
Samuel tersenyum dan mengusap kepala Melva, sebelum akhirnya di menutup pintu mobil itu dalam keadaan mesin yang menyala.
Langkah kakinya mendekat ke arah kedua pria yang sedang berkelahi dengan sengit, Samuel langsung melindungi Elvino dari pukulan Roger dan menyerangnya.
Roger mundur dan tertawa. "Main keroyokan? Cih, banci! Pantesan aja Celia selingkuh ternyata banci."
Elvino geram, dia pun ingin maju dan menyerang tapi ditahan oleh Samuel. "Cepat katakan di mana Shena!"
"Hahahah, katanya Lo suaminya, tapi cari istri ke pria lain?" umpat Roger sembari tertawa. "Kenapa Lo gak sadar, bahwa lo emang gak menarik, buktinya Celia dan Shena selalu kepincut sama gue!"
"Gak usah bawa-bawa Celia! Dan Shena, jangan pernah Lo samakan dia sama Celia!" ucap Elvino emosi. "Ambil dah Celia, bekas gue!"
"Hahahah, terus Lo apa? Lo pikir Shena bukan bekas gue?" ucap Roger yang memanasi Elvino, sebenarnya dia begitu panas, cemburu, dan menyesal udah menyia-nyiakan Shena lebih tepatnya dia nyesel belum mencicipi Shena. "Asal Lo tahu, Shena paling suka jika bagian dada sebelah kanan dimainkannya."
Tentu perkataan Roger membuat Elvino naik pitam dan langsung menyerang Roger secara membabi buta, tidak memperdulikan ucapan Samuel. Dia menghajar abis-abisan Roger saat musuhnya itu berada di bawahnya.
"Bedebah, ini buat Lo yang sudah nyentuh istri gue—Shena!" Alvino melayangkan satu pukulan tepat di wajah Roger.
"Ini untuk mulut Lo yang udah berani tentang Shena!" Satu pukulan kembali mendarat di wajah Roger.
"Dan ini akan melayang jika Lo tidak mau mengatakan keberadaan Shena berada!" Elvino ingin melayangkan pukulannya.
"Ok, ok, ampun! Jujur, gue gak tahu sumpah, gue gak tahu di mana Shena. Besar kemungkinan, dia ada di kota X, hotel Diamond," ucap Roger yang memuntahkan darah apalagi dengan suara yang sudah lemah.
"Apa yang jadi alesan Lo, kalau Shena di sana?" tanya Elvino.
"Setiap gue bertengkar dengan Shena waktu pacaran, pasti dia akan pergi ke sana buat nenangin diri! Selebihnya bukan gue yang menyembunyikan Shena!" ucap Roger semakin melemah menahan sakit bukan main.
__ADS_1
"Ok, kali ini gue akan percaya sama lo! Satu hal lagi, apa Lo yang udah ngerencanain semua ini agar rumah tangga gue ancur hah?"
"Sumpah gue emang masih sayang sama Shena, tapi bukan gue! Gue gak tahu apa yang direncanakan sama Celia!" ucap Roger dengan jujur.
"Bang, sat!" Elvino memukul kembali Roger saat mendengar bahwa laki-laki itu masih mencintai istrinya. "Gue peringatkan sama Lo, jangan pernah sakli pun mengusik kehidupan rumah tangga gue, apalagi mencoba untuk dekati Shena kembali, kalau gak ... gue gak akan segan-segan buat perhitungan sama Lo dan Celia!"
"Jangan, jangan sakiti Celia! Dia lagi hamil anak gue!" mohon Roger di kaki Elvino saat pria itu berdiri dan ingin melangkah pergi.
Elvino kembali berjongkok lalu berkata, "Kalau begitu, tunjukan sikap baik terhadap anak Lo, jangan pernah berani-beraninya mengusik kehidupan gue dan mengganggu Shena! Paham Lo!"
Elvino langsung pergi dari sana usai mengancam Roger agar tidak mengusik kehidupannya, dia pun juga mendapatkan informasi mengenai keberadaan sang istri.
Mobil Elvino gegas melaju kencang menuju lokasi di mana istrinya berada. Setelah menempuh perjalanan cukup lama, lelaki itu akhirnya sampai di lobby Hotel Diamond. Elvino segera menanyakan keberadaan Shena di resepsionis, meski awalnya pihak hotel enggan memberitahunya, tetapi Elvino berhasil meyakinkan bahwa dia adalah suami dari Shena—yang tak lain keponakan dari pemilik hotel tersebut.
