
Pada saat itu juga, Shena mendorong tubuh Elvino hingga menjauh lantas cepat-cepat dia keluar demi keselamatan jantungnya yang berdegup sangat kencang.
Melva yang sudah melihat keromantisan sahabatnya pagi-pagi, merasa iri sembari tertawa lalu menghampiri wanita yang berparas cantik itu.
"Cie ... butuh dokter cinta nggak, Bu?" goda Melva saat Shena berdiri di belakang pintu, sembari memegang dadanya yang berdegup tidak karuan.
"Melva!" Shena mencoba mengejar sahabatnya yang menjauh darinya.
Sementara Elvino, sebelum dia menjalankan mobilnya, dia tertawa gemas melihat ekspresi wajah Shena yang membuat adik junior yang berada di bawah sana bergejolak.
"Aah, gila! Sinyalnya kuat banget! Sabar Joni ... sabar, tahan sebentar lagi. Nanti kamu akan mendapat tempat baru kamu yang lebih—"
"Aargh, ****!" Elvino menepis pikirannya, ia menyadari bahwa nanti jika Shena sudah mau memberikan haknya, dia akan merasakan surga dunia bersama orang yang dicintainya.
"Huh!" Elvino berteriak untuk mengeluarkan napas yang begitu sesak kemudian menjalankan laju mobilnya menuju bengkel.
***
Hari persidangan penceraian telah tiba, Celia yang penuh percaya diri bila saat di ruang mediasi Elvino akan membatalkan gugatan cerai dan mau kembali hidup rumah tangga dengan dirinya, begitu santai dan tampil cantik.
Celia sengaja mengubah penampilan yang disukai oleh Elvino agar sang suami bisa kembali luluh melihat dirinya saat pertama bertemu. Akan tetapi, harapan dia hancur sudah saat dia sudah tiba di ruang mediasi dan menunggunya selama tiga jam, Elvino tidak datang jua.
Hingga akhirnya, Celia dengan rasa kecewa, emosi dan marah langsung menangis sejadi-jadinya di halaman parkir gedung kementerian agama. Dia tidak peduli dengan orang yang ada di sekitarnya yang melihat dirinya sedang kecewa. Celia hanya ingin melampiaskan rasa kesalnya saat sidang terus berlanjut hingga ke tahap berikutnya.
"Elvino! Kamu jahat banget sih, bisa-bisanya kamu memperlakukan aku kaya gini. Awas kamu! Aku pastikan kamu bakalan menyesal!" Celia terus mengamuk dan tidak terima bila Elvino tidak datang saat mediasi.
"Iissh, gila kali tuh orang! Ngamuk-ngamuk nggak jelas," celetuk salah satu orang yang menjadi salah satu kebersihan di area tersebut.
"Apa lo, lihat-lihat? Mau gua colok mata lo!" Celia menyadari dirinya menjadi bahan olokan orang-orang yang lewat.
__ADS_1
"Ya ampun, kasian ya ... mungkin depresi akibat perceraian," bisik salah satu wanita di telinga temannya yang melewati Celia.
"Eh, berani lo ngatain gua? Sini kalau kalian berani!" Celia ingin mengejar kedua wanita itu setelah salah satu office girl telah memberikan umpatan lebih dulu.
"Kabur ... ada orang gila!" teriak kedua wanita itu yang berlari terbirit-birit.
Celia berusaha mengejar kedua wanita itu tapi karena dia memakai high heels, jadi sulit untuk berhasil mengejarnya. Dia pun putus asa sampai membuka high heels-nya lalu melempar ke arah wanita itu. Namun, naasnya sepatu yang Celia lempar itu mengenai seekor anjing penjaga keamanan yang di lantik menjadi anjing terlatih.
Sontak saja Celia terkejut dan kembali berlari ke arah berlawanan untuk menghindar dari kejaran anjing tersebut hingga dirinya sampai di luar gedung kementerian agama.
"Hhuuh! Slamet!" ucap Celia yang berhasil lolos dari kejaran anjing, padahal dia tidak tahu jika anjing itu terikat. Tidak sampai di situ, Celia pun dikejutkan oleh suara klakson mobil yang menghalangi jalannya sampai Celia terkejut dan mundur ke perbatasan selokan.
"Aaakh!" teriak Celia saat masuk ke dalam selokan, untungnya selokan itu tingginya hanya sebatas lutut Celia dan airnya tidak terlalu banyak hanya lumpur hitam pekat yang menempel di kaki hingga ke pinggangnya, karena Celia jatuh terduduk.
