
"Cukup El, sudah ku bilang aku tidak selingkuh. Mau sampai kapan kamu terus seperti ini? Itu artinya cemburu dan emosimu lebih besar dari cinta yang pernah kamu katakan kepadaku," tandas Shena lalu bulir bening membasahinya. Namun, ia berusaha untuk tegar. Ia meniup-niup matanya sendiri kemudian mengatur napasnya.
Elvino terdiam dan tersentil dengan ucapan Shena. Dalam hati sebenarnya ia masih sayang dan tidak percaya jika Shena akan seperti Celia. Namun, egonya menolak keras pemikiran seperti itu. Terlebih, buktinya sangat kuat. Video yang Celia kirim begitu meyakinkan dirinya.
"Terserah kamu mau percaya atau nggak sama aku. Yang jelas aku tidak merasa melakukannya maka aku tidak peduli apapun. Suatu saat jika semuanya terbongkar, jangan salahkan jika aku sudah muak dan enggan. Sekarang biarkan aku melakukan tugasku sebagai istri," tukas Shena.
"Aku tidak bernafsu untuk menggaulimu."
"Otakmu mesum juga ya? Apa karena lama tidak di jatah jadi merajuk seperti anak remaja labil seperti ini. Maksudku merawatmu yang sakit ini, bodoh!" umpat Shena.
"Kau mengataiku bodoh?" Elvino membalikkan badan menatap Shena tak percaya.
"Kau memang bodoh. Cemburu buta nggak jelas. Tanpa mau mendengarkan penjelasan dan hanya percaya orang lain dan bukan percaya istrimu sendiri," sarkas Shena.
“Duduklah, aku akan menyuapimu.” Shena membukakan bubur dan menyiapkan minuman hangat untuk El.
Wajah yang biasanya tersenyum dan ceria penuh tawa, kini Shena melihatnya hanya seperti lelaki malang yang menyedihkan. Dia mengabaikan penampilannya, bahkan memotong jambang yang sudah mulai melebat pun ia enggan.
Shena menatap kasihan, tetapi dalam hatinya masih dihantui rasa sakit yang Elvino tuduhkan. Sebagai seorang istri, dia hanya ingin berusaha melaksanakan kewajibannya untuk merawat suaminya yang sedang tak berdaya.
“El, bangun dulu. Aku bawain bubur.” Shena kembali mengucap setelah beberapa detik Elvino mengabaikannya dan membuang muka terhadap wanita itu.
__ADS_1
Elvino membalikkan badannya yang tadinya menyembunyikan wajah dii senderan sofa. Shena duduk di ujung sofa yang sama sembari memegang lembut kaki Elvino agar bangun.
Lelaki itu pun beringsut. “Seharusnya kamu tidak perlu repot-repot ke sini. Waktumu pasti terbuang sia-sia.”
“Elvino duduk tanpa menatap Shena. Wajahnya pucat, matanya tampak sayu tak bercahaya. Bahkan rambutnya sangat berantakan. Laki-laki itu benar-benar mengabaikan penampilannya.
“Buka mulut dan cepatlah makan, biar aku bisa segera pergi dari sini jika kamu nggak menginginkan kehadiranku.” Shena menyuapkan satu sendok bubur ke mulut Elvino.
Mau tidak mau, lelaki itu pun menurut. Berdebat pun seolah tak ada tenaga. Suap demi suap, bubur itu habis tak bersisa.
Walaupun keduanya sama-sama stres memikirkan masalah di antara mereka, setidaknya Shena masih bisa mengatur waktunya untuk beristirahat jika dia kecepekan dan ada Melva yang setia menemaninya. berbeda dengan Elvino yang memang bersikap sok kuat dan mampu menggarap semua kerajaannya hingga nonstop. Hal itu memang dilakukannya untuk mengalihkan pikirannya yang tak mau pusing.
“Terima kasih. Kamu boleh pergi.”
Shena hanya duduk diam di sofa memperhatikan Elvino bahkan dia tak menjawab ucapan lelaki itu.
Elvino itu pergi ke kamar mandi dengan langkah yang gontai. Shena merasa sangat iba dan kasihan melihat suaminya yang lemah. Buliran air mata tak terasa menetes begitu saja.
