
Hari semakin larut. Namun, Elvino masih berkutat dengan mobil dan peralatannya. Samuel memiliki firasat buruk melihat kelakuan Elvino yang tak seperti biasanya. Akan tetapi, ia enggan bertanya daripada menjadi sasaran pelampiasan atau hal lainnya.
Samuel berpamitan dan meninggalkan sang bos sekaligus sahabatnya itu sendirian. Sedangkan Elvino hanya mendeham menanggapi tanpa berniat membalasnya dengan kata-kata mutiara seperti biasanya.
Setelah Samuel pergi, Elvino mengunci pintu bengkel kemudian melanjutkan kembali pekerjaan yang belum selesai. Sebenarnya itu bisa dikerjakan keesokan harinya. Namun, demi menyamarkan emosi yang tengah membuncah dalam dadanya ia memilih untuk menyibukkan diri hingga tanpa sadar ia melupakan janjinya untuk menjemput Shena.
Sementara itu di tempat lain, Shena sedang sibuk berkutat dengan kertas gambar, mendesain sebuah gaun untuk edisi tahun baru. Tiba-tiba, suara ketukan pintu mengagetkan dirinya. Senyumnya semringah, ia mengira bahwa itu Elvino. Namun, harapannya pupus saat mengetahui ternyata orang tersebut adalah Melva yang ingin berpamitan hendak pulang.
"Shen, aku pulang dulu, ya? Udah malem banget ini. Kamu nggak pulang? Udah jam sepuluh loh?" tanya Melva melirik ke arah jam dinding.
"Ehm, nanti deh Mel. Suamiku katanya mau jemput. Aku nungguin dia aja. Soalnya tadi bilang nggak boleh pulang sebelum dia jemput. Takutnya aku pulang dia malah lagi jalan ke sini 'kan? Oh ya aku sampai lupa belum kirim pesan ke dia nanyain udah makan apa belum?" ucap Shena lalu mengambil ponsel yang berada di atas meja kerjanya.
"Astaga, pamer terooos, pameeer!" cibir Melva memutar bola matanya malas. "Ya udah aku pulang, ya? Baik-baik di sini kamu. Berani sendirian, 'kan?"
"Hem," balas Shena tapi matanya memandang benda pipih di tangan.
Melva mengembuskan napas lalu membalikkan badan. Ia mengayunkan kaki meninggalkan Shena yang tengah di mabuk cinta.
Sepeninggal Melva, Shena mulai gelisah. Pasalnya, sejak siang tak ada pesan satu pun dari sang suami. Bahkan pesannya hanya dibaca tanpa dibalas. Ia mengetuk-ngetuk jarinya di meja. Bibirnya mengatup dan mata terpejam.
Shena masih berusaha berpikir positif lalu jari-jari lentiknya berusaha menghubungi Samuel menanyakan perihal kegiatan Elvino hari ini. Hanya hitungan detik, Samuel membalas pesannya dan bilang bahwa hari ini memang sangat padat dan banyak mobil yang harus di servis.
Shena meletakkan ponselnya. "Mungkin dia masih sibuk, jadi sambil nunggu dia mending aku lanjutkan lagi gambarnya aah. Daripada jenuh yakan?" monolog Shena pada diri sendiri.
Setelah itu, Shena kembali fokus dengan dunianya. Lama-kelamaan rasa kantuk mulai menyelimuti dirinya. Shena ketiduran di meja kerjanya tanpa menyelesaikan desainnya.
Hingga sebuah deringan ponsel mengagetkan dirinya. Ia pikir itu dari Elvino hingga buru-buru ia menjawab telepon tanpa melihat siapa peneleponnya. Rupanya, itu hanyalah security yang menanyakan perihal butiknya yang masih menyala. Security tersebut memastikan ada orang yang masih di dalam.
__ADS_1
Selesai mematikan telepon, Shena kembali mengecek ponselnya berharap ada pesan dari Elvino. Nyatanya, satu pun tak ada pesan muncul dari pria itu.
Lelah menunggu, Shena berusaha menelpon Elvino. Namun, hingga panggilan ke dua puluh, sang suami tak juga mengangkatnya. Kini hatinya mulai gelisah memikirkan setiap hal kemungkinan yang terjadi. Pikirannya menjadi berkecamuk tak menentu.
Ia berjalan mondar-mandir sambil memeluk tubuh.
"Tumben banget Elvino nggak angkat telepon aku, dia kenapa, ya? Apa lagi di jalan?" tanyanya pada diri sendiri.
