
“Astaga, Shena!” teriaknya. Mata lelaki itu membulat sempurna, jantungnya kian memburu mengkhawatirkan keadaan sang istri.
Elvino berlari menuju mobilnya dan mengikuti mobil penculik tersebut. “Sialann! Brengsekk! Siapa mereka, berani-beraninya menculik istriku! Arrghhh!”
Di dalam mobil, Shena terus berontak. Bahkan kedua lelaki tersebut tak segan-segan menampar Shena menyuruhnya untuk diam. Mereka lantas membius wanita itu hingga kesadarannya hilang.
Mobil jeep hitam berhenti di sebuah rumah tua, mereka membawa masuk Shena dan mengunci pintu tersebut secepat kilat. Disusul Elvino di belakangnya, tetapi dia kesulitan untuk masuk k rumah tua tersebut.
“Shena, sabar sebentar ya, Sayang,” gumam Elvino dengan kekhawatiran yang luar biasa.
Lelaki itu kemudian mengelilingi rumah tersebut mencari celah untuk masuk. Namun saat dirinya tak menemukan apa pun, dia memutuskan untuk mendobrak pintu itu dengan sekuat tenaga. Meski beberapa kali gagal, tetapi dobrakan ketiga dia berhasil merusak pintu tersebut.
“Mana istriku, berani kalian menyentuh atau menyakitinya, aku pastikan kalian akan menyesal!” Wajah penuh amarah dan emosi Elvino sama sekali tak berpengarih pada lawan. “Brengsekk! Apa tujuan kalian menculik istriku, hah!” Elvino berteriak, menghadapi lima orang yang ada di dalam sana.
“Sebaiknya lo menyerah dan jangan harap istri lo selamat, hahaha!” tawa seorang lelaki dengan tubuh besar berpakaian serba hitam.
“Kurang ajar!” Elvino maju dan langsung memukuli satu per satu orang-orang di sana. Sekuat tenaga Elvino terus menyerang mereka tanpa ampun, beberapa ada yang terkapar tak berdaya. Namun, beberapa saat kemudian Elvino melemah karena dihajar secara keroyokan.
Pukulan demi pukulan Elvino terima, hingga kelopak matanya hampir tertutup karena lemas. Sekilas, bayangan Shena tampak di pelupuk mata tengah ketakutan dan meminta tolong. Dia belum tahu di mana mereka menyembunyikan istrinya itu, tetapi besar kemungkinan ada di sebuah ruangan di dalam rumah tua tersebut
“Elvino!” suara Shena berteriak memanggil lelaki itu, sambil menggedor pintu dari dalam kamar yang terletak di sudut ruang.
“Shena, jangan takut, Sayang!” Elvino kembali bangkit kemudian menyerang dengan membabi buta dua orang yang tersisa. Setelah berhasil mengalahkan dan keduanya tergeletak, Elvino gegas menyeret langkah beratnya menuju kamar di mana Shena berada.
“Astaga, El. Kamu terluka, Sayang,” ucap Shena seraya menangkup wajah Elvino, memperhatikan wajah lelaki itu, dahi dan bibirnya berdarah pun tak luput dari luka dan darah. Tetesan air mata tak henti mengalir dari manik indah wanita itu.
__ADS_1
“Jangan hiraukan aku, kamu nggak pa-pa, kan?” tanya Elvino yang juga menangkup wajah sang istri. “Pipi kamu kenapa memar? Apa yang mereka lakukan, Sayang?”
Shena memeluk tubuh Elvino, rasa nyeri di sekujur tubuh menjalar begitu cepat membuat Elvino semakin melemah. Akan tetapi, lelaki itu mencoba kuat dan terus berdiri tegar untuk memeluk erat sang istri dan menyelamatkannya, membawanya pergi ke tempat yang aman.
Shena mengurai pelukannya, tiba-tiba saja di belakang Elvino ada seseorang yang mendekat membawa benda tajam.
“El, awas!” teriak Shena sembari mendorong Elvino untuk menghindari serangan mendadak agar tak mengenai suaminya .
Sontak, Shena merintih kesakitan ketika sebilah pisau menggores cukup dalam di lengannya. Seharusnya pisau tersebut menancap di punggung belakang Elvino, tetapi justru Shenalah yang terkena. Beruntung, pisau itu melesat ke lengan, jika Shena tepat berada di depan pisau itu, makan sudah dipastikan akan menancap ke dada dan itu akan sangat berbahaya untuk nyawanya.
