bego, aku memang bego! Bisa-bisanya jatuh cinta sama suami orang. Sial!” Hatinya terus merutuki kebodohannya saat ini.
__ADS_1
Sementara itu di ruangan lain, Elvino tampak menatap layar CCTV dengan wajah sendu. Ingin dia menemui Shena langsung. Namun, urung ia lakukan. Jujur, dia sangat rindu. Rindu menjahili Shena, rindu berdebat dengannya, serta rindu wajah gemasnya ketika mengerucutkan bibir.
Sial! Dia jadi teringat sentuhan kenyal nan manis itu lagi. Elvino meraba bibirnya. Rasanya cecapan itu terasa berbeda. Jantungnya bertalu keras saat mengingat momen tersebut. Entah mengapa ia malah tak merasakan hal yang sama ketika dengan Celia.
Elvino mematikan laptop dengan paksa. Matanya terpejam dan kepala menggeleng perlahan berusaha menepis segala pikiran tentang Shena. Dia mendesah pelan, kemudian mengempaskan tubuhnya ke belakang hingga kursi yang sedang dia duduki bergerak mundur.
Elvino memukul-mukul pelan jidatnya, berharap bisa menyingkirkan bayangan Shena. Perasaan terlarang yang tumbuh di dada menyesakkan dirinya. Di sisi lain, dia tidak ingin rumah tangganya hancur. Namun, di sisi lain batinnya tersiksa karena harus mengubur paksa perasaan yang baru tumbuh. Dia merasa bersalah terhadap Celia karena membiarkan wanita lain masuk ke relung hatinya.
Dia bodoh dengan gampangnya membiarkan Shena mengusik dunianya. Tanpa sadar, dia yang jatuh ke dalam hingga terperosok dan susah untuk bangun.
Tanpa sadar, keduanya sudah mengobarkan api menyulut di tengah hutan yang akhirnya membakar mereka sendiri. Tak seharusnya lelaki beristri meladeni perempuan apa pun itu alasannya. Bagaimanapun, terkadang karena bosan dan jenuh dengan pasangan, perasaan cinta akan mudah terpupuk kepada orang lain yang datang menghampiri tanpa dia hadang, membukakan pintu hati dengan mudahnya, walau tak ada kata permisi.
Setiap hubungan, pasti akan ada fase jenuh. Namun, harusnya keduanya saling berusaha memperbaiki keadaan dan berusaha agar perasaan tidak hambar lalu menghilang perlahan.
Ibarat pohon yang perlu di beri air dan pupuk agar tumbuh terus dan berbuah. Jika keduanya tidak ada, maka pohon akan mati dan yang tersisa hanyalah ranting serta daun kering yang tertiup kencangnya angin.
Waktu terus berlalu, tapi Elvino masih saja menghindari Shena. Setiap kali Shena ke bengkel, dia selalu bersembunyi di ruangannya.
Lama-lama Shena jengah juga akhirnya nekat menunggu Elvino di seberang jalan tak jauh dari bengkel Elvino. Dia sangat rindu dan juga penasaran, apakah benar selama ini Elvino tidak di bengkel atau hanya tipu daya agar tak bersitatap dengannya.
Jam tangan sudah menunjukkan pukul 21.00. Bengkel pun tampak sudah sepi karena para karyawan mulai pulang satu persatu. Namun, Elvino belum juga menampakkan batang hidungnya. Padahal, Shena sangat berharap lelaki itu akan muncul dan menemuinya.
Bersambung....
__ADS_1