Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Singapore


__ADS_3

Setibanya di Changi Airport Singapura, mereka langsung menuju hotel dan beristirahat. Keduanya pun terlelap, mengumpulkan energinya untuk berkeliling esok—menikmati kota wisata yang indah.


Pagi hari, cuaca cukup bagus. Elvino membangunkan sang istri dan mengajaknya berenang di privat pool kamar mereka. Sementara Shena di kamar mandi untuk bersiap, lelaki itu kini sudah berada di kolam renang dengan tubuh yang separuh tenggelam ke dalam air. Tak lama kemudian, Shena keluar dari kamar. Dia berjalan perlahan menuju balkon dan menatap Elvino dari kejauhan.


“Sayang, jangan melihatku seperti itu. Tatapanmu menyeramkan,” tutur Shena.


Bagaimana bola mata Elvino tidak terkesiap saat melihat istrinya, jika penampilannya saja seolah membangkitkan gairahnya sebagai lelaki normal. Setelan bikini minim berwarna merah itu sangat cocok dikenakan pada kulit putih Shena. Bagian dada hanya menutup setengahnya—memperlihatkan belahan indah di sana, juga bagian bawah yang hanya menutup sedikit di celah intinya.


“Kamu terlalu seksi, Sayang. You’re so beautiful!” ucap Elvino tak berkedip, lalu melanjutkan kata-katanya,” untung ini privat pool, hanya ada kita berdua. Aku nggak mau di tempat umum kamu memakai bikini seperti ini. Keindahan itu hanya boleh aku yang melihat dan menikmatinya. Paham?” pinta Elvino penuh keposesifan.


“Of course, mana berani aku memakainya di tempat umum, Sayang. Aku hanya berani di depan kamu aja, itu pun karena kamu sudah tau semuanya di diriku.”


Shena perlahan memasukkan kakinya ke dalam kolam renang, air itu terasa dingin di kakinya hingga dia perlu beradaptasi sebelum memasukkan tubuhnya ke dalam sana. Elvino yang berada di bawahnya pun menggoda wanita itu dengan memercikkan air berulang kali. Dia lalu menariknya agar Shena masuk ke dalam, ia menangkap langsung tubuh Shena.


Berpelukan di dalam air adalah hal yang sangat menenangkan bagi keduanya, melepaskan semua penat dan beban pikiran yang terus aktif selama mengurus bengkel dan butik. Bukan hanya berenang saja aktivitas yang mereka lakukan di kolam renang, tetapi juga bercumbu mesra memadu kasih.


Siang ini, mereka pergi ke Orchad—mall besar yang terkenal di Singapura. Sebelum berbelanja, keduanya memutuskan untuk makan siang terlebih dahulu.


“Sayang, aku mau ke toilet sebentar, ya,” kata Shen seraya beranjak dari bangku meja makan.


“Aku antar!”


“Nggak usah, Sayang. Lagian juga nggak jauh-jauh banget kok toiletnya, tenang aja aku nggak akan hilang kok.” Shena mencubit manja pipi Elvino sebelum pergi.


Beberapa saat kemudian setelah keluar dari toilet, Shena tak sengaja bertabrakan dengan seorang lelaki. Entah kenapa, lelaki itu tampak tak asing, dia melihat sekilas pria bertopi hitam mengenakan pakaian kasual itu.

__ADS_1


“Sorry!” tukas Shena.


Pria itu pun langsung sadar begitu melihat Shena. Ia lalu berkata, “ Kamu Shena, kan?”


“Apa kita pernah bertemu sebelumnya?”


“Ya, tentu saja. Mungkin kamu lupa, aku orang kepercayaan seseorang yang pernah ada di hidup kamu sebelumnya.”


“Siapa?” tanya Shena penasaran seraya mencoba mengingat-ingat orang yang dimaksud lelaki itu.


“Sorry, aku nggak punya banyak waktu, Cantik. Aku ada urusan sekarang. Kalau kamu mau tahu tentang kabar Lucky, nanti bisa telepon aja. Ini kartu namaku.” Pria itu memberikan kartu namanya dan diterima baik oleh Shena. Sesaat, dia terdiam dengan seribu pertanyaan yang berputar di kepalanya.


Belum sempat Shena merespons lagi ucapan lelaki di depannya, tiba-tiba Elvino datang dan meraih pinggang Shena dan merapatkan ke tubuhnya.