“SHENA!” seru Elvino lalu memeluk erat sang istri, dia melepas kaosnya dan menutup luka Shena yang terus mengeluarkan darah. “Harusnya kamu tidak perlu melakukan ini, Sayang. Kenapa kamu yang terluka? Harusnya aku!”
Elvino menggeram marah. Ia menengok ke arah seorang pria pelaku penusukan terhadap Shena. Ia meletakkan Shena perlahan di tanah, kemudian menyerang pria itu membabi buta. Matanya penuh dengan kilatan amarah yang membuncah karena orang yang dia cintai dilukai di depan matanya sendiri.
Melihat lawannya sudah lemah, Elvino bergegas menghampiri kembali Shena yang sudah mulai terkulai lemas dan memejamkan mata menahan sakit di lengannya.
“Sayang ku mohon bertahanlah,” ucap Elvino.
Tanpa ia sadari, saat Elvino sudah menggendong Shena ala bridal style untuk membawanya ke rumah sakit, pria pelaku penusukan itu, tiba-tiba bangkit dan bersiap memukul Elvino dengan sebuah batu yang tergeletak di sampingnya.
Akan tetapi, sebelum batu itu terlempar mengenai Elvino, terdengar suara lantang yang mengejutkan dari arah pintu.
“Jangan bergerak!” Terlihat tiga polisi tengah membawa senjata pistol dan mengarahkan ke arah mereka.
Sontak hal tersebut membuat pria di belakang Elvino menghentikan tindakannya. Ia menjatuhkan batu yang akan ia gunakan untuk memukul kepala Elvino ke lantai.
__ADS_1
Elvino menoleh ke belakang dan mengembuskan napas lega karena para polisi datang tepat waktu.
“Tangkap dia, Pak. Dia telah mencelakai istri saya. Tapi, mohon maaf saya harus membawa istri saya ke rumah sakit sekarang.”
“Baik, Pak Elvino. Untuk selanjutnya kami akan hubungi Bapak. Terima kasih atas laporannya.”
Polisi tersebut datang karena Elvino sudah antisipasi dengan sesuatu yang akan terjadi. Di perjalanan dia menelepon dan memberikan lokasi aktif melalui pesan. Namun, kehadiran polisi tersebut rupanya memang agak terlambat, tetapi setidaknya para penjahat tersebut sudah berhasil diringkus dan diamankan.
Elvino bergegas berjalan setengah berlari membawa Shena. Ia sangat panik dan juga khawatir dengan keadaan Shena.
“Sayang ... sakit,” rintih Shena seraya memejamkan matanya. Darahnya mulai keluar banyak mengalir pada pisau yang tertancap di lengannya.
“Sshhh, sakit El.” Shena terus memegangi lengannya yang penuh darah.
“Bersabarlah, Sayang. Tahan sedikit ya,” ucap Elvino, ia langsung menggendong Shena dan membawanya ke mobil.
Deraian air mata tak kunjung berhenti saat Elvino tengah menyetir dan sesekali melihat istrinya yang terus menangis, meringis kesakitan. Hatinya seolah tersayat karena Shena mengorbankan dirinya demi keselamatan Elvino. Tangan kiri lelaki itu terus menggenggam dan menguatkan Shena agar bertahan.
Sesampainya di rumah sakit, Shena langsung ditangani di IGD, luka sobek di lengannya cukup dalam sehingga harus dijahit. Elvino yang menunggunya di luar pun tak henti berdoa dan mengharapkan keselamatan sang istri.
“Dokter, tolong sekalian cek darah istri saya. Saya takut mereka sudah memasukkan racun atau apa pun itu ke tubuhnya.”
“Baik, Pak. Mohon tunggu di luar, kami akan segera menangani istri Anda.” Dokter itu pun langsung masuk k dalam ruang IGD bersama beberapa perawat.
Selang beberapa saat kemudian, seorang polisi datang menemui Elvino dan memberikan laporan hasil pemeriksaan. Tersangka yang sudah diamankan langsung mengaku ketika ditanyai motif dan siapa orang dibalik kejadian ini.
__ADS_1