
Tangan lentik milik seorang desainer itu tidak ada hentinya untuk menciptakan suatu maha karya yang luar biasa, dari setiap hasil yang dikerjakan oleh keterampilan tangannya selalu menunjukkan hasil yang sangat memuaskan. Tidak sedikit mahakarya dari seorang wanita cantik bersandang status sebagai Nyonya Harvest, tersohor sampai ke pelosok negara tetangga.
Ya, itulah Shena—desainer tercantik yang sudah berhasil meraih impiannya, karena itulah sampai saat ini dia begitu menikmati pekerjaannya sebagai seorang desainer, meski dia sudah menjadi seorang istri dari Elvino Harvest Dirgantara—seorang bos pemilik bengkel ternama. Terkadang saking dia mencintai akan profesinya, Shena hampir lupa waktu, seakan dunianya hanya terfokus oleh karya yang dia ciptakan.
Mata dengan sorot pandang serius begitu fokus pada setiap goresan pena di atas kertas, menciptakan rangkaian pakaian model terbaru. Jemari lentik itu tak pernah berhenti ketika sudah memulai aktivitas yang dia gemari sebagai bentuk pekerjaan utamanya.
"Ya, habis!" keluh Shena ketika melihat stok salah satu aksesoris yang akan dia gunakan pada rancangan karya barunya habis.
"Mel, stok payet mutiara biru masih ada nggak di gudang? Mel ... Melva!"
"Eh, iya Shen, kenapa?" Melva tersadar dari lamunannya kita Shena mulai berteriak memanggil namanya.
"Ya ampun ... kamu tuh lamunin apa sih, Mel? Ini kenapa belum selesai? Terus ini, ini kenapa di gabungin?" tanya Shena yang menggelengkan kepalanya melihat hasil kerja asistennya hari ini sedikit melenceng dari pesanan.
"Ah, iya, maaf lupa," ucap Melva tanpa berdosa sembari cengengesan ke arah Shena. Dia kembali merapikan tugasnya dengan cepat.
"Udah biarin aja, biar itu tugas si Dela! Kamu coba lihat payet mutiara warna biru di gudang, masih ada nggak?" tanya Shena sedikit kesal ketika kerjaan sedang diburu-buru temannya itu dengan santainya melamun di saat jam kerja, padahal biasanya Melva juga sama seperti dirinya, selalu tekun dan ulet saat bekerja.
"Sorry, aku lupa bilang sama kamu, kalau aksesoris itu habis dari kemarin, belum nyetok lagi." Kini Melva benar-benar memasang wajah memelasnya, dia menyadari kesalahan yang telah dia perbuat hari ini, karena itu dia merasa bersalah pada Shena.
"Ya ampun, Melva! Kamu itu ngelamunin apa coba? Sampai pekerjaan bisa kayak begini! Masak gara-gara si Rendi pacaran sama Dela kamu jadi galau begini? Apa gara-gara cinta kamu ditolak sama Mang Udin? Benar-benar, deh!" kesal Shena kali ini terhadap Melva.
__ADS_1
"Ya, bukan karena Rendi juga Shen! Nggak level kali aku patah hati karena Rendi lebih milih Suci dari aku! Terus apa itu, Mang Ucup? Nggak ada kaitannya sama mereka berdua!" tangkis Melva yang membela dirinya sendiri seraya cemberut.
Shena masih tetap tidak perduli apa pun alasan di balik Melva melamun sehingga pekerjaan seharian ini menjadi terbengkalai karena ulah asistennya tersebut, dia marah sehingga membiarkan Melva bercerita tanpa dia jawab.
Menyadari hal tersebut, Melva pun berinisiatif untuk meminta maaf kepada Shena dan tidak akan mengulanginya lagi. Tetapi permohonan maaf dari dirinya masih diabaikan oleh sahabatnya itu, dia terus mengekori Shena sampai di ruang pribadi bosnya itu seraya membujuk agar Shena mau memaafkannya.
"Shen, maafin aku, ya! Aku nggak akan ngulanginya lagi deh, janji!" ucap Melva memohon, dia menggoyangkan lengan sahabatnya itu yang sedang membuat sketsa melalui tablet-nya. "Sebagai bentuk permintaan maaf, bagaimana aku traktir kamu di cafetaria? Ya?"