Elvino memang sengaja menyusul Shena yang tak kunjung datang ke meja makan. Takut terjadi sesuatu hal yang buruk, akhirnya Elvino memutuskan untuk mencari istrinya ke toilet. Namun, tak disangka dia malah melihat pemandangan yang membuatnya sangat kesal.


“Ah, nggak kok. Tadi aku hanya mengobrol sebentar dengannya. Ya sudah, yuk!” Shena mengajak Elvino dan menggandeng tangan lelaki itu, mengajaknya untuk pergi.


“Sorry, she’s my wife. We’ve to go!” tutur Elvino tegas dengan tatapan matanya yang tak biasa.


“Shena, jangan lupa meneleponku!” teriaknya setelah Elvino dan Shena berbalik hendak pergi.


“What!”


Elvino memberhentikan langkahnya begitu mendengar kalimat pria itu. Dia lalu menghampirinya dengan wajah sinis. “Dengar, jangan harap dan jangan pernah berani macam-macam dengan wanitaku, ambil ini!” Elvino meremas kartu nama tersebut setelah tadi berhasil mendapatkannya dari tangan Shena. Gumpalan kertas itu lantas di buang Elvino ke udara, mengenai dada pria tersebut.

__ADS_1


“So stupid!” cibir sang pria pada Elvino. Namun, Elvino mengabaikan dan berpura tak mendengar ucapan itu. Jika dilayani, mungkin kedua pria itu akan berlanjut baku hantam.


“Sayang, kenapa berani sekali berinteraksi sama orang asing. Aku nggak suka dan itu juga sangat membahayakan. Coba tadi kalau aku nggak datang, bisa-bisa kamu dibawa sama tuh orang!”


“Sayang, tenang dulu. Sepertinya dia baik kok. Tadi, dia cuma bilang kalau dia orang kepercayaan Lucky. Kalau aku mau tau kabarnya, aku disuruh telepon. Makanya aku terima tuh kartu nama, eh malah kamu buang.”


“Lucky? Buat apa kamu mau tau kabarnya? Dia masih di penjara atau sudah bebas pun, apa akan berpengaruh di hidup kita, Sayang? Please, sekarang kita lagi honeymoon, jangan buang waktu buat ngurusin orang lain dan merusak momen kita sekarang.”


“Maaf, Sayang. Udah ya, jangan marah lagi. Tadi aku cuma refleks aja ngrespons karena dia tau aku.”


“Mana bisa aku marah sama kamu, Sayang. Aku hanya khawatir dan tadi ... apa dia memegangmu?” tanya Elvino menelisik.


“Ya nggaklah, dia nggak pegang aku sama sekali kok. Kamu jangan aneh-aneh deh, Sayang!”


Tanpa kata, Elvino langsung menyemprotkan hand sanitizer ke tangan Shena dan mengelapnya dengan tisu basah. Melihat kelakuan Elvino, Shena tampak keheranan.


“Kamu lagi ngapain sih, Sayang?”


“Tangan dia pasti sempet pegang kamu waktu ngasih kartu nama, kan. Sangat menjijikkan! Mulai sekarang, tidak ada yang bisa sembarangan memegangmu, Istriku!”


Shena hanya menggelengkan kepala, tak ada satu kata pun yang busa terucap karena keheranan. Baru kali ini Elvino cemburu hingga berlebihan.


Tiga hari waktu yang cukup untuk mereka berada di Singapura, mengelilingi wisata yang tak hanya satu dua tempat saja. Garden By The Bay Bay, Universal Studios, Merlion Park, dan Singapore Rivers.


Sebagai bos bengkel yang mempunyai beberapa anak cabang, bukan suatu hal yang sulit untuknya saat mengeluarkan budget tak sedikit demi menyenangkan sang istri, berkat kerja kerasnya selama ini dia bisa menjadi seseorang yang sukses dan bisa melakukan apa pun yang dia mau.

__ADS_1


Setelah puas menghabiskan waktu di Singapura, mereka akhirnya memilih untuk menyudahi dan berlanjut ke negara tujuan utama yang Shena inginkan, yaitu Paris. Sebagai seorang wanita, tak heran jika dia menginginkan momen honeymoon yang indah, menciptakan sebuah kenangan indah saat keduanya terikat dalam janji hidup dan cinta.


__ADS_2