"Aaahh, sialan!" umpat Celia yang meringis kesakitan. Dia melihat tubuhnya sudah penuh lumpur hitam pekat dengan aroma bau yang sangat kuat. "Iiyyuhh!"
"ELVINO!" teriak Celia kesal, dan melampiaskan rasa amarahnya pada mantan suaminya.
Tak lama kemudian, jam makan siang pun tiba, Elvino memilih untuk ke butik Shena sekedar mengajaknya makan siang. Baru semalam saja tidak berjumpa dengan sang istri, rasa rindu itu sepertinya sudah menebal hingga ke ulu hati. Bahkan, semalam dia tidur tidak nyenyak, kesepakatan yang baru saja dibuat dengan Shena waktu itu membuatnya terpikir. Padahal, baru saja Elvino merasakan tidur memeluk sang istri, kini dia harus terpaksa berjauhan lagi.
Seolah seperti kehilangan sesuatu. Hampa. Begitu kira-kira yang Elvino rasakan. Padahal hanya beberapa jam tidak bertemu dengan istri yang belum genap sebulan dia nikahi itu. Elvino mengganti bajunya dengan pakaian santai lalu memacu mobilnya menuju butik milik Shena. Tak membutuhkan waktu lama, akhirnya dia sampai di depan butik. Elvino segera melenggang masuk dan disambut oleh karyawan Shena.
Elvino menelisik setiap sudut ruangan mencari keberadaan Shena. Namun, ia tak menemukannya. Jadi, dia memutuskan bertanya kepada Melva yang tengah asyik main game di ponsel dan tak menyadari kehadiran Elvino.
"Permisi, Shena ada di mana, ya?" tanyanya.
Sontak Melva mendongakkan kepala dan terkejut melihat Elvino.
"Ah, dia di atas. Shena di ruangan lantai dua. Perlu saya antar?"
__ADS_1
Sikap Melva sangat berbanding terbalik jika mengingat saat itu, saat di mana dia harus keras dan tegas menghadapi Elvino ketika sahabatnya terluka. Sekarang, dia sangat sopan karena Shena bahagia menikah dengan lelaki itu.
"Tidak. Terima kasih. Saya akan naik ke atas sendiri." Setelah mengatakan itu, Elvino berjalan menaiki tangga dan berdiri tepat di depan pintu ruangan Shena. Namun, baru saja mengangkat tangannya hendak mengetuk, tiba-tiba pintu terbuka menampilkan Shena yang hendak keluar ruangan.
"Ah, kamu sudah makan?" tanya Elvino sedikit kikuk karena terkejut melihat Shena.
"Belum. Ini mau makan." Shena menjawab sambil tersenyum.
"Kebetulan aku mau mengajakmu makan siang," ujar Elvino.
Shena hanya mengangguk mengiyakan. Elvino tersenyum lalu menggandeng tangan Shena lalu pergi meninggalkan butik menggunakan mobilnya. Sepanjang jalan mereka hanya diam tanpa kata.
Tak lama kemudian, mereka sampailah ke sebuah restoran yang mewah. Elvino keluar dari mobil dan segera membukakan pintu untuk Shena. Senyum kembali mengembang di bibir Shena karena mendapat perhatian kecil dari pria yang sudah menyandang status sebagai suaminya itu.
"Mari Tuan Putri," kata Elvino sambil mengulurkan tangannya. Shena menyambut uluran tangan tersebut. Mereka berjalan menuju restoran dan di sambut oleh pramuniaga yang bertugas di resepsionis.
Elvino menelisik mencari tempat duduk yang kosong. Beruntung di ujung yang agak sepi masih ada meja yang belum bertuan. Mereka segera duduk kemudian memanggil seorang pramuniaga perempuan untuk memesan makanan.
"Saya nasi goreng spesial. Kerupuknya dua. Minumnya es jeruk. Kamu apa, Shen?" tanya Elvino.
"Samain aja, Mbak. Saya pesan nasi goreng spesial tapi pedas. Minumnya lemon tea," ucap Shena.
Pramuniaga tersebut mencatat pesanan Elvino dan Shena kemudian undur diri.
"Baik silakan di tunggu, ya." Pramuniaga tersebut meninggalkan meja Elvino dan pergi ke dapur.
"Shen, sebenarnya ada sesuatu yang ingin kukatakan kepadamu. Kuharap kamu tidak marah atau berpikir yang tidak-tidak." Elvino mengambil kedua tangan Shena dan menatapnya intens
Bersambung...
__ADS_1
Hai readers tersayang, maafkan author yang baru sempat update karena kesibukan di hari senin. Terima kasih selalu support Shena dan El serta setia menunggu update an dari author. Jaga kesehatan ya gaes. Salam sayang dari author. ❤️