
Menikmati waktu malam bersama adalah hal yang paling dinantikan Elvino dan Shena. Namun sayang, ada benteng yang harus mereka jaga, perjanjian yang Shena buat menjadikan Elvino seorang suami yang tidak diizinkan menyentuhnya. Hal itu tak membuat Elvino meratapi nasibnya, dia juga begitu mengerti akan posisi Shena. Terlebih, wanita itu memang pernah disakiti olehnya, jadi tak heran jika Elvino mau menuruti keinginan Shena, berharap perlahan rasa kecewanya akan memudar seiring berjalannya waktu.
“Makanlah, El!” perintah Shena seraya menyodorkan cup tiramisu.
“Suapin dong,” titahnya manja. El kemudian mendudukkan tubuhnya di sofa panjang, disusul oleh Shena.
“Makan sendirilah, udah gede masih aja manja.” Shena sedikit melirik ke arah Elvino yang terus menatapnya.
“Manja sama istri sendiri kan, halal.” Elvino lantas mengembuskan napasnya. “Jarang-jarang ketemu istri, sekalian minta disuapin aja nggak mau.”
“Ya, ya, sini. Cepetan deh.” Shena pun menyuapkan tiramisu tersebut pada Elvino.
Suapan terakhir, Shena sengaja mencolekkan sisa krim ke hidung Elvino, sehingga membuat wanita itu tertawa terbahak-bahak. Elvino yang menyadari kejahilan Shena pun merasa gemas dengan istrinya itu.
“Sudah mulai nakal, ya, sekarang.” Elvino mengungkung tubuh Shena yang tengah bersender pada sofa tersebut. Lelaki itu mendekat dan perlahan wajahnya pun tak berjarak.
“El, kamu mau ngapain?” tanya Shena gugup, debaran jantungnya sudah mulai tak karuan dibuatnya.
“Ini akibatnya kalau jahil,” tutur Elvino seraya menempelkan hidungnya yang terkena krim ke hidung Shena.
“El! Iiih ... kotor, kan.” Shena menggerutu dan mencoba menjauhkan tubuh Elvino dengan dorongan tangannya.
Akan tetapi, tekanan yang Shena buat pada dada bidang Elvino tak berpengaruh apa pun, lelaki itu semakin intens menatap manik indah Shena, hingga membuat wanita itu tak berkutik dan langsung memejamkan matanya, menolak pun rasanya sungguh mubazir. Hal seperti ini memang sangat dirindukan oleh Shena, tetapi dia terlalu gengsi untuk mengakuinya.
Jambang tipis Elvino perlahan mulai terasa di pipi Shena, wanita itu hanya menikmati setiap kulit Elvino mulai menyentuhnya. “Aku tau, kamu pasti sangat merindukanku, kan?”
__ADS_1
Shena menggeleng cepat dan perlahan membuka matanya. Mulutnya seolah terkunci, tidak tahu apa yang harus diucapkannya.
"Berterus teranglah, aku akan melepaskanmu.”
“Aku tidak merindukanmu, El.” Shena tetap dengan pendiriannya yang keras kepala, tidak mau mengakui hal tersebut.”
“Jadi, kamu lebih memilih aku terus menguncimu seperti ini? Baiklah, dengan senang hati aku akan melakukannya.” Penuturan Elvino benar-benar membuat Shena kebingungan, dia dipaksa untuk mengatakan kerinduannya, tetapi pilihan lain, dia harus berada dalam kungkungan Elvino.
Bagi Shena, mengungkapkan rasa rindu adalah hal yang berat, jika dia mengatakannya, itu berarti dia sama halnya menganggap Elvino sebagai orang terpenting di hidupnya. Sedangkan, untuk saat ini dia ingin mempertahankan isi dalam hatinya agar tidak terbaca oleh Elvino sampai nanti saat dirinya sah menjadi istri sahnya.
Shena masih terdiam, dia justru tak peduli apa yang Elvino lakukan. Namun, dia berusaha melepaskan diri dai kungkungan lelaki tersebut.
“El, jangan macam-macam, menyingkirlah!” Aku gerah, mau mandi.”
“aku nggak macam-macam kok, cuma mau main-main aja sebentar.”
Elvino tidak menyia-nyiakan kesempatan emas tersebut. Dia langsung menindih tubuh Shena dan mengecup lembut bibir wanita itu. Sentuhan bibir Elvino terhadap bibir Shena terasa begitu lembut, perlahan Elvino menyesap bibir bawah Shena dengan penuh perasaan. Cinta yang mereka punya seolah tersalurkan melalui kontak bibir yang tak hentinya bertaut.