Akhirnya, Shena memutuskan untuk menonton film di ponselnya sambil menunggu kedatangan Elvino. Namun, hingga pukul dua pagi, pria itu tak kunjung datang menjemputnya.
"Apa mungkin dia lupa? Eh tapi nggak mungkin. Selama aku kenal dia, Elvino adalah sosok yang bertanggung jawab dan tak pernah mengingkari janjinya. Apa sebaiknya kususul aja, ya? Tapi, bahaya naik taksi online pagi buta gini. Bisa-bisa nanti diculik om-om terus dijual gimana? Ah, ya sudahlah. Mungkin Elvino kecapekan atau ketiduran kali ya? Hem, dia pasti capek banget hari ini. Aku tidur di butik aja deh kalo gitu. Huh," desah Shena.
"Woi!" teriak Melva membangunkan Shena yang tengah tertidur lelap di sofa ruang kerja wanita itu. Kini, matahari sudah terang benderang.
Sontak hal tersebut membuat si empu terlonjak kaget dan langsung terduduk saat mendengar suara lengkingan Melva yang menggelegar di ruangan miliknya.
"Astaga Melva! Ganggu aja sih? Lagi nyenyak banget nih mimpi ***-*** sama Elvino malah kamu kagetin? Emang sepupu nggak ada akhlak kamu, ya?" Omel Shena memegang kepalanya yang berdenyut pusing.
Shena sontak langsung berdiri dan mencari ponselnya. Pandangan Melva bergerak mengikuti pergerakan Shena yang tampak gelisah seperti mencari sesuatu.
"Nyari apa sih?" tanya Melva berkerut bingung.
Akan tetapi, Shena tak menjawab dan sibuk membolak balikan bantal sofa hingga berjongkok ke dan memiringkan kepalanya.
"Aha ketemu!" Seru Shena.
"Oalah, handphone to? Kirain nyari apaan, Shen. Eh bentar- bentar bukannya semalem kau bilang mau di jemput Elvino, ya? Nggak jadi?" tanya Melva penasaran.
__ADS_1
Mendengar pertanyaan dari Melva, raut wajah Shena berubah menjadi murung. Ia menggelengkan kepalanya pelan mewakili jawaban dari pertanyaan Melva.
"Hah! Kamu serius, Shen?" teriak Melva membuat telinga Shena berdengung.
"Bisa nggak sih kamu pelanin suara kamu, Mel? Lama-lama mesti ke THT ini kalo dengerin teriakkan kamu terus," dengus Shena lalu membuka ponsel miliknya dengan password yang sangat ia hafal.
"Ini aneh, Shen. Aneh banget!" ucap Melva berapi-api.
Tanpa memedulikan Melva, Shena menyambar tas slempang miliknya lalu bergegas keluar ruangan.
"Mau ke mana woi!" Seru Melva.
"Mau ke bengkel nemuin Elvino. Aku mulai khawatir, Mel. Bener kata kamu. Ini aneh. Titip butik, ya? Bye," pamit Shena.
Melva hanya menggelengkan kepalanya heran.
"Firasatku mengatakan akan terjadi hal buruk. Huh, entahlah semoga ini hanya feeling," ucap Melva pada dirinya sendiri lalu mulai bekerja.
Shena pergi menggunakan taksi online. Sepanjang perjalanan dia merasa gelisah. Otaknya terus berperang dengan batinnya. Namun, ia tetap berusaha untuk berpikir positif.
Butuh waktu lebih dari setengah jam untuk sampai di bengkel Elvino karena jalanan cukup padat di pagi hari ini. Hal ini membuat perasaan Shena semakin tak menentu.
Sampai di bengkel, Shena segera membayar taksi tersebut setelah itu berjalan setengah berlari masuk ke dalam bengkel. Beberapa karyawan yang menyapanya tak ia gubris. Di pikiran Shena hanya ingin bertemu Elvino. Matanya memindai ke seluruh area bengkel mencari sosok Elvino yang hilang tanpa kabar semalam.
"Elvino di mana, Sam?" tanya Shena saat bertemu Samuel yang baru saja mengganti pakaiannya dengan warepack.
Dahi Samuel berkerut, firasatnya tentang Elvino semakin kuat saat mendengar pertanyaan Shena barusan. Ia yakin pasti ada yang tidak beres dengan hubungan mereka berdua kemarin.
__ADS_1
"Sam! Denger nggak, sih?" panggil Shena.
"Ah … eh iya di ruangannya, Bos." Samuel menjawab sedikit tergagap karena lamunannya buyar dan terkejut.