Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Undangan Pernikahan


__ADS_3

“Hanya apa, hah! Arrggghhhh!” Elvino membalikkan badan kemudian menghancurkan semua yang ada di kamar. Lampu, mekap, jam, botol minum, bantal , semua berserakan dan hancur di tangan Elvino. Celia hanya menangis, tubuhnya meluruh ke lantai. Sungguh, menyesal pun sudah terlambat karena Elvino kini sudah tahu semuanya.


Puas mengacak-acak isi kamar, Elvino lantas pergi dan memacu mobilnya dengan laju kencang. Pikirannya tengah kalut. Entah tujuannya ke mana yang jelas dia ingin menenangkan diri.


Setelah cukup jauh dari hiruk pikuk kota, Elvino berhenti di sebuah pantai. Dia segera keluar kemudian berlari lalu berteriak sepuas hati dalam gelapnya malam. Tak peduli dia akan diklaim sebagai orang tidak waras atau apa pun itu. Dia ingin meluapkan emosinya yang menyesakkan di dalam dada.


Deburan ombak dan embusan angin seolah menghipnotisnya hingga menjadi lebih tenang. Elvino terduduk di atas pasir sambil meringkuk kemudian menangis. Ini kali pertama dia menangis bukan karena bahagia, melainkan karena sakit yang tak bisa dia redam. Rasa remuk redam di batin. Terluka, tapi tak berdarah.


Matahari mulai menampakkan diri. Elvino mulai terjaga setelah dia ketiduran dalam posisi meringkuk dan bersandar di bawah pohon kelapa tepi pantai. Dia mulai menggigil kedinginan, lantas memutuskan kembali ke mobil.


Dia memacu mobilnya kemudian meninggalkan pantai dan emosinya. Dia pergi ke arah bengkel miliknya. Suasana tampak masih sepi ketika dia sampai di bengkel. Elvino segera masuk ke ruangannya dan membuat kopi. 


Sayangnya, kebetulan stok gula ternyata sudah habis. Akhirnya terpaksa Elvino meminum kopinya tanpa gula. Rasa pahit dari kopi tersebut seolah mewakili betapa peliknya masalah yang tengah dia hadapi. Untuk membuang bosan, Elvino menyalakan televisi yang bertengger di dinding ruang kerjanya. 


Setelah menekan tombol on, Elvino mencari acara yang mungkin menarik untuk dia tonton. Namun, ada satu channel yang ternyata tengah menampilkan adegan sepasang kekasih tengah saling memagut mesra. Elvino meneguk ludahnya karena mengingat lembut bibir Shena kala itu.


Detik berikutnya, Elvino segera mengganti-ganti channel televisi lain. Jemarinya terus menekan tombol next di remot. Ia menggeleng-gelengkan kepala dan berusaha menangkis Shena dari otaknya. Akan tetapi, bukannya menemukan acara menarik, Elvino justru dibuat kesal karena di jam ini hanya acara kartun untuk anak-anak.

__ADS_1


Akhirnya dia menekab tombol off dan beralih ke ponsel. Nyatanya malah bayangan Shena tersenyum terpampang di benda pipih miliknya itu. Merasa kalah dengan pikirannya tentang Shena, Elvino memejamkan mata lalu kembali terlelap.


--


“Bos, bos.” Samuel membangunkan Elvino yang tertidur di kursi kerjanya. Elvino yang merasa terusik kemudian terbangun dan terlonjak kaget melihat Samuel sudah di depannya.


“Kenapa, Sam?” tanya Elvino seraya memijit pelipisnya yang terasa berdenyut pusing. Mungkin akibat kurang tidur semalaman.


“Nggak papa, Bos. Cuma mau saranin, tidurnya di sofa aja biar nggak pegel. Semalem habis gembur kah? Kok loyo begitu?” ucap Samuel tersenyum menggoda.


Elvino mengembuskan napasnya kasar, lalu berpindah ke sofa bed di pojok ruangan. Dia melanjutkan kegiatan tidurnya yang sempat terganggu. Elvino memang sengaja membeli itu karena terkadang jika diharuskan lembur, dia menginap dan tidur di situ.