Elvino keluar dari kamar mandi dan masih melihat Shena di sana. “Kenapa belum pergi?”
“Aku tidak akan pergi sebelum kamu ikut aku pulang.” Shena berucap dengan tegas.
“Aku tidak akan ke mana-mana, apalagi ke apartemen, pulanglah sendirian. Kamu tidak perlu mengkhawatirkan aku. Urus aja urusanmu sendiri, kamu pasti lebih sibuk.” Elvino duduk di sofa. Sedetik pun dia tidak menatap Sheba sama sekali.
“Bengkel terlalu ramai orang, gimana kamu bisa istirahat di sini,” ucap Shena dengan nada yang sedikit tinggi agar Elvino mau mendengarkannya.
“Jangan paksa aku!” tukas Elvino.
“Oke, kalau kamu nggak mau pulang, aku akan telepon Mama biar dia menjemputmu. Sekalian biar mereka tau masalah kita. Itu, kan, yang kamu mau?”
__ADS_1
Elvino mendengus kesal tak dapat berucap. Dia menatap kepergian Shena keluar dari ruangannya.
Shena keluar dan memanggil Sam untuk membantunya mengantar ke mobil.
Sam pun langsung datang dan masuk ke ruangan Elvino, dia mencoba meraih tangan sahabatnya itu. “Ayo, Bos! Pelan-pelan.”
“Kamu mau ngapain sih, Sam?”
“Ya, bantuin jalanlah!”
“Kamu pikir aku lumpuh, aku bisa jalan sendiri. Sana pergi!” Elvino berdiri dan melangkahkan kakinya. Meskipun kepalanya sangar pusing dan tenaganya lemah, dia masih berusaha tegap dan tidak mau terlihat lemah di depan Shena.
Mau tidak mau, akhirnya Elvino mau menuruti perkataan Shena untuk pulang ke apartemen. Dia tidak mau ancaman Shena benar-benar akan dilakukannya.
Matahari tenggelam berganti gelapnya malam, diterangi bulan yang bertabur bintang. Shena menatap langit seorang diri. Dia berdiri di balkon sambil memegang satu gelas coklat panas di tangannya. Sesekali dia menatap Elvino di dalam kamar yang sedang tertidur pulas.
Pikirannya masih saja kalut tentang masalah tanpa penyelesaian selama hampir sepekan. Untuk beberapa saat, Shena melamun, tak terasa angin malam semakin dingin menusuk pori-pori kulitnya yang begitu lembut. Dia pun menutup pintu balkon dan berjalan ke tepi ranjang untuk mengecek keadaan Elvino.
Shena menempelkan punggung tangannya ke dahi Elvino yang ternyata semakin panas. Shena mengambil termometer, dia sontak terkejut karena suhu di angka 39°C.
“Astaga, tinggi banget!” Shena panik dan langsung menghubungi dokter langganannya yang bisa datang ke rumah.
“Halo, Dok, bis ke apartemen sekarang? Suami saya demam tinggi.”
“Mohon maaf, untuk sekarang saya masih di luar kota, Bu. Besok pagi saya akan datang. Atau bisa memanggil dokter lain jika keadaan memang urgent.”
“Baik, akan saya coba menghubungi dokter lain, terima kasih, Dok.”
Shena lalu menghubungi beberapa dokter dan rumah sakit tertentu. Namun, ada beberapa yang tidak mengangkat teleponnya karena jam istirahat—sudah menunjukkan pukul 1 dini hari.
__ADS_1
Seberapa keras dia mencari-cari nomor telepon rumah sakit dan dokter yang berjaga, baginya itu hanya akan membuang waktunya sia-sia. Akhirnya dia memutuskan untuk mengompres Elvino di setiap lekuk tubuhnya, dia menurunkan suhu AC, juga menjauhkan selimut tebal dari tubuhnya.
Shena menggenggam erat tangan Elvino, sesekali menciumnya. Wanita itu tak henti mengusap lembut pipi Elvino, seolah dia rela jika demam itu berpindah ke tubuhnya karena tidak mau melihat Elvino menderita.