"Nggak mempan di sogok!" sahut Shena dengan ketus.
"Iiih, ya sudah deh kalau gitu kamu boleh makan sepuasnya sampai kenyang! Bagaimana?" rayu Melva tetapi masih saja belum mempan, dia pun masih punya cara lain. "By the way, aku punya tiket bioskop Doctors Strange. Mau?"
"Oke kali ini aku maafin, tapi ingat, lain kali jangan diulangi lagi, kalau telat begini, kan, kita order dari pusat bakalan lama datengnya!" pinta Shena yang masih memasang wajah ketusnya.
"Siap, Bos!" Melva memberi hormat kepada Shena dengan senyuman mautnya, lantas memeluk sahabatnya itu sembari berkata, "Terima kasih, ya! Oh, iya ... berati sepulang kerja kita langsung capcus makan sama nonton?"
"Sama-sama!" jawab Shena sembari menganggukan kepala. "Eh, by the way, kok kamu bisa sih, dapat tiket itu dari Rendy?" Shena mengerutkan keningnya saat melihat Melva.
Asisten pribadi Shena itu langsung menceritakan, sebenarnya Dela mengajaknya double-date untuk memanasi dirinya kalau dia sudah jadian dengan Rendy—sopir di butik Shena, tetapi karena Rendy sakit, akhirnya batal dan semua tiket itu dikasih ke Melva, walaupun sebenarnya Melva sama sekali tidak memiliki perasaan terhadap Rendy. Akan tetapi, Rendy lah yang memiliki perasaan terhadap Melva, sehingga Dela yang menyukai Rendy menjadi cemburu.
***
__ADS_1
Jam pun terus bergulir hingga tiba pukul tujuh malam, Shena yang bersiap untuk menutup toko butiknya lebih cepat mengirim pesan terlebih dahulu kepada Elvino untuk mengabarinya jika dia akan pergi makan dan nonton bersama Melva.
"Sudah?" tanya Melva kali ini yang melihat Shena memastikan sudah memasang sabuk pengamannya ketika mereka sudah berada di mobil Shena, tetapi asistennya itu yang menyetir.
Begitu Shena menganggukkan kepalanya Melva melajukan menuju tempat tujuannya. Selama perjalanan Shena sibuk membalas pesan dari suaminya, dia mendapatkan pesan singkat dari Elvino karena kebetulan suaminya itu menutup bengkel lebih cepat, hingga Elvino meminta alamat restoran dan bioskop yang akan dikunjungi oleh Shena bersama Melva.
Shena ragu mengirim titik lokasi kepada suaminya, pasalnya apabila Elvino ikut maka akan terasa canggung saat mereka pergi bertiga, dia pun mempunyai ide menyarankan suaminya mengajak Samuel biar nanti Melva ada temannya dan Elvino setuju menurut apa kata dirinya.
Begitu sampai di sebuah bioskop ternama, Shena dan Melva langsung masuk ke dalam cafetaria terlebih dahulu untuk mengisi perut mereka yang sudah tidak sabar untuk segera diisi, sebelum mereka pergi untuk menonton.
Suasana dalam cafetaria tersebut begitu senggang mungkin karena masih jadwal hari kerja sehingga tidak terlalu ramai pengunjung, desain interiornya yang elegan dan mewah membuat suasana cafe tersebut terlihat berkelas. Belum juga penyambutan dari karyawan cafe tersebut yang begitu sopan dan ramah akan tutur katanya, membuat cafe itu menjadi salah satu cafe yang banyak diminati oleh semua orang.
Shena dan Melva memilih duduk di bagian paling pojok agar bisa melihat suasana indah kota di malam hari dari atas, menampakkan pemandangan yang begitu mempesona membuat siapapun yang melihatnya bisa memanjakan mata.
"Permisi, silakan daftar menunya!" Pelayan itu menyerahkan daftar menu untuk dilihat oleh Shena dan Melva.
"Terima kasih, Mbak!" ucap serempak keduanya.
Mereka melihat daftar menu untuk mereka pilih menu apa yang akan mereka pesan, saat itu juga Shena melambaikan tangan ke arah belakang Melva yang ternyata sang suami datang bersama Samuel.
Bersambung...
__ADS_1