Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Honeymoon


__ADS_3

Terik matahari perlahan turun ke ufuk barat saat jam menunjukkan pukul dua siang. Shena dan Elvino sudah bersiap untuk check out dari hotel tersebut setelah menginap sehari semalam. Rencananya, malam ini mereka akan pulang dulu ke rumah Emma dan malamnya langsung menuju ke bandara untuk pergi ke Singapura.


“Sudah siap semua, Sayang? Nggak ada yang ketinggalan, kan?” tanya Elvino pada sang istri.


“Nggak ada, cuma momen yang akan menjadi kenangan aja yang tertinggal di sini.” Shena terkekeh sambil menghambur ke pelukan Elvino. Tampaknya wanita itu sudah tak canggung lagi untuk bermanja pada sang suami.


“Ya, tentu saja ini akan menjadi kenangan terindah karena pertama kalinya aku memakanmu dan pertama kali juga kita menyatukan raga.”


Shena tersipu malu. Lelaki itu lantas mencium bibir Shena dengan gemasnya. Keduanya pun lalu pergi meninggalkan hotel tersebut. Melewati koridor yang cukup panjang, Elvino terus mengajak Shena bercanda gurau. Tangannya yang melingkar di pinggang wanita itu, sesekali dia belai mesra. Shena pun kini merasa menjadi satu-satunya wanita yang paling bahagia sedunia. Tidak pernah dia merasakan kebahagiaan seperti ini sebelumnya. Bahkan saat beersama Roger pun, hanya keposesifanlah yang ia terima.


Tiga puluh menit berlalu, Shena dan Elvino akhirnya sampai ke rumah Emma. Mereka disambut hangat oleh wanita paruh baya itu, John yang sedang di kamarnya pun segera turun untuk menemui mereka. Shena mencium kedua tangan mertuanya, juga memeluk Emma. Sambutan hangat yang diberikan keduanya membuat Shena merasa sangat dihargai dan disayangi sebagai menantu.


“Kalian sudah sampai, Sayang?” belum makan, kan? Mama udah siapin makanan banyak banget buat menyambut kalian, anak Mama tercinta.”


“Belum, Tante. Kata El tadi emang Tante udah siapin makan, jadi kita nggak makan di luar.”


“Loh, kok Tante, sih? Mama dong, kan, kamu udah jadi anakku, Shen.” Emma lantas menggandeng tangan Shena untuk diajak ke meja makan. Elvino pun diabaikan olehnyaa.


“Eh iya, maaf, Ma. Shena belum terbiasa.”


“Gitu ya, ma. Sekarang mentang-mentang udah punya anak cewek, terus anaknya yang laki dilupain!” gerutu Elvino yang masih berdiri mematung melihat ibu dan istrinya yang tampak kompak.


“Eh, anak Mama. Maaf-maaf, Mama sepertinya memang sekarang lebih cinta sama Shena daripada sama kamu!” goda Emma yang membuat Elvino menggelengkan kepala.

__ADS_1


John yang juga berada di sana pun tampak memancarkan rasa bahagianya melihat keluarganya berkumpul. Apalagi melihat Elvino bahagia setelah sebelumnya hidupnya tak karuan karena Celia.


“Ayo, El. Kita langsung makan aja. Papa udah laper banget.”


Di meja makan, banyak tersaji makanan rumahan yang sengaja dimasak Emma dan asisten rumah tangganya demi menyambut anak dan menantunya.


“Gimana malam pertama kalian? Sukses, kan?” tanya Emma setelah menelan makanan yang baru saja di kunyahnya.


“Ma! Can you please, stop it!” El begitu terkejut mendengar pertanyaan sang mama yang mengarah ke sana.


Shena pun tersedak dan terbatuk. Tangannya terulur meraih gelas di dekat piringnya lalu meminumnya. Betapa malunya dia yang mendapat pertanyaan privasi yang dilontarkan sang mertua.


“See! Istriku sampai tersedak karena Mama. Next time jangan bahas lagi soal begituan, Ma. Dia pasti malu!” Elvino mengelus punggung Shena yang duduk di sebelahnya.


John yang sejak tadi terdiam pun akhirnya angkat bicara karena melihat sang istri sedari tadi tak henti bicara. “Ma, anak itu pemberian Tuhan, mana bisa begitu, memaksa orang buat cepet hamil. Aneh! Sudahlah sebaiknya makan dulu, baru nanti diteruskan ngobrolnya.”


