Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Lamaran


__ADS_3

Udara malam yang cukup dingin tak menggagalkan pertemuan dua keluarga yang ingin membicarakan hari bahagia. Suasana itu justru terlihat hangat, saat empat orang paruh baya sedang berbincang santai sambil menikmati makanan mereka di meja makan, tepatnya di kediaman Bagaskara.


"Jadi, bagaimana nih baiknya?" tanya Sandra pada kedua pasang suami istri, yakni John dan Emma.


"Besok kita mulai rencana kita, Jeng. Aku udah nggak sabar mendeklarasikan pernikahan Elvino dan Shena. Setelah lamaran, kita akan langsung tentukan hari pernikahan. Jadi nggak usah lama-lama. Aku tidak mau hubungan keduanya di ganggu ular Celia. Iya kan, Pa?" Emma mengalihkan pandangannya kepada suaminya–yang duduk di sebelahnya.


"Papa sih terserah Mama aja lah. Soalnya bagaimanapun pendapat kami para lelaki, wanita tetap pemenangnya. Jika tidak, nanti nggak dapat jatah malam. Ya nggak, Pak Bagas?"


"Ha … ha … ha … betul sekali Pak John. Para wanita kalau sudah ada maunya susah. Kita mah tinggal beres aja daripada riweh. Urusannya sulit kalo ibu negara sudah bertitah," ucap Bagas sambil tertawa.


Semua pun ikut tertawa mendengar celotehan kedua bapak-bapak paruh baya itu.


Bagaskara yang dulunya sempat membenci Elvino pun perlahan mulai menerimanya karena ternyata dia adalah anak seorang pengusaha yang sukses dan juga istrinya yang saling berteman. Hanya saja, sikap gengsi dan tegas pada menantunya masih tetap dia pegang agar selalu terlihat wibawa.


"Nggak nyangka ya, Jeng. Kita akhirnya besanan beneran," ujar Emma.


"Iya, Jeng. Aku juga sama. Ternyata benar ya kalau perkataan adalah doa. Oke mulai besok kita harus siapin banyak hal nih. Aku mau acara lamaran dan pernikahan mereka mewah dan megah, Jeng."


"Ya harus dong, Jeng. Biarkan ini menjadi pernikahan yang paling mengesankan untuk mereka."


Akhirnya setelah acara makan malam selesai, Emma dan John berpamitan untuk pulang. Apalagi malam sudah semakin larut. John memacu mobilnya dan bertolak ke arah rumahnya.


***


Lima hari kemudian, lamaran pun dilaksanakan. Kedua calon pengantin kini berada dalam satu malam yang indah penuh sukacita. Ungkapan rasa cinta satu sama lain kini terungkap di depan tamu undangan. Suasana penuh haru dan bahagia menyelimuti hati Shena dan juga Elvino. Kedua mata saling bertatap, dan berikrar untuk saling menerima dalam hidup mereka ke depannya.

__ADS_1


Meskipun sebenarnya di antara mereka sudah melaksanakan pernikahan, tetapi orang tua Elvino dan Shena menginginkan rangkaian acara lengkap dan sempurna seperti pada umumnya sebelum ke jenjang pernikahan. harapannya, Shena dan Elvino bisa hidup bahagia, serta langgeng hingga masa tua.


Rangkaian acara yang tersusun rapi pun berjalan dengan hikmat. Para tamu undangan yang datang juga ikut serta mendoakan yang terbaik untuk mereka. Apalagi, orang tua Shena dan Elvino juga sangat merestui hubungan itu, hingga tak ada lagi celah cacat dalam dua keluarga tersebut.


Keesokan harinya, hari-hari berjalan seperti biasa. Shena masih terus mengurus butiknya, begitu juga dengan Elvino yang sering menghabiskan waktu di bengkel. Namun, hal tak membuat mereka melupakan jadwal janji dengan orang-orang penting yang terlibat dalam pernikahan mereka nanti.


Hubungan Shena dan Elvino kini semakin baik dan jauh dari perdebatan apa pun. Bahkan sejak lamaran itu berlangsung dan diketahui oleh publik, Shena dan Elvino semakin terlihat mesra di depan umum.


Kini, keduanya sangat sibuk mempersiapkan hari pernikahan yang akan berlangsung beberapa hari lagi. Tak dapat dipungkiri, mereka juga sangat antusias untuk menyiapkan semuanya. Berusaha agar semua tampak sempurna dan tak ada satu pun yang tertinggal di pesta besar nanti.