Elvino sesekali menjentikkan jarinya pada dagu Shena agar tetap bertahan dengan ciumannya. Wanita itu kini hanya memejamkan mata, menikmati semua perlakuan Elvino. Rasa gengsi bercampur kecewa seolah lenyap begitu saja, dia seperti terhipnotis dengan suaminya itu, ciuman yang begitu memabukkan, juga setiap belaian yang Elvino berikan.
Tautan bibir itu terjadi cukup lama, tetapi Elvino tetap memperlakukannya dengan lembut. Pada akhirnya, lelaki itu menginginkan sesuatu yang lebih, dia perlahan menyusuri leher jenjang Shena, dia mengecupnya lembut. Aroma parfum Shena begitu menarik indra penciuman Elvino, dia terus menghirup dan mengembuskan napas di leher Shena.
Shena pun mengatur napasnya yang semakin memburu, menahan gejolak yang dirasakan. Suara embusan napas Shena membuat Elvino semakin tertarik untuk melakukan kegiatannya, dia lantas menyesap leher putih itu dan meninggalkan bekas merah di sana.
Shena terkesiap begitu merasakan sedikit nyeri saat Elvino melakukannya. Wanita itu langsung berdehem dan mencoba untuk bangkit dan mengatur posisi.
__ADS_1
“A—aku mau mandi.” Shena lalu beranjak dan segera pergi ke kamar mandi dan berjalan dengan langkah seribu kaki.
“Sial, bodoh banget sih, Shen! Kenapa malah menikmati sih!” gerutu Shena merutuki kebodohannya di depan cermin. Dia merasa sangat malu jika mengingat kejadian beberapa saat tadi.
“Ini apa, astaga! Duh Elvino kenapa sih nggak bisa kontrol, merah kan, jadinya!” Lagi-lagi Shena mengentakkan kakinya di lantai sembari memperhatikan bekas merah di lehernya. Dia mengusapnya, ingatannya kembali berputar mengingat Elvino yang hampir saja lepas kendali, jika tidak ia hentikan, mungkin akan berlanjut permainan panas tersebut.
Sementara itu, Elvino merebahkan diri di sofa sambil melamun. Tatapannya melihat ke awang-awang, berusaha menetralkan pikirannya yang sempat terhenti pada bayangan Shena. Dia berandai-andai untuk menikmati malam di atas ranjang bersama Shena. Namun, harapannya harus pupus sebelum terwujud, dia harus menahan gejolak itu sampai pada akhirnya waktu itu akan tiba.
Beberapa saat kemudian, Shena keluar dari kamar mandi dan langsung duduk di ranjang. Elvino pun mendekat dan menghampiri Shena.
“Maaf, harusnya aku tidak ....”
“Nggak apa-apa, nggak perlu dibahas. Mandilah, sudah aku siapkan air hangat di bath up.”
“Terima kasih, nanti pukul tujuh aku mau ajak kamu makan malam di luar, Shen. Bersiap-siaplah!”
Setelah selesai mandi, Elvino keluar dengan handuk yang melilit pinggangnya. Tubuh polosnya tak memakai sehelai benang satu pun. Rambutnya yang basah sesekali meneteskan air ke tubuhnya, membuat mata Shena tak berkedip menatap kagum lelaki di depanya. Tubuh kekar dengan sixpack yang sempurna membuat Shena terpana, pasalnya dia memang baru pertama kali melihat Elvino tanpa busana.
“Shen, kenapa melihatku seperti itu?” tanya Elvino menggoda Shena. Tatapan wanita itu begitu jelas memperhatikan tubuhnya.
Shena menjadi salah tingkah dibuatnya, dua kali dia seperti orang yang bodoh di depan Elvino. Dia langsung mengalihkan pandangannya ke arah lain dan berkelit, “Hah, kenapa emangnya? Nggak apa-apa kok, aku lagi nggak lihatin kamu.”
“Shen, jaga mata, Shen! Nggak bisa banget lihat barang bagus!” batin Shena.
BERSAMBUNG....
__ADS_1
HAI readers tersayang. Apa kabar nih? Semoga sehat selalu dan rezekinya melimpah yaa. Terima kasih masih setia kawal El dan Shena. Jujur part ini bikin author melayang ke awan uwuw hahah. Semoga kalian juga suka. Semangat teman-teman 💕🥰