Pesona Lelaki Beristri

Pesona Lelaki Beristri
Percantik Diri


__ADS_3

Suasana di dalam ruangan spa salon begitu tenang dan nyaman efek aroma terapi guna merilekskan otot-otot seluruh tubuh, dua pelayan bertugas memijat tubuh wanita yang akan menjadi pengantin beberapa hari lagi, sedangkan satu pelayan bertugas memijat wajahnya.


Ya, itulah Shena. Wanita berparas cantik tengah sibuk memanjakan tubuh mempersiapkan diri untuk orang terkasih. Tidak tanggung-tanggung, bahkan Elvino sendiri yang menyewa tempat spa salon tersebut untuk mempermudah Shena mempercantik dirinya.


"Shen, serius ini gue juga boleh ikutan?" tanya Melva yang sama-sama menikmati tubuhnya mendapatkan pijatan lembut.


"Aduh Mel, kamu bawel banget ... tinggal nikmatin aja apa susahnya sih," ucap Shena ketika wajahnya kini mendapatkan olesan lembut.


"Ya, aku gak enak aja gitu sama El," tutur Melva.


"Mel—"


"Maaf, sebaiknya jangan bicara dulu ya, Mbak!" larang karyawan spa tersebut ketika wajah Shena sudah berhasil dioleskan masker.


Shena pun hanya bisa menurut dan terdiam saat ketiga pelayan sibuk mengoleskan lulur keseluruh tubuhnya, bahkan dia merasakan rileks saat jemari lentik para pelayanan spa tersebut memijat terus menerus. Membuat Shena dan Melva semakin terhanyut dalam sensasi yang mereka rasakan.


Puas melakukan perawatan tubuh dari atas kepala sampai ke kaki selama hampir seharian penuh, kini Shena dan Melva kembali pulang ke rumah dengan tubuh yang fresh dan kinclong. Walaupun Melva juga mendapatkan perawatan tentu saja berbeda dengan perawatan Shena yang akan menjadi pengantin beberapa hari lagi.


"Shen, aku yakin pas Elvino buka di malam pertama dia akan semakin tergila-gila karena mendapatkan durian montong!" celetuk Melva saat dia membawa mobil mengantar calon pengantin pulang ke rumah.


"Apaan sih, Mel! Kamu tuh kayanya demen banget bicarain ituan mulu, nggak sabar pengen juga, ya? Makanya buruan cari pasangan, terus minta deh dihalalin." Shena terus berbicara saat tangannya baru selesai membalas pesan dari Elvino. "Samuel juga oke, udah ganteng, rajin, badannya juga lumayan tuh, dan pastinya oke punya!"


"Apanya yang oke punya?" tanya Melva penasaran.


"Tabungannya!" tawa Shena yang begitu garing menurut Melva, karena sahabatnya itu sama sekali tidak menyukai sosok Samuel dari ujung kaki sampai kepala.


"Iiyyuuh, gak level!" ucap Melva yang masih fokus menyetir.

__ADS_1


"Jangan seperti itu, nanti ketula loh ... benci jadi cinta." Shena tertawa membayangkan Melva mengejar-ngejar Samuel.


"Ih, apaain sih, Shen. Gak lucu ah, nih ya ... kalau pun laki-laki cuma Samuel aku juga bakalan—"


"Bakalan apa? Mau?" tanya Shena menggoda Melva dengan cengiran yang dipamerkan.


"Ah, Shena ah ...." rajuk Melva yang semakin membuat Shena tertawa.


Mobil pun sampai dihalaman parkir rumah Shena, karena jam terus bergulir Melva pun memutuskan untuk pergi dari sana. Dia akan bersiap berperang dengan Samuel besok pagi untuk mengecek apa saja yang kurang dalam acara tersebut.


Ya, karena Melva bukan hanya mengecek kateringan yang dipesan oleh keluarga Samuel tapi dia juga ditugaskan untuk mengecek semua susunan acara dari awal sampai akhir, termasuk dekorasi dan persiapan lainnya.


"Dah buruan sana turun, masuk terus bobo yang nyenyak!" saran Melva dari dalam mobil ketika melihat Shena sudah turun. "Tahan dulu kangennya, biar nanti pas unboxing makin greget!"


"Ala ... bilang aja mau buru-buru ketemu sama Samuel! Ciiieee ... yang nggak sabar mau ketemu ayang beb," goda Shena yang membuat Melva semakin merajuk dan salah tingkah.