“Bagaimana, kamu suka?” tanya Elvino pada Shena. Keduanya tengah duduk di sebuah ruang di dalam store perhiasan ternama di kota tersebut.


Shena mengangguk pelan ketika melihat satu set perhiasan dari berlian itu tergeletak di meja. Elvino sudah memesannya jauh-jauh hari lengkap dengan nama di cincinnya. Shena mencoba satu per satu perhiasan, mulai dari kalung, gelang, cincin, dan anting. Rencananya, Elvino akan menjadikannya sebagai mahar nanti. Mengingat saat pernikahannya, El hanya memberikan kalung yang tak seberapa nilainya karena waktu itu hanya berniat sebagai hadiah pernikahannya dengan lelaki lain, juga menjadikannya sebagai kenang-kenangan terakhir kalinya.


Namun, nasib kini berubah 180 derajat. Asa yang diimpikan bukan sekedar harapan, tetapi justru menjadi kenyataan. Shena telah dimilikinya tanpa rencana awal. Dulu seolah untuk bersatu pun seperti mustahil.


Meskipun Shena mampu membelinya sendiri, tetapi selama ini dia memilih untuk berinvestasi masa depan dibanding menghamburkan uang untuk hal yang tidak penting. Dia hanya sayang jika Elvino terlalu banyak membuang uang demi dirinya.


“Dibandingkan uang dan semua perhiasan ini, kamu lebih berharga, Shen. Bahkan lebih berharga dari nyawaku sendiri. Jadi, mas kawin hanya sebagian kecil dari apa yang akan aku berikan nanti setelah kita hidup bersama. Aku akan memberikan semuanya apa yang aku miliki.”


Mata Shena terlihat sayu seketika mendengar ucapan El. Dia tak menyangka jika Elvino sangat mencintainya melebihi dirinya sendiri. Betapa beruntungnya dia mendapatkan lelaki seperti suaminya saat ini.


“Terima kasih, El.” Shena tersenyum bahagia penuh haru.


Ketulusan Elvino sangat bisa dirasakan Shena, hanya saja untuk mengungkapkan perasaan cintanya, Shena masih sedikit malu-malu dan gengsi. Semua hanya butuh waktu untuk beradaptasi.

__ADS_1


Setelah deal dan membayar perhiasan tersebut, Elvino lanjut mengajak Shena untuk fitting baju pernikahan. Walaupun butik Shena juga mampu membuat gaun pernikahan yang mewah, tetapi dia memilih untuk memesannya di butik nomor satu di negara ini. Dia ingin menjadikan pernikahan itu menjadi momen yang indah dan tak terlupakan.


Elvino terus menatap Shena tak berkedip ketika wanitanya itu keluar dari ruang ganti. Tampak gaun putih dengan lace mewah menghiasi kulit putih Shena. Juga taburan butir kristal di setiap sisi menjadikan gaun itu tampak sangat mewah, apalagi jika dipakai malam hari untuk pesta.


“Sangat cantik. Sempurna, Shen. Tapi ....”


“Tapi kenapa, El?” Shena berjalan mendekat ke arah Elvino.


“Bagian itu terlalu terbuka, aku tidak suka. Apakah itu bisa ditutup?” Elvino hanya mengerlingkan mata menghindari pandangannya yang tertuju pada satu titik.


“Itu mana maksud kamu?”


“Depan, Shen. Itu.” Elvino menunjuk dadanya sendiri sebagai isyarat.


“El, please. Design-nya memang seperti ini. Lagi pula aku memakainya hanya di hari pernikahan saja. Bukan setiap hari pakaianku terbuka seperti ini.”


“Nggak. Pokoknya aku nggak suka. Justru nanti di pernikahan akan dilihat banyak orang, Shen. Kamu bakalan jadi pusat perhatian. Aku nggak mau mata liar lelaki lain melihat bagian terpenting kamu.”


“El, kamu sangat berlebihan. Menyebalkan sekali!” Shena menggerutu dengan mengembuskan napas kasar.


“Ya udah deh mbak, atur aja biar suami saya nggak bawel. Eh, maksudnya calon suami.” Shena berkata pada pelayan yang mendampinginya.


“Nah, kalau nurut begitu kan, tambah cantik!” goda Elvino seraya mencubit manja pipi Shena.


"Gombal, ish!" Cebik Shena tetapi dalam hati ia merasa bahagia setengah mati. Namun gengsi untuk mengungkapkannya.

__ADS_1


Tiba-tiba Sandra datang menghampiri keduanya dengan wajah panik.


"Shen ... El ... gawat!" pekik Sandra dengan nada gusar.


__ADS_2