“Nah tuh, dengerin Papa tuh, Ma!” tukas Elvino seraya mengembuskan napas sedikit kasar.


Setelah selesai makan, Shena dan Emma berkeliling di taman belakang rumah, pemandangan sore hari tampak indah, udaranya juga begitu segar, aroma pepohonan dan tanah yang basah bekas siraman air begitu menyejukkan dan sangat menenangkan. Shena dan Emma duduk di sebuah kursi panjang yang menghadap kolam renang. Terlihat Emma sangat menyukai Shena sehingga setiap tutur katanya selalu direspons dengan senyuman ramah dan ceria.


“Kapan kalian akan berangkat ke singapura, Sayang?”


“Nanti malam, Ma. Tiketnya jam sembilan. Sampai sana kurang lebih hampir dua jam, sih. Jadi biar bisa langsung istirahat.”

__ADS_1


“Pokoknya, mama doain semoga kalian bahagia terus, ya, langgeng. Kalau ada masalah, kalian harus menyelesaikan dengan kepala dingin, bicara baik-baik. Jangan menjauh satu sama lain. Komunikasi itu penting, Sayang, Mama nggak mau nasib buruk masa lalu Elvino kembali terjadi, amit-amit. Mama mau, kamu yang terakhir buat anak Mama. Kamu tahu, kan. Elvino sangat mencintai kamu melebihi dirinya sendiri. Kamu juga pasti mencintai Elvino, kan? Mama bisa lihat dari sorot mata kamu sejak awal kita bertemu.”


“Ya, tentu saja, Ma. Aku sangat mencintainya. Dia lelaki yang baik dan selalu memperlakukanku seperti seorang ratu, semoga selamanya dan seterusnya akan terus begini."


Tak terasa obrolan mereka berlangsung selama hampir dua jam, senja mulai menampakkan cahayanya. Semburat jingga terlihat sangat indah, menandakan sebentar lagi akan berganti malam. Shena dan Emma memutuskan untuk masuk ke dalam. Kedua wanita itu melangkahkan kakinya ke tangga. Menaiki satu per satu anak tangga dengan santai sembari menyelesaikan obrolan mereka yang masih tersisa.


“Ini, kamar Elvino, Sayang. Masuklah, Elvino mungkin sudah di dalam. Mama sudah menyiapkan baju baru buat kamu, semua kebutuhan terpenting kamu, sudah diantar sopir kamu ke sini, jadi, kamu nggak perlu lagi mengambilnya.” Emma mengantarkan Shena menuju kamar Elvino. Keduanya tengah berdiri di ambang pintu.


“Terima kasih banget, Ma. Mama sangat perhatian.” Shena memeluk Emma sebagai tanda terima kasihnya.


Shena pun masuk ke dalam kamar dan mulai melihat sekitar, Elvino yang tengah merebahkan tubuhnya di sofa pun langsung membenarkan posisinya menjadi duduk. “Ngobrolin apa, Sayang, sama Mama? Lama banget nggak naik-naik, aku kesepian tau.”


“Lebay banget sih, kan cuma bentar, Mama seru deh.”


“Duduk sini!” Elvino menepuk sofa sebelahnya agar Shena duduk.


“Banyaklah, urusan wanita. Kamu nggak perlu tahu, Sayang.” Shena membelai lembut pipi suaminya.  


“Jangan mulai menggodaku, aku tidak segan-segan untuk memakanmu lagi!” Elvino menahan senyuman penuh arti pada sang istri.


Puas bermanja-manja, Elvino dan Shena pun merapikan barang ang hendak dibawa ke negeri jiran untuk berbulan madu.


Semua yang disiapkan benar-benar matang karena mereka akan pergi untuk waktu yang cukup lama. Elvino sudah merencanakan sesuai kesepakatan Shena juga, mereka juga akan pergi ke Paris setelah tiga hari menghabiskan waktu di Singapura. Paris adalah kota yang dari dulu sangat ingin didatangi oleh Shena. Pemandangan yang menggambarkan keromantisan itu sangat diimpikan setiap wanita untuk pergi bersama pasangannya, menghabiskan waktu berdua tanpa ada gangguan.

__ADS_1


Empat jam telah berlalu, kini mereka sudah siap berangkat ke bandara dan berpamitan pada Emma dan John. Dua koper besar dimasukkan ke dalam bagasi mobil oleh sopir. Mereka menempuh perjalanan sekitar tiga puluh menit untuk ke bandara.


__ADS_2