Usai kepergian Melva, Shena pun masuk ke dalam dan melihat orang tuanya sibuk untuk mempersiapkan tasyakuran sebelum acara hari H di mulai. Dia mendapatkan kecupan hangat dari Sandra—sang mama, kemudian dia melangkah menaiki tangga menuju kamar sesuai dengan perintah Sandra untuk segera beristirahat.


"Ingat, istirahat yang cukup, nanti kalau ibu ustazah datang kamu harus sudah rapi turun ya, Shen!" Sandra mengingat sang anak untuk acara pengajian nanti malam.


"Iya, Ma!" ucap Shena dengan patuh yang memberikan senyuman manisnya.


Di dalam kamar, Shena pun merebahkan tubuhnya dan melihat isi ponsel. Tertera nama Elvino yang sudah menghubunginya beberapa kali, lantas dia pun mengangkat panggilan video call tersebut sesudah merapihkan penampilannya.


"Halo, Shen!" Terdengar suara Elvino yang lebih dulu menyapa Shena.


"Hmm?" sahut Shena.

__ADS_1


"Kamu lagi ngapain sih? Kok cuma boneka teddy bear aja! Jangan bilang kamu lagi sibuk balas chatting cowok lain ya? Atau ada cowok lain yang masuk ke dalam kamar kamu?" tanya Elvino yang penasaran.


Ya, karena Shena memang sengaja mengarahkan layar ke arah boneka super jumbo saat melakukan panggilan video dengan Elvino, dia masih malu menunjukkan wajahnya sehabis dari pulang spa salon.


"Ya ampun, El ... kamu tuh ya, seuzon aja! Kan, kata Mama kita tidak boleh bertemu, ya karena itu aku ada di samping ponsel duduknya!" ucap Shena yang memberitahu Elvino.


Elvino sedikit kesal niat ingin melihat wanita yang dia rindukan tetapi nyatanya Shena justru bersembunyi dibalik kamera, hingga dia mengutarakan bahwa hanya sekedar menatap dari balik layar ponsel untuk melepas rindu yang kian menambah.


"Shen!" pinta Elvino yang memohon.


Shena pun menyuruh Elvino untuk menunggu sebentar, kemudian dia pun memberanikan diri tampil di layar kamera. "Dah, nih!"


"Ya ampun, Shen ...." Elvino terkejut dengan tingkah istri sirihnya, dia pun tertawa karena melihat sikap Shena yang menggemaskan. Tawanya pun lepas sampai gambar layar pun gemetar.


"Kok malah ketawa sih? Tadi maksa pengen liat, sekarang malah diketawain!" Shena mulai merajuk melihat Elvino justru tertawa terbahak-bahak.


"Ya abisnya, kamu ada-ada aja! Masa video call aja pake topeng monyet sih!" ucap Elvino yang tidak berhenti-hentinya tertawa.


"Ya sudah jadi video call–an gak? Kalau gak, matiin nih!" ancam Shena yang masih kesal.


"Eh, jangan, jangan, jangan! Ya lagian kamu tuh bikin gemes aja tingkahnya, aku lagi kangen mau liat wajah kamu, eh ... malah tunjukin topeng monyet!" ucap Elvino yang masih tertawa. "Untung jauh, coba kalau dekat. Aku udah serang kamu sekarang juga! Kan jadi makin nggak tahan pengen ketemu."


"Kan, kata Mama kita gak boleh ketemu, El!" ucap Shena yang mencoba menjelaskan pada Elvino agar pria itu berhenti tertawa.


"Ya, tapi gak gitu juga Shen," ucap Elvino yang kini mulai menetralkan tawanya. "Ya sudah, gini aja udah senang aku, yang penting bisa lihat kamu, ya ... walaupun dari balik topeng monyet."


"Tuh ,kan, masih dibahas lagi!" ucap Shena.

__ADS_1


Elvino pun mengalah, walaupun mereka harus video call dengan cara seperti itu tetapi dia merasa senang. Setidaknya rasa rindu yang sudah tak tertahankan terobati sedikit. Mereka pun saling berbincang untuk melepas rasa rindu satu sama lain, sampai akhirnya obrolan mereka harus segera berakhir karena Sandra sudah memanggil Shena lebih dulu untuk bertemu dengan ibu-ibu pengajian.


__ADS_2