Anehnya, setelah merebahkan diri di sofa, bukannya tertidur kembali dia justru berperang dengan otaknya. Berbagai hal memutar dan saling beradu di dalam pikirannya. Sekelebat bayangan pertengkaran dengan Celia kembali teringat. Tangannya mengepal keras kemudian duduk bersandar.


“Sial!” batinnya sambil memukul sofa yang tidak bersalah. Deringan ponsel terdengar di telinga. Elvino segera menilik siapa yang telepon di pagi hari ini. Namun, ketika melihat nama kontak si pemanggil Elvino mengurungkan niatnya dan enggan menjawab telepon tersebut. Siapa lagi jika bukan Celia. Ingin rasanya memaki, tapi dia lelah berdebat semalam. Jadi, dia segera menonaktifkan ponselnya lalu keluar menuju toilet dan mandi. 


Dalam bengkel Elvino, terdapat kamar mandi dan loker khusus karyawan sehingga memudahkan mereka untuk menyimpan barang-barang mereka. Kebetulan, Elvino menyimpan beberapa pakaian bersih miliknya di ruangan pribadi, sehingga dia bisa mandi dan berganti pakaian di sana.

__ADS_1


Usai mandi, Elvino memakai baju warepack milik kemudian bergabung dengan para karyawan untuk membantu mereka menyervis mobil para pelanggan. Hari demi hari berganti Elvino sudah hampir semingguan ini tidak pulang ke rumah. Dia tinggal di bengkel dan bekerja lembur untuk mengalihkan pikirannya yang sedang kacau.


Di sisi lain, dia bimbang antara melanjutkan pernikahannya atau tidak. Apalagi dia sudah merasa jijik membayangkan Celia yang di celup-celup di bawah kungkungan Roger. Selain itu, entah kenapa wajah dan tingkah laku Shena terngiang-ngiang terus dalam ingatannya. Dia rindu. Ya, Elvino benar-benar merindukan Shena. Sosok yang terkadang berisik dan manja, tapi mampu menggetarkan jiwanya. 


Siang itu begitu terik, tiba-tiba mobil Shena datang dan memasuki area bengkel Elvino. Semua mata tertuju ke sana karena penampilan Shena yang memukau seperti biasanya. Audah lama mereka tidak melihat wanita itu datang ke bengkel, padahal sebelumnya begitu sering berjumpa dengan sang bos.


Sudut bibir Elvino menarik ke atas. Namun, dia segera beranjak berdiri dari posisinya. Matanya tak lepas dari siluet Shena yang semakin mengembang. Dia tak menyangka, wanita yang baru saja dipikirkannya, kini terlihat nyata di depan mata. Elvino mendekat, mimik wajahnya menggambarkan kebahagiaan. Berbeda dengan Shena, dia justru menampakkan wajah datarnya dan berjalan menghampiri Elvino.


“Untukmu.” Shena memberikan selembar kertas tebal berwarna maroon.


Setelah menyerahkan itu, Shena segera membalikkan badan dan berjalan dengan langkah cepat meninggalkan Elvino. Lelaki itu memanggilnya sembari memperhatikan benda yang ada di tangannya. Teriakan Elvino tak mempengaruhi langkah Shena yang terus berjalan ke arah mobil tanpa menoleh ke belakang. Dia menyembunyikan bulir bening yang mulai menetes di pipinya. Shena lantas memasuki mobilnya kemudian dengan cepat mengemudikannya agar bisa segera pergi dari sana.


Elvino menatap kepergian Shena dengan perasaan tak menentu. Sepeninggal wanita itu, Elvino melihat sekilas kertas maroon tebal di tangannya, yang ternyata adalah undangan. Sontak ia terkejut melihat nama yang tercantum di atasnya. Entah kenapa dirinya merasa sangat kesal lalu meremas undangan tersebut hingga tak berbentuk.


Dia melempar undangan tersebut ke tong sampah yang terletak tak jauh dari tempat ia berdiri. Emosi semakin berlanjut hingga malam tiba. Elvino terus menerus marah-marah bahkan hanya karena kesalahan sepele para karyawan. Tak hanya itu saja, Elvino yang terkenal dingin, hari ini sangat cerewet sekali. Para karyawannya sampai bingung ada apakah gerangan, hingga sang bos tampak sangat emosi seperti itu. Namun, tak ada yang berani untuk bertanya.


Bersambung...

__ADS_1


__ADS_2