Elvino mengayunkan langkahnya menuju pantai, dia menatap pemandangan sekitar, menyapu setiap arah untuk mencari Shena. Gurat sesal tampak jelas di wajah lelaki itu. Hampir dua puluh menit dia mencari dan memperhatikan satu per satu pengunjung di sana, memastikan bahwa istrinya atau bukan. Ada sedikit rasa putus asa dan menyerah, mesti lelah Elvino tetap berkeliling dan terus mencari keberadaan Shena di antara padatnya pengunjung di pantai nan luas itu.
“Shena, Sayang ....” Elvino bergumam dan segera mendekati wanita yang tengah duduk seorang diri itu.
Elvino berdiri di samping kursi panjang Shena, wanita itu masih tak menyadari kehadiran suaminya. Elvino kemudian berjongkok dan menatap sendu wajah Shena, kerinduan pada istrinya sangat mendalam, bercampur dengan rasa bersalah yang begitu besar.
“Sayang,” panggil Elvino lirih.
Shena pun langsung menoleh ke arah kiri, betapa terkejutnya dia melihat sosok Elvino di sana. Shena langsung menegakkan tubuhnya dan melepas kacamata hitam yang menutupi mata indahnya, bahkan kelopak mata itu masih bengkak akibat terlalu sering menangis.
“Kamu ... ngapain ke sini? Siapa yang memberitahumu kalau aku di sini?”
“Aku ke sini untuk mengajakmu pulang, Sayang. Aku sangat merindukanmu.” Bujuknya lembut.
__ADS_1
Shena masih membisu dan sama sekali tak mau menatap lelaki itu.
“Sayang. Maafkaan aku.” Elvino masih dalam posisi berjongkok dan mencoba meraih tangan Shena untuk digenggamnya. “Aku sangat menyesal sudah menuduhmu, aku janji setelah ini aku akan jadi suami yang baik, Sayang.”
Shena beranjak dari tempat duduknya dan mencoba berjalan cepat menghindari Elvino. Dalam hati Shena, dia begitu lega karena akhirnya Elvino mengakui bahwa dia memang tak bersalah. Akan tetapi wanita hanyalah manusia yang terkadang membesarkan rasa gengsinya untuk sekadar memaafkan lelaki yang sudah menyakitinya.
“Shena!” teriak Elvino saat Shena malah pergi meninggalkannya.
Elvino dengan sigap memeluk tubuh wanita itu dari belakang, Shena yang berusaha melepaskan pun akhirnya hanya bisa pasrah karena tenaganya tak sebanding dengan Elvino.
“Aku minta maaf, Sayang. Aku menyesal. Please, maafin aku.” Elvino memohon menahan tangisnya, tak peduli jika semua orang melihatnya, dia hanya ingin Shena kembali ke pelukannya.
“Lepasin, El. Jangan seperti ini!” ujar Shena menghindar.
Elvino pun melepas pelukannya, memberikan ruang untuk Shena. Wanita itu lantas pergi menuju kamar hotel diikuti oleh Elvino yang terus membujuknya untuk mengajak bicara.
“Pulanglah, El. Aku ke sinj hanya ingin mencari ketenangan. Please, jangan ganggu aku. Aku butuh waktu senidiri.”
“Kamu mau ke mana, Sayang? Please kasih aku waktu untuk bicara, kalau perlu hukum akh Semaumu, tapi aku mohon ikutlah denganku. Kita pulang.”
“Aku mau pergi ke suatu tempat, jangan ikuti aku.”
Elvino berdiri mematung, dia menatap kepergian Shena yang menolak kehadirannya. Setidaknya masih ada waktu untuk berbicara lagi dan menunggu suasana hati Shena membaik. Elvino memutuskan untuk menginap di hotel tersebut untuk malam ini. Dia berjalan dengan langkah gontai mengikuti Shena yang ternyata menuju area parkir.
Beberapa saat kemudian, tanpa Elvino sadari Shena sudah hilang dari pandangannya. Dia mengabsen setiap sudut tempat parkir tersebut.
“Elvino ... tolong! Elll!” teriak Shena sebelum dia dimasukkan dalam mobil secara paksa oleh seseorang.
__ADS_1