
"Beginikah cara kamu meminta maaf?" tanya Elvino menaikkan dagu Shena secara perlahan dengan satu tangannya.
Shena mendadak gugup dan salah tingkah. Ia tak tahu harus menjawab apa. Seolah otaknya mendadak eror dan tiba-tiba menjadi blank seketika. Kedua netra mereka saling menatap. Perasaan bersalah semakin menyeruak dalam dada Shena.
Entah siapa yang memulai, tetapi kini bibir mereka saling bertautan. Saling membelit dan semakin menuntut. Napas mereka memburu seiring dengan suara decapan yang terdengar begitu syahdu. Elvino menarik pinggang Shena, mengikis jarak antara mereka.
Puas mencium Shena, ciumannya beralih pada leher jenjang milik sang istri. Sebuah ******* lolos dari bibir wanita itu bersamaan dengan suara dering ponsel milik Elvino. Pria itu melipat bibir menggeram kesal karena acara mesra-mesranya terganggu.
“Sebentar,” ucapnya pada Shena kemudian berjalan ke arah sofa mengambil ponselnya yang tak henti-hentinya berdering. Shena menetralkan napasnya yang tersengal-sengal. Ia mengambil air dingin kemasan 250 ml dari dalam kulkas lalu menenggaknya hingga habis.
Elvino memungut ponselnya. Dahinya berkerut bingung melihat nama Samuel tertera di sana. Ia Penasaran, pria itu tidak pernah menelepon jika tidak penting. Biasanya paling hanya mengirimi pesan teks melalui aplikasi hijau jika izin cuti atau bahan yang kurang.
Elvino bergegas menjawab panggilan tersebut.
“Halo. Ada apa, Sam?” tanya Elvino sekilas melirik ke arah Shena yang tersenyum kecut ke arahnya sambil memegangi botol minum.
“Bos, ada pelanggan yang komplain dan minta Bos sendiri yang tangani.”
“Baiklah, suruh tunggu dua puluh menit. Aku ke sana sekarang,” balas Elvino kemudian mematikan sepihak panggilan telepon dari Sam.
“Shen, aku ke bengkel sekarang, ya? Ada hal penting,” tukasnya lalu bergegas mandi dan berganti baju kemudian pergi ke bengkel. Namun, sebelum itu ia menyempatkan untuk berpamitan dengan Shena.
__ADS_1
“Maafin aku ”
“Aku pergi dulu,” ucap Elvino mengangguk lantas mengecup kening Shena singkat lalu bergegas pergi.
Perempuan itu menghela napasnya kasar. Ia masih merasa bersalah atas apa yang ia lakukan semalam. Pikirannya berkecamuk memikirkan hal apa yang harus ia lakukan untuk menebus semua itu. Lama ia berpikir sambil mondar mandir, tangan kanannya menopang dagu dan tangan kiri memeluk tubuh. Namun, tak kunjung ada ide. Ia memejamkan mata dan mengetuk-ngetuk dagu seolah sedang berpikir keras.
Shena membuang napasnya kasar lalu mengempaskan tubuh ke sofa. Tiba-tiba, satu gagasan terlintas saat ia melihat jam dinding berwarna putih yang tergantung sempurna tepat di atas foto pernikahan mereka. Sudut bibirnya terangkat membentuk bulan sabit kemudian bergegas mandi dan dandan secantik mungkin. Selesai mematut diri, ia menyambar sling bag dan pergi bertolak dari apartemen.
Perempuan itu melajukan mobil dengan kecepatan sedang. Sesampainya di sebuah mal, ia memarkirkannya di VIP parking agar tak perlu bersusah payah mencari tempat parkir di antara ratusan mobil pengunjung mal tersebut.
Ia keluar dari mobil kesayangannya lantas berjalan dengan anggun ke sebuah toko jam tangan branded. Ia di sapa oleh pelayan toko dengan ramah. Matanya menelisik setiap jam yang terpampang di etalase.
“Ah, saya mau cari kado buat suami saya. Kira-kira bagus yang mana, ya?”
“Wah, kebetulan sekali ini jam terbaru edisi terbatas dari merk Watch sedang diskon 20% untuk pembelian couple. Kakak mau lihat?”
“Boleh deh, Mbk. Saya mau lihat.”
“Sebentar,” ucap si mbaknya lalu kembali dengan membawa sepasang jam tangan mewah dengan desain elegan.
“Saya mau, Mbak. Tolong sekalian bungkusin ya? Pembayaran via debit bisa?” tanya Shena antusias.
__ADS_1
“Bisa, Kak. Kakak nggak tanya harganya?”
“Saya nggak peduli, Mbak. Toh buat suami saya sendiri.”
“Wah, pasti suaminya seneng banget nih.”
“Mbak bisa aja,”
Setelah membeli jam, Shena bergegas pergi ke bengkel Elvino. Namun, di tengah jalan ia teringat tadi pagi sang suami belum makan pagi. Akhirnya, ia mampir ke sebuah restoran dan memesan beberapa makanan untuk di bungkus. Ia berencana makan di bengkel dengan Elvino.
Setelah itu, Shena kembali memacu mobilnya dalam kecepatan sedang. Sepanjang perjalanan, tak henti-hentinya ia bersenandung mengikuti alunan lagu yang ia mainkan lewat salah satu fitur pada mobilnya.
Sesampainya di depan bengkel Elvino, ia terlebih dahulu membenarkan riasan dan juga polesan lipstiknya agar terlihat semakin cantik. Kemudian, ia keluar menenteng dua buah paper bag berisi jam dan juga makan siang untuk Elvino. Namun, ia terkejut saat melihat pemandangan tak jauh dari tempatnya berdiri. Tampak Elvino sedang di peluk oleh Celia dari belakang. Tiba-tiba dadanya terasa sesak dan sakit seolah ada jarum menghujam ulu hatinya. Ia menjatuhkan tentengannya lantas membekap mulutnya tak percaya.
“Elvino … kamu jahat!” pekik Shena kemudian membalikkan badan. Air matanya jatuh tanpa permisi seiring dengan rasa sakit yang ia rasakan saat ini ketika melihat sang suami di peluk wanita lain. Meskipun Elvino tampak berusaha melepas pelukan itu, tetapi tetap saja Shena merasa sangat sakit hati dan cemburu melihatnya, walaupun Celia sudah berstatus sebagai mantan istri Elvino.
“Shena!” teriak Elvino kemudian melepaskan pelukan Celia yang enggan melepaskannya.
Celia tersenyum miring karena kedatangannya kali ini ternyata memberikan keuntungan tak terduga baginya.
Bersambung...
__ADS_1